[an error occurred while processing this directive]
Suhardiman :
Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung akhirnya dinyatakan bersalah. Ia divonis tiga tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dua pekan lalu. Bekas Mensesneg ini, jelas menyatakan banding atas putusan tersebut. Artinya, hingga saat ini keputusan hakim itu belum berkekuatan hukum tetap. Ia masih bebas melenggang memimpin Partai dan DPR. Bahkan, tak sampai seminggu setelah itu, Akbar tetap bisa pergi ke Vietnam memimpin delegasi parlemen dalam pertemuan antar-parlemen se ASEAN.
Protes berdatangan. Upaya penggusuran dari kursi pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat pun bergaung di Senayan. Tak hanya itu. Posisi Akbar di Golkar pun sempat dipersoalkan. Aroma persaingan untuk berebut kursi nomor satu partai utama Orde Baru itu merebak. Beberapa pihak, baik terbuka maupun diam-diam, melancarkan intrik politik. Mereka khawatir status Akbar sebagai terpidana akan berpengaruh terhadap citra Golkar. Ujungnya, mereka takut hal itu akan menurunkan perolehan suara partai dalam pemilihan umum 2004 mendatang.
Tetapi tak semua tokoh di Golkar khawatir. Suhardiman, sesepuh dan pendiri partai itu, dengan tegas menyatakan dirinya tak khawatir sedikitpun. Tokoh Sekretariat Bersama 1964 dari Soksi (Serikat Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia) itu tetap yakin partainya justru akan memperolah keuntungan dari situasi saat ini. “Militer juga tetap akan mendukung kami,” ungkapnya kepada Yostinus Tomi Aryanto dari Tempo News Room yang menemui pria yang seluruh rambutnya sudah memutih itu. Pertemuan berlangsung di rumahnya di Jalan Kramat Batu Nomor 1, Cipete, Jakarta Selatan, Selasa (10/9) pagi.
Wawancara dilakukan di gazebo di taman depan rumahnya yang luas. Kediaman pimpinan Kino (Kelompok Induk Organisasi) itu seluruhnya ada tiga bangunan utama dan dua bangunan lebih kecil, lengkap dengan kolam renang. Suara aneka jenis burung piaraan seperti anis, poksai dan cucak rawa mengiringi wawancara dengan Suhardiman yang pagi itu mengenakan setelan hitam bermotif garis-garis putih lebar. Tujuh unit mobil terlihat di parkir di halamannya. Salah satunya adalah sebuah sedan BMW seri 5 keluaran terbaru warna biru, yang seusai wawancara digunakan oleh tuan rumah untuk menghadiri sebuah acara.
Meski tanda-tanda tremor mulai terlihat dari gerak tangannya, jelas sekali Suhardiman masih bugar. Wajahnya tetap cerah dan bersemangat dalam menjawab berbagai pertanyaan. Petikannya.
