[an error occurred while processing this directive]
MF Siregar:
Jadi apa pendapat pria berambut putih yang kini 73 tahun itu, yang pernah menjadi Direktur Keolahragaan Departemen P&K, Sekjen KONI Pusat, dan Asisten II Menteri Olahraga tentang PON ke-15 sekarang? Berikut wawancara Philipus Parera, wartawan TEMPO Interaktif, dengan Anggota Dewan Kehormatan KONI Pusat yang baru saja sukses menghantarkan tim bulutangkis kita mempertahankan Piala Thomas itu, di kediamannya di Jalan Kemanggisan Ilir, Jakarta Barat, beberapa hari sebelum PON XV dibuka.
Bagaimana Anda melihat PON sekarang?
Sekadar memprokalmasikanatau juga harus berprestasi?
Jadi sebaiknya dana tersebut dipakai untuk memperbaiki prestasi atlet?
Bukankah prestasi terkait erat dengan sistem pembinaan?
Dengan kata lain, tidak ada perhatian dari Pemerintah dan DPR untuk olahraga?
Bentuk riil perhatian pemerintah semestinya seperti apa?
Menjaga kontinyuitas kan butuh dana yang tidak sedikit?
Jadi prestasi sangat dipengaruhi mentalitas para pembina?
Untuk mengatur sistem pembinaan, tugas siapa?
Tentang prioritas cabang olahraga?
Kenapa tidak dilakukan sejak dulu?
Kendalanya apa hingga itu tidak dikerjakan?
Apa cabang olahraga yang cocok untuk kita?
Sepakbola?
Bagaimana dengan Maradona?
Di samping pembina, atletnya sendiri bagaimana?
Penggunaan obat bius di kalangan atlet, apa itu termasuk kegagalan pembinaan juga?
Menurut Anda, adakah cara untuk membendung itu semua?
Prestasi PON? "Jangan Cengeng …"
ADA yang tak setuju Pekan Olahraga Nasional disebut pesta. Mangombar Ferdinand Siregar, atau M.F. Siregar populernya, satu dari sedikit manusia Indonesia yang sebagian besar hidupnya untuk olahraga, berpendapat, olahraga adalah "kerja keras untuk berprestasi," dan bukan sebuah pesta.
PON mestinya bisa lebih bermanfaat melestarikan citra prestasi Indonesia di forum internasional. Kelahiran PON, tahun 1948, memang sebagai manifestasi dari negara kesatuan Indonesia. Dan kemudian, tahun 1952, kita ikut Olimpiade, memproklamirkan bahwa Indonesia itu ada.
Ya, harus berprestasi, untuk menandakan kita itu maju atau tidak di bidang olahraga. Dulu, ada juga prestasi, seperti Purnomo yang masuk 16 besar dalam lari 100 meter di Ol.impiade 1984 di Los Angeles, Amerika. Tapi itu kan enggak bunyi. Yang bunyi itu kalau bendera kamu naik, lagu kebangsaan juga naik. Ini yang harus dikejar.
Seharusnya kita juga menganut moto Olimpiade: Citius, Altius, Fortius – lebih cept, lebih tinggi, lebih kuat. Ini yang harus kita jadikan sebagai semangat olahraga Indonesia. Bukannya setiap kali omong mengenai PON, setiap kali ditonjolkan bahwa dananya kurang. Saya sebenarnya tidak setuju upacara pembukaan seperti di Surabaya itu, yang pokoknya enggak kalah dengan pembukaan Olimpiade Sydney yang akan datang. Urusannya apa (bersaing mewah) itu? Dia kan punya duit, kita enggak punya. Lalu (Australia) itu prestasi dunianya ada, kita belum punya. Di sini persoalannya.
