[an error occurred while processing this directive]

Tamsil Linrung
Sasarannya Amien Rais

AWALNYA mungkin tak banyak yang tahu siapa Tamsil Linrung. Namun, sejak pertengahan bulan lalu namanya tiba-tiba menjadi terkenal. Foto wajahnya terus bermunculan di televisi maupun media cetak seiring tersiarnya kabar yang menyebutkan dirinya bersama dua orang temannya Agus Dwikarna, dan Abdul Jammal Balfas ditangkap oleh pihak kepolisian Filipina, Rabu (13/3) lalu. Proses penangkapan itu sendiri diwarnai sejumlah kejanggalan, karena mereka sendiri sudah membantah telah membawa bahan peledak masuk ke Manila.

Lebih menarik lagi, ternyata kasus penangkapan mereka terkait dengan masalah politik dalam negeri Indonesia. Namun Pengadilan Filipina menuduh mereka terkait terorisme, sehingga terancam hukuman penjara selama 14 tahun. Dihubungi lewat telepon akhir bulan lalu, Tamsil Linrung berbicara panjang-lebar kepada Multhazam dari Tempo News Room:


Bagaimana keadaan Anda?
Baik. Alhamdulillah kami bertiga di sini keadaannya baik. Sekarang saya sedang kumpul di luar, barusan makan siang dengan komandan di sini.

Tidak ada masalah terhadap perlakuan aparat Filipina?

Tidak ada masalah. Bahkan tadi malam kita kumpul dengan keluarga-keluarga mereka. Datang di sini. Rencananya, besok malam mereka mau mengajak pesta di sini bersama keluarga.

Pesta apa?

Ya, mereka bilang, mereka bikin pesta di sini kecil-kecilan.

Kok sepertinya Anda diperlakukan istimewa sekali?

Saya melihat cukup bagus perlakuan mereka (aparat) terhadap kami.

Kemarin Anda mengatakan bahwa bahan-bahan laporan tentang Anda sebenarnya berasal dari dalam negeri?

Ya. Saya terkesan bahwa ini sarat dengan rekayasa. Perlakuan polisi di sini juga menunjukkan indikasi seperti itu. Bahwa mereka itu, sepertinya hanya terbebani saja dengan order dari pemerintah Indonesia. Saya kira temen-temen wartawan bisa mempertajam pertanyaan di sana tentang hal ini, terutama kepada Pak Hendro. Karena dialah orang yang pertama mengetahui saya ditangkap. Pada Rabu malam saya ditangkap, Kamis pagi mereka sudah menghadap Pak Amien Rais meminta saya dipecat dari PAN, supaya organisasi PAN tidak terkait karena saya sudah tertangkap basah membawa bom dan saya sudah memberikan pengakuan bahwa bom tersebut akan diledakkan di Poso. Begitu pernyataan beliau kepada Pak Amien, sehingga Pak Amien barangkali panik juga ketika di sampaikan di rapat PAN. Lalu muncullah berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa saya segera dipecat, tetapi ada juga yang berpendapat saya jangan dipecat, dinyatakan non-aktif. Bermacam-macam. Tetapi ini Pak Hendro yang seharusnya memberikan penjelasan mengapa dan darimana dia mendapat informasi bahwa kami sudah tertangkap basah dan memberikan pengakuan.

Hubungan Anda seberapa dekat dengan Pak Amien Rais?

Saya rasa kalau saya menjawab terlalu subyektif. Tetapi saya kira banyak pihak yang bisa menjelaskan kedekatan saya dengan Pak Amien Rais. Jauh sejak sebelum dia menjadi Ketua Umum PAN saya sudah mengenal. Pak Fatwa mungkin juga banyak tahu tentang kedekatan kami. Tahun 1986 saya sudah bertemu dengan beliau. Pak Natsir (mantan Perdana Menteri Muhammad Natsir) lah yang mempertemukan saya dengan beliau.

Tentang kecurigaan keterlibatan pihak pemerintah Indonesia, Anda punya bukti-bukti lain?

Pertama kali saya ditangkap saya langsung diberitahu polisi, 'Kami sudah menunggu Anda dari jam empat (sore)'. Sementara saya ditangkap jam 7.25 malam. Polisi memberitahu saya bahwa penangkapan ini bukan masalah kriminal, tetapi masalah politik, ini masalah dalam negeri Anda. Apapun yang diinginkan oleh pemerintah dalam negeri Anda itu akan kami lakukan. Kemudian, saya tanya kenapa Anda tidak menghubungi embassy (kedutaan) kami. Mereka jawab, "Sudah, pihak Jakarta sudah tahu. Apakah mereka sudah menghubungi kedubes, kami tidak tahu." "Kalau begitu saya akan menghubungi lawyer." "Oh tidak perlu, masalah ini akan selesai tanpa lawyer." Dia berkata seperti itu.