Tapi yang kami dengar, dalam pertemuan di Peninsula itu tidak seratus persen seperti yang Anda katakan? Dukungan paling solid saat ini di daerah mana? Tetapi apakah status Akbar itu tak berpengaruh kepada publik terhadap citra Golkar, khususnya dalam perolehan suara pada pemilu mendatang? Apakah dukungan organisasi yang dulu disebut KINO masih solid seperti sebelumnya? Tapi mosok perpecahan seperti yang terjadi pada Kosgoro dan MKGR tak akan berpengaruh pada Golkar? Tentu kecuali MKGR-nya Mien Sugandhi kan? Bagaimana soal dukungan militer. Apakah mereka masih akan melihat Golkar sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan dan, karenanya, harus didukung? Melihat konstalasi politik sipil saat ini, di mana kekuatannya tak lagi hanya didominasi Golkar, apakah mungkin TNI hanya memberikan dukungannya pada satu kekuatan saja? Bagaimana dengan kekuatan Islam? Tokoh-tokoh tua Golkar, seperti Anda, kembali turun gunung. Apakah ada yang gawat di Partai ini? Tetapi apa keperluannya? Jadi jelasnya, langkah itu dilakukan untuk mengimbangi kekuatan HMI di Golkar? Kemungkinan menggusur Akbar dari kepemimpinan Golkar? Jadi turunnya tokoh-tokoh seperti Anda tak ada hubungannya dengan itu? Tokoh lain seperti Try Sutrisno bagaimana? Jadi kalau kemudian tokoh seperti Pak Try menyatakan dukungannya untuk pimpinan tertentu, misalnya, apakah itu masih signifikan? Apakah Akbar Tandjung masih akan aktif mengoperasikan partai sehari-hari? Kabarnya ada skenario non-aktif atau sejenisnya? Tetapi bila nanti vonisnya berkekuatan hukum tetap, lalu Akbar harus masuk penjara? Anda yakin benar Golkar dan Akbar akan lolos dari semua ini? Tak ada antisipasi jika angin politik berubah dan vonis dipercepat? Kasus Manulife bisa cepat? Jadi Agung Laksono pasti tak akan ambil alih posisi Akbar?
[an error occurred while processing this directive]
“Golkar Bakal Nomor Satu dalam Pemilu Mendatang”
Seberapa besar pengaruh jatuhnya vonis terhadap Akbar Tandjung terhadap Golkar?
Kita harus membuat check point tentang apakah vonis terhadap Akbar Tandjung di pengadilan itu berdampak terhadap intern organisasi Golkar. Sampai sekarang terbukti tidak ada dampak yang negatif. Hal ini bisa kita saksikan ketika mengadakan pertemuan konsultasi antara Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Daerah di Hotel Peninsula, Jumat pekan lalu. Daerah-daerah itu seratus persen mendukung kepemimpinan saudara Akbar Tandjung. Ini tentunya bisa kita cek lebih lanjut nanti pada rapat pimpinan Golkar, yang akan dilaksanakan Oktober mendatang. Tetapi karena terlihat bahwa seratus persen DPD solid, sudah bisa digambarkan tidak akan mengganggu (posisi Akbar). Sehingga para pimpinan di DPP (dipastikan) akan memperkuat keputusan rapat pimpinan tahun lalu.
Lalu masih harus kita cek lagi saat hal ini akan dibawa pada mekanisme Musyawarah Nasional Luar Biasa. Di sini, menurut ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, bisa dilakukan jika ada paling tidak ada 2/3 dari DPD yang memintanya. Sedangkan (saat ini) seratus persen DPD masih mendukung Akbar. Jadi kepemimpinan Akbar Tandjung sebagai ketua umum DPP Golkar tetap masih solid.
Bukan. Jadi begini. Karena waktunya terbatas, jadi baru ada 20 DPD atau 2/3-nya yang sempat mengemukakan pendapatnya. Akhirnya diputuskan untuk tidak diteruskan. Yang lainnya sama saja mendukung. Lalu mereka mengadakan pernyataan tertulis untuk dukungannya.
Yang paling kuat, berdasarkan pemilu lalu, adalah di Sulawesi Selatan, yang lalu dikembangkan dengan Iramasuka (Irian, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, red.). Lalu kedua basisnya Golkar, yang terpenting, tanpa mengurangi peran daerah lainnya, adalah di Jawa. Terutama lagi di Jawa Barat yang dekat pusat ini.
