Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
[an error occurred while processing this directive]
   

Nada Tango Klasik
Jum'at, 15 Agustus 2008 | 09:22 WIB

TEMPO Interaktif: Trio musisi tersebut tampil pada acara bertajuk "The Works of Astor Piazolla" di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pada Senin malam lalu. Acara tersebut digelar sebagai salah satu pertunjukan pada rangkaian JakArt 2008 yang berlangsung selama sebulan penuh.

Selain tampil di Teater Kecil, Eduardo terlebih dulu mempertunjukkan kemampuannya meniup lute di Madania Progressive Indonesian School (8 Agustus), Sekolah Musik YPM, Bintaro (9 Agustus), dan Galeri Cipta II TIM (10 Agustus).

Sekitar 90 menit, mereka memainkan berbagai komposisi karya Piazolla, di antaranya Bordel 1900, Cafe 1930, Night Club 1960, termasuk komposisi 4 Portenos (empat musim) yang terdiri atas empat partitur. Keempat partitur terpisah itu menandakan empat musim, yakni Verano Porteno (musim panas), Otono Porteno (musim gugur), Invierno Porteno (musim dingin), dan Primavera Porteno (musim semi).

Piazolla adalah komponis ternama asal Argentina yang sudah berkarya sejak usia 8 tahun. Ia dikenal sebagai penggagas aliran nuevo tango, yakni gabungan unsur jazz, klasik, dan tango tradisional Argentina. Lahir di Mar de Plata, Argentina, pada 11 Maret 1921, Piazolla merekam komposisi pertamanya berjudul Marionette Spagnol (1931) pada piringan ponograf dengan alat musik akordion.

Bersama keluarga yang hijrah ke New York, ia mendapatkan banyak pengalaman bermusik, di antaranya belajar piano dari Bela Wilda (Hungaria) dan bermain film bersama Carlos Gardel, yang terkenal sebagai pengusung tango. Ketika ia pulang ke Argentina pada 1937, Piazolla terus mengembangkan kemampuan bermusiknya hingga akhirnya kembali ke New York dan membentuk Octeto Buenos Aires.

Sepanjang hayatnya, diperkirakan Piazolla telah menghasilkan 3.000 komposisi, tapi hanya 500 komposisi yang termaktub dalam lebih dari 25 albumnya, termasuk yang berkolaborasi. Ia selalu memberi warna tango klasik pada berbagai orkestra yang pernah diikutinya, seperti Troilo's Orchestra dan Teatro Colon Orchestra.

Penampilan Eduardo Tami, yang memainkan komposisi Piazolla, malam itu cukup memukau. Tampil mengenakan kaus, celana, dan sepatu yang semuanya berwarna hitam, Tami memainkan flute dengan apik. Ia menampilkan berbagai keterampilan mengolah nada dan tempo flute melalui tiupan napasnya. Kolaborasinya dengan Aisha dan Oliver disajikan dengan sempurna. Ciri tango terasa pada ritme yang danceable yang kadang mengentak dan kadang gemulai.

Pada komposisi Escualo, yang berarti hiu, ia memainkan teknik meniup flute dengan menutup setengah lubangnya sehingga mengeluarkan suara bervibra. Sahut-sahutan alat tiup, tekan, dan petik yang dimainkan tiga musisi asal negara berbeda memberikan pesan bahwa musik itu universal, termasuk ketika membawakan komposisi karya Tami sendiri: Rapsodia Portena Numero 2

Tito Sianiar


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Gambus Jawa
Stok Lama, Rasa Baru
Bersaing Jadi Idola Cilik
Tabuhan Ndjagong
Riuh Karnaval
Musik Segar Holy City
Pentas Toto Batal, Penggemar Marah
Melodi Shamisen
Konser di Pulau Napi
Rambut John Lennon Terjual Rp 441 juta
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk130921 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2008>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data