Bagaimana kronologisnya sampai Anda ditangkap karena membawa bom?

Saya tidak tahu secara detail. Karena saya berada di sini karena urusan bisnis. Dan saya tidak membawa itu (bahan-bahan yang diduga sebagai bahan peledak). Saya menyaksikan sendiri polisi yang memasukkannya ke dalam koper kami.

Bisa Anda ceritakan secara detail keadaan di bandara waktu itu?

Pertama kali ketika kami datang, begitu kami masuk, sudah banyak polisi. Mereka kemudian menggantikan posisi petugas imigrasi. Jadi polisi ini berpakaian preman. Sedangkan petugas imigrasi kan jelas, berpakaian seragam, ada identitas. Ini tidak ada. Sedikit saya memberikan background. Disini, di Manila, suasananya sangat tidak memungkinkan membawa apa yang dituduhkan kepada kami. Kita masuk pasar pakai X-ray, kita masuk hotel pakai X-ray barang-barang segala macam dibuka, diperiksa. Jadi, apa saya senekat itu atau saya gila. Saya kira tidak. Sehari setelah saya ditangkap, saya minta diperiksa, saya normal. Dan ketika sampai di airport, seperti itulah kondisinya. X-ray lewat, ditanya mana barang saya? Ketika barang yang akan dibuka itu, milik orang lain, itu tidak jadi dibuka. Ditunggu barang saya, baru dibuka dan dimasukkan (bahan-bahan yang diduga bahan peledak). Yang tadinya saya kira heroin. Karena bentuknya seperti bubuk, ukurannya kecil, diameter 5 cm bulat-bulat, kayak kelereng itu. Kemudian dia tanya, apa ini? Saya spontan langsung saya jawab, "This is yours."

Jadi Anda melihat sendiri?

Saya lihat sendiri. Koper saya tidak dibongkar kok. Langsung masuk tangannya masukkan barang itu. Kemudian kami dibawa ke suatu ruangan, dan tas kami belakangan. Tasnya saudara Agus ndak sempat dibuka waktu diperiksa, dibawa dan disuruh buka itu si Agus. Coba kau buka kamu punya tas! Bermacam-macam isinya.

Apakah isinya sama, antara tas Anda dengan Pak Jamal dan Pak Agus?

Tas saya kecil, kayak tas punggung. Tasnya Jamal juga kayak gitu. Kalau tasnya Agus agak besar, isinya banyak macem-macem. Disitu barangkali masuk detonator atau apa. Kemudian saya dibawa ke polisi. Disana tas kami dibongkar kembali dan dicatat apa isinya. Kemudian saya tanda tangani (dokumennya) dan saya minta kopiannya. Waktu saya periksa, tidak ada satu tulisan pun yang menyebut di tas saya ada bahan-bahan seperti yang ditulis di koran.

Apa benar ketika penangkapan sudah banyak wartawan yang menunggu?

Tidak ada wartawan. Yang ada orang-orang yang membawa kamera. Ternyata mereka polisi yang menyiapkan. Mereka membawa kamera handycam. Jadi tidak ada wartawan. Seandainya ada wartawan, barangkali malamnya sudah ada di televisi atau paginya sudah ada di koran.

Ada spekulasi yang menyebut penangkapan Anda untuk menyudutkan Amien Rais bahwa dirinya berhubungan dengan terorisme. Bagaimana menurut Anda?

Saya melihat arahnya memang ke sana. Bukan ke saya, tapi arahnya menutup peluang Pak Amien Rais untuk ya mungkin menjadi orang nomor satu di Indonesia. Karena itu dijebak Pak Amien dalam berbagai sisi. Di sisi lain, diperlihatkan Pak Amien itu tidak becus. Orang belum dibuktikan bersalah sudah mau dipecat. Itu satu kelemahan yang ditunjukkan. Kalau ada yang membuktikan keterkaitan saya, lha ini kader Amien Rais. Arahnya, saya melihat ini sarat dengan muatan politik. Ini adalah politisi busuk dan intel busuk yang bergabung.

Lalu menurut Anda apa lembaga yang bisa mempengaruhi pihak keamanan Filipina?

Saya tidak tahu apakah kekuatan kelembagaan atau kekuatan individu. Saya tidak menduga-duga adanya kekuatan kelembagaan, tetapi yang jelas secara personal ada politisi busuk dan intel busuk yang bermain. Belum bisa dilihat ke arah kelembagaan.