Kita melihat, pada pemilu lalu, PDI Perjuangan nomor satu. Golkar nomor dua, lalu PPP, PKB, dan PAN. Mari kita satu per satu melakukan prakiraan politik untuk 2004. Kira-kira PDIP masih akan bertahan dengan perolehan suara seperti yang lalu atau tidak. Saya kira, dengan pikiran yang sehat dan dengan segala maaf kepada tokoh-tokoh PDIP, (mereka) pasti akan turun. Karena melihat keadaan internal PDIP sendiri. Ini begini dan begitu (perpecahan), pasti akan turun. Lalu, sebelum kita bicara Golkar, bagaimana dengan peraih nomor tiga, PPP. Mereka telah pecah. Ada dua kelompok. Ini pasti berpengaruh dan mengurangi perolehan suara mereka. Lalu PKB. Mereka juga pecah. PAN saya kira masih jauh. Sekarang Golkar bagaimana? Ada tiga kemungkinan: seperti yang lalu, turun, atau meningkat. Katakanlah Golkar masih seperti perolehan yang lalu, sementara PDIP dan yang lain turun, dan pengaruh bahwa Akbar Tandjung tidak kena apa-apa, tentu akan naik. Jadi, menurut perkiraan saya, tanpa over acting, Golkar akan naik dan menjadi peraih nomor satu dalam pemilihan umum mendatang. Tapi ini tidak bicara mengenai pemilihan presiden dan yang lainnya.
Mengenai trikarya, Kino-kino kan tinggal tiga: Kosgoro, Musyawarah Kekeluargaan dan Gotong Royong-MKGR, dan Soksi. Gakari (Gabungan Karya Republik Indonesia, red.) tidak ada artinya. Kosgoro kan pecah. Ada kubu Hayono Isman dan Agung Laksono. Jadi di sini Kosgoro secara keseluruhan tidak seperti yang dulu. MKGR juga tak lagi sama. Bu Mien Sugandhi mendeklarasikan Partai MKGR (bersama Rudini, red.). Artinya sudah pecah, dan kepemimpinan sekarang pada Irsyad Sudiro. Yang masih solid, tidak pecah dan tetap konsisten adalah Soksi. Karena, bagaimanapun Soksi adalah pembawa ide, beda dengan Kosgoro dan MKGR, tentang karya dan kekaryaan. Kami juga pendiri gedung dari bangunan Golkar. Seandainya gedung itu ada kebocoran sedikit, ya tidak akan dirusak. Kami akan merenovasinya.
Dukungan Soksi tidak akan berubah. Baik ke Golkar pada umumnya maupun pada kepemimpinan Akbar Tandjung pada khususnya.
Itu pertanyaan baik. Pertanyaannya, aspirasi mereka akan disalurkan pada siapa pada pemilu mendatang. Apakah masih untuk Golkar atau ke partai yang lain. Di sini, meskipun pecah, antara Kosgoro yang satu dan yang lain, orientasi mereka tetap karya dan kekaryaan. Sedangkan partai yang lain tidak, tetapi lebih berdasarkan ideologi tertentu. Oleh karena itu, saya kira, meskipun mereka pecah, dalam pemilu penyalurannya tetap akan satu.
(Tertawa) Ya, kecuali itu. Sebab dia kan sudah jelas meninggalkan dan mendirikan partai sendiri.
Saya melihat, dari paham yang dianut, antara Golkar dengan TNI/Polri itu sama. Doktrin yang dianut adalah wawasan kebangsaan. Selain Golkar dan TNI, yang sama-sama berwawasan kebangsaan kan PDIP. Tetapi PDIP kan seperti yang saya kemukakan sebelumnya. Jadi, tentunya dalam pemilihan yang akan datang, TNI, secara perorangan, akan mendekati partai yang berwawasan sama dengannya. Itu sudah jelas. TNI tanpa dukungan masyarakat tak ada artinya. Begitu juga sebaliknya, Golkar tanpa TNI juga tak ada apa-apanya. Maka, siapapun yang memimpin, termasuk dalam hal ini Akbar Tandjung, harus mengadakan pendekatan-pendekatan yang serasi dengan pimpinan TNI. Hal itu harus dilakukan sekarang maupun menjelang pemilihan mendatang. Tanpa pendekatan seperti itu, maka akan bisa mengancam perolehan suara Golkar.
