[an error occurred while processing this directive]

Sumita Tobing, Direktur Utama TVRI
"Saya Belajar di TVRI Sehingga Saya Tahu Kalau Mereka Mampu"

Direktur Utama TVRI, Sumita Tobing, membuat nama TVRI kembali menyeruak ke media massa. Di saat TVRI menghadapi televisi swasta yang lebih muda, segar, dan menarik, Sumita Tobing yang baru memimpin beberapa bulan malah menghadapi penentangan dari dalam. Ia juga mengeluhkan manajemen TVRI yang berantakan, sehingga melakukan audit menyeluruh terhadap "isi" stasiun televisi tertua itu.

Kepada Purwanto dari Tempo News Room, Sumita Tobing mengungkapkan optimisme bahwa masalah di TVRI akan selesai. Ia percaya bahwa sumber daya manusia di TVRI bisa bersaing dengan awak televisi swasta. Malah, katanya, semua pelatihan di televisi swasta dilakukan oleh orang TVRI. Ia membenahi manajemen, audit dilakukan. Berikut petikannya:


Bagaimana Anda memaksimalkan aset TVRI yang ada sekarang ini?
Itu harus diaudit dulu, karena TVRI tidak ada data base agar diketahui seperti apa petanya.

Bagaimana dengan penolakan dari dalam?

Mau ditolak nggak ditolak, saya tetap harus jalan karena ada intruksi surat Menneg BUMN 9 Okt 2001, yang mempersilakan melakukan audit menyeluruh dan langkah-langkah restrukturisasi.

Kapan pelaksanaan audit dilakukan?

Tanyakan dengan Iwan Uyun, sebagai ketua atau corporate secretary-nya, tetapi dia sudah lapor sama saya sekarang sudah sampai pra kualifikasi, itu saja.

Kapan akan selesai?

Enam bulan, kalau nggak delapan bulan, jika tidak selesai juga berarti mereka (peserta tender) dianggap kalah.

Sampai sekarang berapa yang ikut tender?

Saya belum tahu, yang tahu ketua panitianya, silakan tanya dia.

Apakah dengan audit sudah bisa memperbaiki kinerja dari sumber daya manusia TVRI?

Dengan audit tersebut, kemudian akan kita dapat petanya, kemudian akan dibuat business plan-nya. Karena yang di audit tersebut termasuk struktur organisasinya, manajemennya agar simultan semua.

Sebenarnya, seberapa bagus sumber daya manusia yang ada di TVRI?

Saya berlatih dan belajar di TVRI sehingga saya bisa tahu kalau mereka mampu. Tetapi kalau tak ada persaingan, saya ambil misal, parang maka parang itu akan tumpul akibat tidak adanya persaingan. Tetapi ilmunya ada, yang membuat pelatihan di tv swasta, sekolah, semuanya orang TVRI.
Yang jelas, sebenarnya sudah siap, tetapi cuma karena mereka tidak pernah diberi pentas untuk fight, saya yakin banyak yang akan saya kasih pentas.

Mengapa saat ini sedikit yang menonton TVRI dibanding dengan televisi swasta?

Di Jakarta pemancarnya tua dan menaranya, lebih tinggi Hotel Mulia sehingga coverage-nya cuma 20 persen. Kita sudah membangun pemancar dari Gunung Tela - yang akan mengudara awal Maret dengan kualitas gambar yang sama dengan gambar tv swasta - dengan coverage 100 persen. Spesifikasinya, tingginya 800 meter diatas muka laut, UH-nya 800 kWatt.

Bagaimana pembiayaan TVRI?

Dana APBN hanya 10 persen [dari kebutuhan] sehingga TVRI defisit 90 persen. Dia [TVRI] disuruh untuk mencerdaskan bangsa, sedangkan iuran tidak jelas karena bukan pajak. Sementara rakyat makin pintar. Untuk TV swasta kita tonton, tidak perlu bayar sedang TVRI masak bayar. Satu-satunya cara, saya lihat adalah dengan iklan tidak mungkin dari iuran.

Bukankah televisi swasta membayar kepada TVRI?

Sejak menjadi jawatan - karena TVRI sudah perusahaan juga - pihak swasta tidak mau bayar dengan alasan krisis moneter. Sedangkan untuk selanjutnya, kami sudah menyewa pengacara, biarlah itu menjadi urusan pengacara, untuk di somasi ke pengadilan. ***

[an error occurred while processing this directive]