Anda sudah diperiksa pihak kepolisian Filipina?

Sudah. Dan tidak pernah ditanyakan masalah yang dituduhkan itu.

Apa saja yang ditanyakan kepada Anda?

Mereka mengajak diskusi. Kita diskusi aja deh, masalah politik di Indonesia. Masih bertahan nggak pemerintah Indonesia sekarang sampai 2004. Saya bilang, kalau masalah itu saya tidak tahu. Saya konsentrasi ke masalah bisnis.

Tentang masalah yang ada hubungan dengan bahan peledak tidak ditanyakan kepada Anda?

Tidak sama sekali. Sampai sekarang ini kita wawancara tidak pernah ditanyakan masalah itu. (Suara Tamsil tiba-tiba tajam menekan). Yang ditanyakan masalah organisasi terlarang. Mereka bertanya tentang ICMI, Dewan Dakwah (Dewan Dakwah Islamiyah). Mereka bilang, kita diskusi-diskusi saja.

Tentang dugaan keterlibatan Anda dengan kelompok garis keras apakah ditanyakan kepada Anda?

Tidak pernah.

Keadaan Anda di penjara bagaimana saat ini?

Baik. Baru saja kami diajak makan bersama dengan pimpinan di sini. Tadi malam, kita diajak karaoke oleh istri dan anak-anak mereka.

Kesannya kok Anda tidak menjadi tahanan. Malah seperti seorang tamu?

Ya, sepertinya memang begitu. Kita seperti mempunyai seorang bodyguard di sini. Kita diajak makan di pantai, tetapi dikawal oleh tentara yang banyak.

Apakah Anda menduga BIN (Badan Inteligen Negara) dan Pak Hendropriyono terlibat dalam penangkapan Anda?

Saya tidak menuduh BIN-nya. Tapi saya mempertanyakan, Pak Hendro kok begitu cepatnya menghadap Pak Amien Rais dan meminta saya dan menyampaikan ke Pak Amien, bahwa saya sudah tertangkap basah dan mengakui bom yang saya bawa itu untuk meledakkan Poso. Itu pernyataan mereka ke Pak Amien Rais. Pernyataan itu pula yang mereka sampaikan ke Dewan Dakwah.

Anda mendengar sendiri dari Pak Amien Rais?

Orang yang cukup dekat ke Amien Rais menyampaikan kepada saya. Dan saya yakin kalau Pak Amien ditanyakan tentang hal itu, saya yakin beliau tidak akan membantah. Begitu juga kalau hal itu ditanyakan kepada Dewan Dakwah, Pak Hussein Umar saya yakin tidak akan membantah. Saya tidak perlu sebut sumbernya siapa. Termasuk polisi yang dekat saya di sini, saya tidak perlu sebut nama.

Pak Amien Rais menyebut ada keterlibatan Jakarta dalam penangkapan Anda ...

Saya kira memang Pak Amien Rais yang menjadi sasaran. Sebenarnya sasarannya bukan saya.

Jadi Anda menjadi semacam sasaran antara?

Ya. Mudah-mudahan Pak Amien Rais bisa menyadari semua ini.

Menurut Anda apakah Pak Amien Rais adalah orang yang berbahaya?

Sejauh yang saya kenal, dia orang baik. Tergolong terbaik di Indonesia. Dan beliau tidak mempunyai track record yang mengharap kita kepada penilaian yang menyebut orang berbahaya.

Anda didampingi pengacara waktu diperiksa polisi?

Saya didampingi pengacara. Saya punya pengacara di sini. Namanya Antoni Moreno.

Siapa yang membayari pengacara?

Yang menghubungi pengacara itu temen-temen dari Thailand dan Filipina.

Temen bisnis Anda?

Ya. Temen bisnis yang baru saya kenal, yang dikenalkan oleh Dr. Prasan, karena kita di sini atas undangan Dr. Prasan.

Kapan Anda masuk ke pengadilan?

Kemungkinan tanggal 3 (April). Tetapi menurut berita-berita yang disampaikan oleh kepolisian di sini, kami tidak akan sampai ke pengadilan. Sekarang lagi dibicarakan bagaimana mencari jalan tengah, bagaimana tidak sampai ke pengadilan. Tinggal kami dinegosiasi apakah kami mau melakukan tuntutan balik atau bagaimana.

Perasaan Anda sendiri saat ini bagaimana?

