TEMPO Interaktif: Ilmuwan di Australia menawarkan menu baru yang merupakan peralihan dari burger isi daging sapi ke daging kanguru. Alasannya, perubahan itu membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.
Kanguru, meski sama-sama penyuka rumput, memiliki sistem pencernaan yang berbeda dengan hewan ternak lainnya seperti sapi dan domba yang sendawa dan kentutnya menyumbang konsentrasi gas metan di atmosfer.
Gas yang satu ini memiliki efek gas rumah kaca 25 kali lebih besar ketimbang karbon dioksida yang diemisikan dari transportasi dan industri.
Kanguru, hewan berkantong yang bisa melompat-lompat hingga secepat 70 kilometer per jam, bahkan berbeda dengan mamalia pada umumnya. Kanguru boleh dibilang tidak memproduksi gas metan sama sekali.
Hidrogen, produk sampingan dari fermentasi zat pati dan serat, tidak dilepaskannya begitu saja seperti yang dilakukan mamalia lainnya. Pada sistem pencernaan kanguru, ada mikroba berbeda yang berperan mengubahnya ke dalam bentuk asetat yang lalu digunakan sebagai sumber energi tambahan.
Mengurangi populasi ternak sapi dan domba lalu menggantinya dengan kanguru jelas akan menguntungkan Bumi. Di Australia, saat ini, sebanyak 14 persen emisi gas rumah kaca bisa berasal dari ternak-ternak sapi dan domba.
"Bahkan apabila Anda melihat negara lain seperti Selandia Baru, negara yang memiliki basis pertanian lebih besar lagi, sumbangannya bisa mencapai 50 persen," ujar Athol Klieve, peneliti di badan riset milik negara di Queensland.
Karena alasan itulah George Wilson dari Australian Wildlife Services menyarankan agar kanguru diternakkan lebih luas lagi dari 30 juta ekor yang ada saat ini, bukannya diburu untuk olahraga dan dianggap kompetitor ternak lainnya dalam merumput.
Lagi pula, kata Wilson, "Daging kanguru juga enak, hanya cita rasanya saja yang sedikit beda."
BBC/AFP/wikipedia