Begini. MPR yang sekarang merupakan pencerminan kekuatan masyarakat. Jika kita melihat kekuatan sekarang ini ada lima paham. Maka perlu dilihat, mana yang masih solid dan mana yang paling ngetren. Yang ngetren ini belum tentu akan jadi realitas dan punya kekuatan. Yang satu berpaham nasionalisme. Artinya masih mempertahankan negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tetapi, selain itu, ada paham separatisme seperti Aceh dan Papua. Ketiga adalah paham fundamentalisme atau kekiri-kirian. Paham ini kurang dapat dukungan saat ini dan masa datang. Lalu pandangan globalisme. Yakni yang memandang bahwa Indonesia ini hanya sebagai negara boneka dari negara super power. Negara adi daya itu hanya Amerika, dan di sini dikendalikan melalui IMF (Dana Moneter Internasional, red.). Salah satu yang berpaham nasionalis dan duduk di kabinet adalah Kwik Kian Gie. Dia menolak IMF.
Nah, yang ngetren saat ini adalah federalisme. Secara langsung atau tidak itu sudah membayang-bayangi utuhnya negara kesatuan Indonesia. Sebagai contoh, bahwa MPR terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. Nah, ini sudah ada daerah. Itu sudah menggambarkan. Itu juga akan berpengaruh pada proses otonomisasi. Otonomisasi dalam negara kesatuan itu artinya perimbangan keuangan pusat dan daerah. Maka otonomisasi saat ini mengarah pada perimbangan kekuasaan antara pusat dan daerah. Jadi ini sudah federalisme. Tetapi, saya kira, itu akan bergeser lagi setelah pemilu mendatang. Wawasan kebangsaan tentu akan bisa mengubahnya dalam Sidang Umum MPR 2004.
Islam memang sejak dulu (jadi kekuatan). Dulu ada nasionalisme, islamisme dan komunisme atau juga sosialisme. Sekarang kekuatan kiri sudah tak ada. Maka yang ada tinggal nasionalisme dan Islamisme. Sayangnya, yang berpaham ini tidak bersatu. Mereka terpecah dalam puluhan partai dan kekuatan Islam. Padahal kalau mereka menyatu, akan mengancam yang berpaham nasionalisme. Tetapi (nyatanya) mereka tidak bersatu.
Dalam perkembangan sekitar Mei-Juni-Juli sampai sekarang, kami mengadakan temu kangen. Yang pertama di Sulawesi Selatan. Waktu itu yang hadir adalah eksponen-eksponen dari Sekretariat Bersama Golkar tahun 1964. Lalu dalam perkembangannya dibentuk Paguyuban Sekber Golkar 64. Jaringan politiknya merupakan plasma dari Golkar sebagai partai dan kekuatan intinya. Inti tanpa plasma tak akan kuat. Dan sebaliknya. Plasma harus berinduk. Lalu ada temu kangen kedua. Kalau dulu eskponen yang berkumpul yang di Indonesia bagian timur, maka sekarang meluas ke Jawa dan Bali. Lalu sebelum akhir tahun, tidak tahu kapan persisnya, kami akan mengonsolidasikan eksponen lain di wilayah barat. Mungkin di Batam atau Medan. Jika itu sudah terkonsolidasi di seluruh Indonesia, maka akan turun ke bawah di tingkat II atau lebih rendah lagi. Mungkin akan paralel dengan (pemilu) 2004. Ini masih satu setengah tahun lagi. Kami akan terus-terusan melakukannya.
