Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
[an error occurred while processing this directive]
   

Cita Rasa Merdeka
Sabtu, 16 Agustus 2008 | 10:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Lagu Hari Merdeka terdengar di Restoran Airlangga, Hotel The Ritz-Carlton. Senin malam lalu, tamu restoran ini seolah terhibur oleh perayaan kemerdekaan di hotel yang berlokasi di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, ini.

Acaranya semarak dengan potong tumpeng oleh pakar kuliner William Wongso. Disaksikan Dean Seo, asisten manajer eksekutif hotel ini, dan Acil Ainun, pemilik Warung Selera Acil Ainun, yang menyajikan menu khas Samarinda, Kalimantan Timur.

"Ini momen pas, memperingati kemerdekaan dengan cita rasa merdeka pula. Sepanjang 11 sampai 24 Agustus, tamu bisa menikmati sajian Samarinda dan Bangka," kata Dean Seo di sela acara bertajuk "Indonesia = Samarinda + Bangka" itu. "Kami pilih kuliner Samarinda agar masyarakat mengenal daerah yang kaya masakan lezat," ujar William Wongso.

Adapun Hajah Ainun Djariah Asli bilang, "Kami beberapa kali diajak menyertakan menu Samarinda di hotel bintang lima. Sambutannya luar biasa. Mungkin cita rasanya merdeka dan pas di lidah tamu, termasuk kaum ekspatriat."

Kali ini Ainun menyajikan nasi bekepor yang dimasak di panci khusus mirip ketel. Selain itu, ada ikan lais goreng (mirip ikan lele yang hidup di Sungai Mahakam), sambal raja, rujak singkil, dan sate payau atau sate rusa (menu warisan Kerajaan Kutai Kartanegara), udang goreng karang melenu, oseng genjer, terong bakar astaga, hingga menu penutup es ketan pulut, putri selat, dan kue pecah di lidah.

William menegaskan, menu Samarinda bercita rasa pedas, asam, dan manis. "Rasanya mirip masakan Jawa Timur. Bagi orang bule, bukan masalah. Serasa mereka berselancar selera makanan Wong Arek," tutur pemandu acara kuliner sebuah stasiun televisi ini.

Dia menjelaskan, masakan Samarinda punya keunikan pada bahan dan bumbunya. Misalnya rujak singkil, yang cara penyajiannya mirip sayur lodeh di Jawa. Bedanya, ia memakai daun singkil, semacam daun murbai yang hanya tumbuh di perkebunan dan hutan Kalimantan.

Daun singkil sedikit bergetah dan mirip daun pepaya. Rasanya lembut dan gurih. Daunnya dimasak dengan santai, diberi bumbu cabai, bawang merah, bawang putih, lengkuas, sereh, dan potongan ikan gabus untuk menebarkan aroma saat disantap dalam keadaan panas.

Sate payau berbahan utama daging rusa hutan. Daging berbumbu kecap dan kacang ini lembut saat dikunyah. Selain lais, jenis ikan yang ada di Sungai Mahakam adalah jeulawat dan baung. "Karena kedua ikan tersebut memiliki banyak duri, kami tak menyajikannya lantaran bisa mengganggu selera makan tamu," kata Ainun.

Ada sambal raja yang biasa disajikan dalam cobek kayu. Tak hanya terdiri atas cabai merah dan tomat, sambal ini juga mengandung potongan udang, ikan, terong kuning, bawang lokio, bawang merah, dan jeruk cina.

William menambahkan, bumbu bawang lokio, daun ketumbar, honje, dan terong asam (bentuknya bulat kuning mirip tomat) adalah bumbu yang membikin masakan Samarinda unik, lezat, dan membuai lidah. Sambal ini sangat cocok bila digabung dengan nasi bekepor, yaitu nasi gurih yang dibuat dari campuran bumbu rempah-rempah, jeruk nipis, cabai, dan ikan asin. Sepintas mirip nasi liwet tapi tanpa santan.

Ainun bilang, menunya sangat digemari masyarakat Samarinda dan Jakarta. Warung Selera Acil Ainun ada di bilangan Pakubuwono, Kebayoran Lama. Pelanggannya beragam. Di era Soeharto, warung itu salah satu tempat makan favorit. Bulan lalu, saat pembukaan PON XVIII di Samarinda, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan sempat mampir ke sana.

Adapun menu Bangka dari Ibu Hajah Nur Elmi Sjahrum menyajikan beberapa keunikan. Di antaranya rangkaian menu lempah kuning ikan tenggiri, ikan lempah nanas, kerang santan belimbing, cumi lempah santan, pantiaw neras kuah ikan, lakso nasi, dan kuah santan.

Tertarik? Program spesial menu Samarinda dan Bangka ini bagian dari buffet Ritz-Carlton dengan banderol Rp 168 ribu++ untuk hari biasa dan Rp 198 ribu++ untuk akhir pekan. Nah, silakan Anda bersantap di semarak hari kemerdekaan.

Hadriani P

Dari Arsip Majalah TEMPO
Denda Pemda Bisa Ditawar  | 20 Oktober 1998
Pelecehan Hotel Menara Peninsula  | 07 Juni 1999
Menuntut Kecurangan Mayoritas  | 24 Mei 1999
Klarifikasi Hotel Borobudur Jakarta  | 23 Pebruari 1999
Surat Pembaca | 25 Oktober 2004
Profil Dan Usahanya | 10 Maret 1984
Menyewa Itu Praktis | 10 Oktober 1987
Hotel-hotel Yang (akan) Pindah ... | 24 September 1988
Obral Kamar Hotel | 01 Oktober 1988
Harga Izin di Balik Hill Top | 30 Juli 1988


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

300 Hotel Melati di Yogyakarta Terancam Kolaps
Hotel Bisnis Jakarta Sepi Pengunjung
Pembangunan JW Marriott di Medan Dihentikan
Jaringan Hotel Hilton Dijual
Bali Kelebihan Kamar Hotel
Vila Liar di Puncak Akan Ditertibkan
Penyembunyi Noor Din M Top Dipenjara Lima Tahun
Abu Sayyaf Divonis 12 Tahun Penjara
Hotel Mulia Dilaporkan Konsumennya
PHRI: Tingkat Hunian Hotel Tak Dipengaruhi Bom Kuningan

Website

Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI)

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk131043 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2008>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data