[an error occurred while processing this directive]
Hamzah Haz
Hamzah Haz bukan Ismail Hasan Metareum, Ketua Umum DPP PPP periode 1988-1998, yang tampil sejuk. Dia juga tidak seperti HJ Naro, pendahulu Buya Ismail, yang menjinakkan PPP sebagai anak manis Orde Baru. Hamzah punya gaya sendiri: keras dengan kemauan tapi juga lembut dalam kompromi. Ia berbicara blak-blakan saat menerima Bambang Harimurti, Wahyu Muryadi, Gendur Sudarsono, Agung Rulianto, fotografer Amatul Rayani dari Majalah TEMPO dan wartawan Tempo News Room Wahyu Dyatmika. Berikut petikannya :
Setelah itu Anda dipanggil Presiden? Ja'far dituduh menghina Presiden dan Wapres. Anda tak merasa dihina? Bukankah kunjungan Anda bisa menjadi tekanan politis terhadap proses hukum Ja'far? Mengapa Anda datang ke Musyawarah Kerja Nasional Laskar Jihad?
Anda membantu biaya?
Pengangkatan Priyono Tjiptoherijanto sebagai Sekretaris Wakil Presiden kabarnya juga membuat tegang hubungan Anda dan Megawati. Anda dulu kan menginginkan Laode Kamaluddin?
Anda juga gagal menggolkan Samudra Sukardi jadi Dirut PT Garuda?
Komunikasi Anda dengan Presiden masih lancar?
Tapi tiga pekan lalu Anda tidak datang ke acara rutin itu?
Saat kampanye, PPP menolak presiden wanita. Tapi, Anda mau jadi wakil?
Sikap PPP soal Piagam Jakarta masuk UUD 1945?
Jadi, PPP masih berusaha syariat Islam masuk perubahan Pasal 29? Sikap Anda terhadap tuntutan Mukatamar PPP dipercepat pada 2003? Tapi desakan itu cukup serius?
Anda bersedia dicalonkan Ketua Umum PPP periode mendatang?
Bagaimana hubungan PPP dan PPP Reformasi?
Sejumlah tokoh partai menggagas poros Islam. PPP akan bergabung?
Bukankah Alimarwan Hanan (Sekjen DPP PPP) bersedia jadi tuan rumah, setelah pertemuan di tempat Amien Rais?
Gerakan partai-partai Islam kali ini akan menjadi Poros Tengah jilid dua?
Reaksi Amien?
Anda sendiri kapan ketemu Gus Dur?
Saat itu, rencana power sharing masih jadi rahasia?
Pertemuan para figur partai Islam mau mengulang kisah sukses itu?
Megawati menawari Anda untuk berpasangan pada 2004?
Anda menjawab tawaran itu?
[an error occurred while processing this directive]
Saya Selalu Akomodatif
Benarkah kalangan sekitar Presiden panik saat Anda menjenguk Ja'far Umar Thalib di tahanan Mabes Polri, awal Mei lalu?
Enggak ada. Itu kan kekhawatiran saja. Kapolri sudah melapor ke Presiden.
Ya. Itu gara-gara di koran kami diisukan macam-macam, pecah kongsilah, dan sebagainya.
Saya tidak mencampuri substansi persoalan. Saya datang hanya karena beliau tertimpa musibah. Sebagai manusia, kan ada khilafnya.
Walau langit runtuh, penegakan hukum harus jalan terus. Tidak ada tekanan itu. Presiden Filipina Arroyo juga menengok Estrada (bekas presiden yang ditahan).
Itu janji saya sejak April. Kalau teroris, kok menggelar mukernas, undang pembicara dari menteri. Organisasinya rapi, tersebar se-Indonesia. Jadi, organisasi ini jelas.
Kalau diminta membantu, ya, saya membantu semampunya. Ada yang empat juta, ada juga yang lima juta rupiah.
Saya taat hukum administrasi. Dari segi kepangkatan, Laode belum memenuhi. Prijono juga pilihan saya. Kalau bukan Prijono, saya enggak mau. Sekarang, Laode saya jadikan staf khusus. Keppresnya juga sudah ditandatangani.
Dia masuk dari jalur karir, kebetulan kader PPP. Saya bilang, apa pun yang you dapat, itu yang terbaik. Kalau jadi dirut, itu terbaik. Bila tidak, juga terbaik. Saya ingin BUMN itu jadi lokomotif perekonomian.
Setiap waktu. Dengan telepon juga bisa. Setiap Selasa, rutin kita makan pagi.