Saya merasa baik-baik saja, saya merasa tidak bersalah. Hari-hari pertama saya agak mencekam karena kami tidak bisa berhubungan dengan kedutaan, dengan pihak lawyer. Tetapi ada polisi yang menjamin bahwa kami tidak akan diperlakukan kasar. Yakinlah, meskipun Anda tidak diperkenankan berhubungan dengan lawyer.

Sejak kapan pihak KBRI menghubungi Anda?

Saya yang menghubungi KBRI. Hari Jumat sore saya hubungi. Saya bertemu dengan Pak Sangi Langitan, setelah itu saya dihubungi Pak Freddy. Saya lupa apa posisi dia, tetapi saya diberitahu posisinya sebagai staf. Kemudian Sabtu-nya, bersama pihak Konsulat mereka mencoba bertemu kami, tetapi mereka tidak diperkenankan polisi bertemu kami. Sehingga hari Senin kami baru bertemu dengan mereka termasuk Pak Dubes. Beberapa pihak datang, seperti Pak Suratmin (Dubes), Pak Chaerul, Pak Triyogo dan Pak Freddy sendiri... Tetapi seorang polisi sendiri sebenarnya memberitahu saya bahwa orang Indonesia sudah tahu. Orang yang paling berpengaruh di Indonesia sudah tahu.
Apakah disebut siapa orang yang berpengaruh di Indonesia itu?
Kemudian dibukakan ke saya file dia kasih lihat namanya, AM Hendropriyono.
Ya. Saya diperlihatkan bahwa nama ini yang sudah mengetahui disana (Jakarta). Ada file dibuka kemudian ditunjukkan, dibuka-buka beberapa lembar, kemudian dikasih lihat, nih!

Di mana Anda ditunjukkan file itu?

Waktu di kantor polisi.

Itu dokumen apa?

Saya tidak begitu memperhatikan. Ada dua dokumen dalam map tertutup, kayak amplop besar lah. Kemudian dibuka-buka, di lembaran ke berapa itu ada nama.

Disebut sebagai apa Hendropriyono dalam dokumen tersebut?

Tidak disebutkan. Hanya dikasih nama. Tetapi orang yang memberitahu itu mengatakan jangan disebutlah. Hanya untuk Anda saja. Dan Anda ketahui bahwa ini orang sudah tahu bahwa Anda ditahan.

Jadi itu bukan semacam surat pengantar yang ditandatangi oleh Hendropriyono?

Tidak. Itu semacam report yang sampai ke dia, yang menunjukkan nama itu sudah mengetahui penahanan saya. Karena saya berkeras, saya merasa bahwa pemerintah Indonesia belum tahu, embassy belum tahu, lawyer saya belum ada. Tetapi dia mencoba menyakinkan, bahwa ini bukan resmi pemberitahuan, namun yakinlah bahwa di Indonesia sudah ada yang tahu. Dan dia menyampaikan ke saya, Anda tidak perlu khawatir bahwa Anda tidak akan mendapatkan ancaman, tekanan di sini. Kalau diajak kemana, ikuti saja. Tapi Anda berhak untuk diam, kalau tidak mau bicara ya tidak apa-apa.

Berapa lama selisih antara Anda ditangkap dengan Anda mengetahui bahwa Hendropriyono sudah mengetahui penangkapan Anda?

Malam (penangkapan) itu, agak menjelang pagi kayaknya.

Kamis pagi?

Ya. Setelah temen-temen saya diperiksa. Saya kemudian diajak ngobrol, dia menyampaikan, "Kami tahu Anda di Jakarta sebagai salah seorang pimpinan PAN", dia mengatakan seperti itu, "dan kami (para polisi tersebut) ingin berbincang-bincang mengenai situasi politik saja." "Sudah lah kita lupakan persoalan ini, saya tidak mau terlibat masalah Anda ini. Ini masalah politik. Anda bukan penjahat, kami tahu. Masalah Anda masalah politik dan lebih banyak ditentukan di dalam negeri Anda sendiri.

Bagaimana dengan skenario untuk meyudutkan Amien Rais?

Saya merasakan bahwa skenario lebih besar untuk menyudutkan Pak Amien. Waktu saya ke sini (Filipina), saya dikasih tahu oleh salah seorang teman yang cukup dekat dengan seseorang ..., saya tidak perlu menyebut namanya lah. Dia menyampaikan bahwa orang tersebut sangat gamang ketika mendengar Pak Amien Rais bertemu dengan Gus Dur. Dan dia juga menyesalkan kenapa harus terjadi pertemuan antara Syafii Maarif dengan Hasyim Muzadi. Karena waktu itu saya sedang di Makassar, saya menghubungi dia.***
[an error occurred while processing this directive]

[an error occurred while processing this directive]