Bukan itu maksud saya. Kita menggerakkan olahraga di Indonesia itu harus tahu kita (sedang) berada dalam periode apa. Nah, sekarang kita dalam krisis, perut rakyat ini kosong, masak kamu sendiri mau makan kenyang. (Lalu dikatakan) PON ini pesta rakyat. Saya tidak setuju PON disebut sebagai pesta rakyat. Rakyat siapa? Pesta apa? (Dalam) olahraga enggak ada pesta, melainkan kerja keras untuk berprestasi.
Jadi PON itu harus digerakkan dengan suatu wawasan yang agak mendekati situasi dan kondisi sekarang dan kebutuhan kita di masa depan. Kebutuhan di masa depan adalah jangan hanya omong mengenai SEA Games. Jangan hanya membatasi diri dengan enam medali emas di Asian Games. Kita jangan hanya mendompleng satu saja cabang olahraga yang bisa berprestasi di dunia internasional. Berapa cabang yang kita miliki? Sekitar 50. Rakyat kita berapa? Dua ratus juta lebih.
Ya, memang. Dengan demikian saya ingin bertanya sama Pemerintah dan DPR, (mengapa), menurut Gus Dur, ada anggota DPR yang minta agar KONI dibubarkan. Kalau KONI bubar berarti olahraga dianggap tidak penting. Kalau begitu jangan ribut kalau tidak ada prestasi. Tapi sekarang orang ribut kalau tidak ada prestasi. (Giliran disuruh) memberikan landasan yang lebih berbobot untuk olahraga, enggak ada yang omong, termasuk DPR.
Bukan tidak ada perhatian, tidak ada kebulatan tekad. Tidak ada perspektif dan visi yang sama tentang kegunaan olahraga ini di Indonesia.
Banyak. Contoh, Kenya. Tidak pernah Kenya tidak pernah tidak mendapat medali emas dalam Olimpiade setelah menemukan sistem pembinaannya. Kenya cuma mengirim hoky sama lari jarak jauh. Indonesia, mengirim 10 atau 12 cabang, enggak ada apa-apanya; cuma bulutangkis. Kita pernah, tahun 1988, meraih perak dari panahan. Tapi apa yang terjadi dengan Perpani (Persatuan Panahan Indonesia) sekarang ini? Nggak ada kontinuitas pembinaan yang seirama dengan wawasan olahraga. Apa yang (dinamakan) seirama dengan wawasan olahraga itu? Kalau you sekarang mencapai medali perunggu, lain kali harus mencapai medali perak.
Sekarang, pada PON XV, daripada susah membina olahragawan, gua beli saja dari orang lain. Apa ini olahraga yang mendukung wawasan Pekan Olahraga Nasional? Bukankah arti PON itu menggambarkan peningkatan yang dilakukan setiap daerah peserta dalam empat tahun di daerahnya masing-masing? Lalu kapan mereka mulai pembinaan untuk persiapan PON XV ini? Ada yang tiga bulan, ada yang enam bulan. Mana pula programnya? Mana datanya? Ini ,lo, olahragawan yang baru yang saya didik. Ini, lo, yang mau saya capai di PON XV. Ini yang di PON XVI nanti. Mana? Enggak ada yang omong itu.
Makanya kita harus mempunyai wawasan yang riil. Jangan mimpi. Kalau kita mempunyai modal sedikit, (usahakan) bagaimana dengan modal sedikit kita bisa berprestasi. Jangan cengeng; sudah modal sedikit, hatinya kecil pula – enggak ada itu dalam olahraga. Kalau ada yang mengeluhkan soal dana, itu karena selama bertahun-tahun ini mental kita ditopang uang: kalau ada uang baru bisa kerja. Nah, ini yang repot.
Sudah pasti. Kita selalu bicara mental olahragawan, tapi enggak pernah menyalahkan mentalitas dan loyalitas pembina. You profesional, tapi mental bejat. Itu artinya nol. Lihat saja di PON XIV yang lalu, yang berkelahi kan bukan olahragawan, tapi pengurus. Tapi pengurusnya enggak diapa-apain.