Ha-ha-ha. Waktu itu, saya ke Lemhannas.
Saya dulu menolak karena kami wajib menyampaikan pendapat dari para ulama. Kalau tidak bisa, ya sudah. Kita kan harus realistis.
Bagi PPP, kalau forumnya tidak memungkinkan, untuk apa dipaksakan? Mukadimah sudah sepakat tak disinggung, kita masuk dari yang lain saja.
Ya, di mana mungkin, kami usahakan. Tapi kita lihat dulu di Aceh, kan sudah berlaku syariat Islam. Perbankan juga. Terakhir ini pajak, juga wakaf. Artinya, perjuangan kami sudah ada hasilnya.
Begini, menurut AD/ART, kepengurusan saya berakhir September atau November 2003. Nah, Pemilu kan Juni 2004. Sela waktu beberapa bulan. Apakah kami sempat konsolidasi? Sebab, di PPP, muktamar dimulai dari atas terus ke wilayah dan cabang. Proses ini paling cepat satu tahun. Saya melihat, biarkanlah dulu yang sekarang ini. PPP sudah sampai kursi wakil presiden dan menteri. Ketua DPRD, bupati, dan wali kota juga banyak dari PPP. Mengapa harus memaksakan diri? Lebih baik mengisi darah segar ke struktur partai.
Saya ini selalu akomodatif. Bagaimana dari semua sisi, itu kita pertimbangkan. Kalau memang itu kita perlukan, ya mari. Kalau saya tetap berpegang pada Mukernas II itu, sebaiknya dilakukan pada 2004.
Saya maksimal 2004. Saya tidak bersedia dipilih lagi.
Kami tidak boleh takabur. Mereka itu counter part kami. Waktu teman-teman itu membentuk PPP tandingan, saya katakan biarlah kami ini menjadi holding PPP. Mereka kan punya segmen sendiri. Siapa tahu dalam perjalanan nanti PPP Reformasi bergabung lagi dengan kami. Tapi, selama itu belum pasti, ya kita siap membentuk koalisi. Siapa tahu kami dapat 58 kursi, PPP Reformasi dapat 50 kursi. Jadinya, dapat 108 kursi. Jadi, tidak usah dianggap ancaman.
Enggak tahu saya. Kami belum bicara. Rencana itu belum matang.
Kami ini selalu terbuka, siapa saja yang mengundang. Apalagi Alimarwan kan bagian dari pemerintah. Jadi, apa yang menjadi pendapat dari teman-teman bisa dipakai sebagai input buat kita.
Kalau Poros Tengah, begini ceritanya. Dulu, saya yang mencetuskan. Waktu itu Amien Rais loyo karena PAN hanya dapat tujuh persen. Lalu, saya undang Amien ke rumah. Kami bicara empat mata. Saya jelaskan, kalau suara kita bersatu, hasilnya lebih besar dari PDIP dan Golkar. Kita harus bergabung.
Amien tanya, bagaimana caranya? Saya jawab, power sharing. Kan ada posisi presiden, wakil presiden, Ketua DPR, Ketua MPR, Ketua DPA. Lalu, kami sepakat menyampaikan ke Gus Dur. Figur Gus Dur penting karena saat itu PKB mencalonkan Ibu Mega. Amien ketemu dulu dengan Gus Dur. Langsung saja dia menyampaikan: "Gus, sampean calon presiden, ya!"
Siangnya saya baru ketemu, setelah Amien. Saya katakan, PPP dan PKB kan berseberangan soal ijtihad politik. Padahal saya diberi beban ulama, presiden harus laki-laki. Gus Dur menyahut: "Sama ini! Ulama ini kok pendapatnya sama ya!" Saya hanya menawarkan Gus Dur jadi ketua lembaga tinggi negara. Tapi, rupanya, untuk meyakinkan Gus Dur, Amien menawari presiden. Selesailah.
Saat wartawan bertanya saya, bagaimana jika Megawati terpilih presiden? Saya katakan, "Kalau itu pilihan demokratis, ya kita terima." Eh, Gus Dur menyela, "Pak Hamzah ini terburu. Nanti Mega terpilih, enggak stabil kita."
Hanya tukar pikiran soal amandemen UUD 1945 dan pemulihan ekonomi.
Umur kita kan belum tentu nyampai. Yang penting kita kerja dulu.
Belum ada tawaran juga. Itu kan bisa-bisanya ente (Anda) saja, ha-ha-ha....***
[an error occurred while processing this directive]