Misi internal organisasi adalah mendorong budaya politik Indonesia dengan kepribadian yang tidak perlu menimbulkan konflik. Agar Golkar kembali kepada “khitah”-nya. Artinya, Golkar lahir, tumbuh dan berkembang berdasarkan doktrin karya dan kekaryaan. Bukan berdasarkan keagamaan. Karya vertikal tentunya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, agama. Tetapi juga ke internal kepentingan pribadi tiap anggotanya. Kita harus hargai aspirasi anggota. Dan yang kedua adalah karya dalam masyarakat. Jadi doktrin ini (yang mau ditekankan). Belakangan (hal itu) agak pudar. Lalu lebih berat ke keagamaan. Khususnya dalam tanda kutip yang terkenal adalah ke HMI (Himpunan Mahasiswa Islam, red.). Apakah itu di Fraksi Karya Pembangunan maupun di tubuh dewan pimpinan. Maka, (kami ingin ingatkan) kembalilah pada “khitah”-nya. Ingat bahwa dukungan dulu berasal dari Soksi, Kosgoro, dan MKGR. Soksi sudah tetap. Rangkul kembali dong. Jangan justru meninggalkan dukungan yang lama. Tanpa menghalangi yang lain, jangan lebih berat ke HMI.
(Tertawa) Saya kira terlalu kecil ya kalau dibilang mengimbangi. Tak perlu diimbangi. Lebih untuk mengingatkan para pimpinan pusat Golkar agar kembali ke “khitah”-nya tanpa mengabaikan kekuatan seperti HMI yang sudah ada. Jangan meninggalkan kulitnya.
Sampai tahun 2004 tidak ada.
Tidak ada.
Paguyuban Sekber Golkar 64 juga telah mengadakan konsultasi dengan Pak Try Sutrisno. Dilihat dari kekaryaan, TNI juga begitu. Tetapi Pak Try sekarang ini kan terjun dalam partai bersama Pak Edi Sudrajat (di PKP- Partai Keadilan dan Persatuan, red.). Sayang, tokoh seperti Pak Try kurang konsisten. Sebenarnya, mestinya memperkuat kontrol internal di Golkar. Memang pada waktu Munaslub yang lalu Golkar lebih condong ke keagamaan. Tetapi jangan ditinggalkan dong. Ini kan pendiri. Saya tak akan meninggalkannya. Karena saya pendiri. Tak akan kita runtuhkan bangunan yang kita dirikan ini.
Urusan apa? Pak Try kan sudah di luar. Jangan orang luar mencampuri urusan rumah tangga kami (tertawa). Kecuali kalau dia di Golkar.
Ya.
Tidak. Untuk apa non-aktif. Di samping masalah politik, kami lihat gerak dinamika kepemimpinan Akbar Tandjung tidak muda. Setiap dia berpacu dalam perlombaan, jika ketinggalan, dia selalu bisa, ahli dan pandai menyalip di tikungan. Itu sejak dulu. Dan itu sudah garis kepemimpinannya. Dan berdasarkan hal itu, nanti dia juga akan bisa menyalip di tikungan tajam seperti apapun. Itulah karakter kepemimpinan Akbar. Contohnya, dia sama sekali tak goyah. Biarpun di ini-itu. Terlihat dalam proses pengadilan, dan saat yang sama dia harus memimpin parlemen. Dia tidak goyah. Juga saat dia harus memimpin delegasi ke Vietnam, tak ada pengaruhnya. Meskipun sebelum berangkat banyak yang protes.
Itu lain. Jika vonis tetap dan harus masuk penjara. Tetapi kita harus lihat juga upaya hukum seperti banding dan kasasi. Saya kira, akan lebih cepat pemilihan umum 2004 daripada proses hukum itu (tertawa geli). Dan kalau dalam proses politik di pemilu itu perolehan suara Golkar naik, tentu akan mempengaruhi proses kasasi dan sebagainya itu. Misalnya, kalaupun kami kalah banding. Jadi itulah politik. Di mana yang mungkin menjadi tidak mungkin, sedangkan yang tidak mungkin menjadi mungkin. (Tertawa lagi) Itulah politik. Tergantung dari seni kepemimpinannya.
Sampai sekarang saya yakin.
Tidak mungkin. Mau dipercepat bagaimana? Itu proses hukum kan ada prosedurnya.
(Tertawa lebar) Tidak. Ini lain.
Tidak akan.
*****