KONI, dong. KONI itu harus bisa menciptakan unggulan-unggulan baru di forum internasional. Jadi tidak hanya bulutangkis, lalu bulutangkis, lalu badminton lagi. Itu pertama. Yang kedua, KONI harus bisa pula melestarikan prestasi internasional. Jangan lupa, bulutangkis sebentar lagi kalau nggak diurus dengan baik, dibantu dengan baik akan ketinggalan (dalam hal) kaderisasinya. Karena kriteria yang dipakai di luar negeri itu jauh lebih tinggi daripada yang kita pakai. Ini yang saya ributkan. Di olahraga, harus makin, makin, makin. Karena, kita tidak tahu batas kemampuan manusia sampai di mana.
Ya, tentu harus dibuat.
Lo, itu sudah kita buat programnya, sudah diseminarkan, tapi enggak dikerjakan.
Di Indonesia ini terlalu banyak orang omong mengenai selera sendiri, bukan omong bangsa ini maunya gimana, olahraga yang benar itu gimana. (Akhirnya yang dipakai) selera yang memimpin. Ini tidak boleh.
Antara lain, yang tidak menyangkut penilaian berat badan, tinggi badan; yang lebih mengarah pada kelincahan, kecepatan. Seperti renang, bola basket, voli, misalnya, kalau lu enggak dua meter bagaimana mau menang? Pragmatislah, nggak usah pakai ilmu yang njelimet. Dayung, kalau you tidak mempunyai paru-paru yang bisa masuk enam- tujuh liter udara, bagaimana lu mau menang? Kita sudah berapa puluh tahun berkecimpung dalam olahraga, tapi sampai sekarang tak mempunyai kriteria cabang apa yang bisa ditonjolkan.
Ya, di tahun 1956 kita bisa menahan Rusia 0-0. Lalu itu selalu dibanggakan, kan? Tapi lihat sekarang dalam Euro 2000, bentuk tubuh mereka kayak apa. Postur mereka tinggi, besar, tapi lincah. Kita?
Ada berapa Maradona di dunia ini? Nah, itu masalahnya.
Atlet kan cuma menengok -- bapak gue gimana, pelatih gue gimana. Olahraga itu kan keteladanan. Kalau lu kerjanya baik, enggak pusing ngurusin olahraga. Kalau lu belepotan, mengurus olahraga, ya, belepotan, dan terang, dong, olahragawannya begitu juga. Buktinya, kita mengadakan pelatnas di Hotel Century, apa bapak-bapak tahu ada apa di situ pada jam dua pagi? Di pelatnas di Ragunan, ada petinju yang mati karena virus, karena narkotik. Kejadian itu sudah lama, tapi baru ketahuan sekarang. Omong doang, enggak ada tindakan.
Nah, itu sabu-sabu. Sudah ketahuan Kuncoro bilang dia dapat sabu-sabu dari Kurniawan, Agum Gumelar bilang bahwa buktinya enggak ada. Di olahraga, kalau enggak tegas kan konyol. Tapi, jangan olahraga dilepaskan dari sistem sosial yang ada. Dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, apa yang dibelajarkan oleh Departemen Pendidikan? Kenapa pelajar tawuran terus, ngompas di bus kota? Kok bisa terjadi pemerkosaan terhadap anak umur 11-12 tahun? Kenapa?
Profesional. Itu yang saya terapkan pada bulu tangkis. Lu mau keluar malam, saya enggak larang. Gua juga enggak mau pusing, besok lu mau ikut latihan apa enggak. Tapi, kalau lu enggak berprestasi, ya terang lu enggak dapat duit, lu enggak bisa bayar cicilan mobil. Jadi, yang harus dipikirkan dalam pembinaan, kita ada atau tidak ada, dia tetap berbuat sesuai dengan wawasan olahraga untuk mencapai keunggulan.
[an error occurred while processing this directive]