[an error occurred while processing this directive]
Tommy Soeharto:
PADA hari kemerdekaan Indonesia, Tommy menjadi tidak merdeka. Mengenakan seragam biru narapidana dengan tulisan Warga Binaan Lapas Batu Nusakambangan, pagi itu Tommy Soeharto terlihat berdiri di barisan narapidana dan mengikuti upacara dengan khidmat. Alangkah ironisnya. Enam tahun silam, dia masih mengikuti perayaan 17 Agustus di bawah dentuman meriam di Istana Merdeka bersama sang ayah yang begitu berkuasa, dikelilingi para menteri dan tetamu terhormat, dan kini dia mengikuti upacara di Penjara Batu Nusakambangan, bersama para narapidana lainnya.
Toh, Hutomo Mandala Putera alias Tommy Soeharto masih saja banyak mengumbar senyum. Dia mengikuti perintah komandannya dengan takzim, bersiap atau istirahat juga, pada saat penghormatan bendera.
Saat Bendera Merah Putih dikibarkan dan dinyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, wajah Tommy terlihat sedih dan matanya berkaca-kaca. Demikian pula saat komandan upacara memerintahkan peserta upacara mengheningkan cipta, muka Tommy menunduk sambil memejamkan mata.
Usai upacara, puluhan ibu-ibu Dharma Wanita Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu Nusakambangan berebut ingin bersalaman dengan Tommy. "Mas Tommy, Mas Tommy," seru seorang ibu yang rela sepatunya lepas dan tidak menghiraukan desakan ibu lainnya yang mengerumuni selebriti baru di Nusakambangan ini.
Bergantian bersalaman, satu dua orang sempat menanyakan kesehatan mantan presiden Soeharto dan keluarga Cendana lainnya sambil berkata. "Titip salam buat Mbak Tutut, ya, dan semoga Pak Harto cepat sembuh," kata seorang ibu yang lain.
Pada hari kemerdekaan itu, Tommy langsung mendapatkan remisi satu bulan. Ecep Suwardani Yasa dari TEMPO Jumat silam berhasil berbincang dengan putra kesayangan mantan presiden Soeharto tepat seusai salat Jumat--ketika puluhan jemaah berebut bersalaman dengan Tommy--dan perbincangan dilanjutkan seusai upacara bendera 17 Agustusan Sabtu pekan lalu, juga ketika para ibu Dharma Wanita LP Batu berebut bersalaman dengan si narapidana ganteng itu. Berikut petikannya.
Bagaimana kondisi kesehatan Anda?
Dua hari di LP Batu Nusakambangan, sudah betah?
Maksudnya, apakah Anda sudah bisa menyesuaikan diri selama dua hari ini?
Tapi sekarang Anda sudah mulai betah kan?
Lalu apa kegiatan Anda sehari-hari mulai kemarin?
Anda terpukul dengan pemindahan ini?
Bagaimana cara Anda mengusir kejenuhan?
Apakah Anda puas dengan keputusan hakim?
Kenapa Anda memutuskan untuk tidak melakukan banding?
Apa rencana Anda selanjutnya?
Selamat ya, Anda mendapat remisi satu bulan.
Keluarga di Cendana sudah ada yang berkunjung?
Kapan mereka berkunjung kemari?
Bagaimana kabar mereka, apakah rela melihat Anda di sini?
Kabar kesehatan Pak Harto yang Anda dengar selama ini bagaimana?
Rindu sama Pak Harto nggak?
[an error occurred while processing this directive]
“Bagaimana Mau Menyesuaikan Diri?”
Bagaimana kabar Anda?
(Tersenyum) Seperti yang Anda lihat, ya, beginilah. Wartawan itu kok ada di mana-mana ya. Di sini, di Nusakambangan, juga ada. Pokoknya, di mana-mana ya?
Baik.
(Ia mengerutkan dahi). Maksudnya, betah bagaimana? Apanya yang betah?
Ya, seperti yang Anda lihat (Tommy menunjukkan tangannya kepada beberapa rekannya sesama narapidana yang menyalaminya). Sebagian sudah berkenalan, sebagian lagi belum. Kalau di sini bagaimana mau cepat-cepat menyesuaikan diri, kondisinya kan masih seperti ini.
Ya, namanya juga begini, dibetah-betahkan saja.
Belum. Belum banyak, hanya begini-begini saja.
(Ia terdiam beberapa saat) Ya, mau bagaimana lagi, memang sudah begini.
(Tommy tidak menjawab dan hanya tersenyum kecil).
Gimana ya, sulit saya mengatakannya. Tapi prinsipnya seperti yang saya sampaikan beberapa waktu lalu setelah putusan jatuh. Garis besar dan kesimpulannya, ya, seperti itu jawabannya.
Itu juga agak sulit menjawabnya. Tapi kita lihat nanti saja bagaimana perkembangannya.
Seperti ini (kembali tertawa). Seperti yang Anda lihat, dan kita tunggu saja. Sudah dulu ya, saya mau masuk ke kamar dulu, saya mau istirahat dulu. Sudah ya.
Selamat apa, saya nggak tahu. Coba saja Anda tanya ke kepala LP, apakah saya mendapatkan remisi atau tidak.
Belum, belum ada.
Nggak tahu.
Baik. Baik.
Baik.
Sudah, sudah. Sudah ah, saya mau ganti baju dulu. Sesak, kekecilan. Saya pamit dulu ke kamar, ya. Mau ganti baju dulu. (Selesai menyalami ibu-ibu Dharma Wanita, selanjutnya Tommy bergegas menuju kamar tahanannya dan hingga siang tidak terlihat keluar).
Catatan: Artikel ini diambil dari Majalah Tempo Edisi 19 – 26 Agustus 2002.