[an error occurred while processing this directive]
Mayjen TNI Djoko Santoso:
Dia belum lama menyandang jabatan itu, tapi semua mata sudah menyorot. Apa yang akan dikerjakan Mayjen TNI Djoko Santoso, Panglima Kodam Pattimura sekaligus Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Maluku? Berikut ini wawancara Bernarda Rurit dari Tempo News Room dan Arif Adi Kuswardono dari Majalah TEMPO dengan jenderal santun itu.
Ada yang sudah ditangkap? Saat Pangdam Pattimura dipegang Brigjen TNI I Made Yasa, jumlah desertir mencapai 120 orang. Angkanya masih seperti itu? Rencana Anda mengatasi para desertir, termasuk para siluman? Bukankah KSAD meminta mereka ditembak bila tak mau kembali? Bisakah aparat keamanan bersikap netral, profesional dan memberi jaminan keamanan pada rakyat di Maluku?
Bisa tahu konsep Anda sebagai panglima keamanan?
Anda diangkat antara lain untuk menata koordinasi TNI, polisi, dan penguasa darurat sipil. Bagaimana Anda akan menangani itu? Kendala apa yang Anda hadapi?
Dulu pernah juga dilakukan upaya rekonsiliasi dari gubernur, tapi gagal. Apa Anda yakin sekarang bisa dilakukan?
Anda sadar menjadi sorotan nasional tapi juga masyarakat internasional?
Bagaimana soal penarikan Laskar Jihad dan Front Kedaulatan Maluku?
Laskar Jihad minta jaminan keamanan warga muslim, bila mereka ditarik ke luar Maluku. Aparat bisa melakukan itu?
Bagaimana dengan kelompok preman, seperti geng Coker pimpinan Berty Loupatty, yang dikenal dekat dengan militer?
Dalam konflik di Maluku, senjata TNI dan Polri tak sedikit yang hilang. Ada yang bilang, senjata itu disewakan. Bagaimana mengontrol itu?
Ada rencana mengadili Alex Manuputty, pimpinan FKM, di Jakarta. Anda mendukung?
Tempo hari Gubernur Saleh Latuconsina mengeluhkan masalah koordinasi dengan petinggi TNI dan Polri. Apa tanggapan Anda?
Hubungan Anda dengan petinggi kepolisian di Maluku?
Ada tuduhan keterlibatan anasir internasional. Juga ada kabar 100 warga Belanda yang menengok ke sana. Anda melihat keterlibatan itu?
Indikasi “orang Jakarta” terlibat konflik Maluku?
[an error occurred while processing this directive]
Tiga Langkah Tangani Maluku
Anda sudah identifikasi kegiatan dan tempat latihan desertir di Maluku?
Kalau saya sebutkan, nanti mereka pindah, dong!
Kami sedang membuat inventaris, termasuk senjata-senjatanya. Masing-masing satuan sedang mencari. Di Angkatan Darat sendiri enggak banyak, hanya puluhan. Di antaranya banyak yang sudah kembali.
Oh, enggak, mereka sudah mulai kembali (ke pasukan).
Ya, kami inventarisasi dulu yang desersi, kemudian kita imbau kembali ke kesatuan. Bila tak mau mengikuti perintah, baru ditangkap.
Ya, enggak usahlah pakai begitu-begitu. Itu kan sebenarnya hanya prosedur tindakan. Kami akan bersikap keras dan tegas berdasarkan hukum. Porosnya adalah penegakan hukum.
Aparat keamanan itu harus netral. Cuma, permasalahan keamanan itu harus dipahami sebagai muara dari aliran masalah dari berbagai aspek kehidupan. Ada aspek politik, ideologi, ekonomi, budaya, hukum. Jika berbagai aliran itu airnya keruh, muaranya juga keruh. Insya Allah, kami bisa menjamin keamanan. Kami akan melakukan konsolidasi untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Kita adakan pos-pos untuk penegakan keamanan, sweeping dan patroli untuk menegakkan keamanan. Kita coba juga membangun dialog-dialog di antara berbagai pihak.
Yang pertama, melakukan konsolidasi internal di kalangan TNI sendiri maupun konsolidasi eksternal dengan polisi untuk meningkatkan keterpaduan. Kedua, meningkatkan upaya-upaya untuk keamanan dan ketertiban. Ketiga, adakan upaya rekonsiliasi. Ketiga langkah ini berjalan secara simultan dan bertahap.
Alhamdulillah, saya sudah melakukan apel dengan kepolisian. Saya juga datang ke asrama Brimob dan berdialog dengan keluarga polisi di situ. Komando operasi sendiri memang berada di bawah kendali gubernur sebagai penguasa darurat sipil daerah.
Setiap penugasan pasti ada kendalanya. Namun, dengan koordinasi yang baik dalam pelaksanaan tugas, semoga bisa kami atasi. Akhir dari masalah Maluku, saya kira, harus melalui rekonsiliasi dan rehabilitasi daerah dan didukung oleh semua pihak. Kalau itu belum tercapai, enggak akan bisa.
Rekonsiliasi kami coba rintis dengan dialog-dialog awal. Kita juga harus mempelajari penyebab kegagalan rekonsiliasi sebelumnya.
Ya, saya sadar. Saya kan perwira tinggi.
Yah semuanya dalam proses. Himbauan-himbauan. Kami adakan dialog-dialog.
Soal FKM, sudah dilakukan, sudah ditarik. Kabinet FKM kan sudah dibekukan penguasa darurat sipil.
Insya Allah kita bisa menjamin keamanan mereka.
Hmmm…jadi begini yah hakekatnya pelanggaran terhadap kedaulatan rakyat. Apapun yang terjadi semuanya didekati dari hukum. Soal aparat keamanan, kami akan terus memberikan pengertian. Pada kalangan komandan, kami terangkan tuga dan tanggungjawab TNI.
Yah kan kami menginventaris senjata. Tapi saya kan belum sampai di situ karena baru empat hari.
Itu bukan menjadi wewenang saya. Itu wewenang penguasa darurat sipil yang ditangani Kejaksaan Tinggi Maluku.
Sejauh yang saya alami ternyata baik. Tidak ada masalah. Itu yang saya rasakan empat hari bertugas di sana.
Selama ini tidak ada masalah. Saya apel di sana, enak. Saya ngobrol dengan polisi. Ada upacara pengembalian yang tugas dan menerima anggota Brimob, dan saya menjadi inspektur upacara. Seperti di Jawa Tengah begitu. Kalau polisi yang tugas, Panglima Kodam yang mengantar. Kalau polisi upacara, kami yang jadi inspektur. Kalau upcara prajurit TNI, yang menjadi inspektur Kapolda. Kan begitu. Mudah-mudahan baku tembak polisi dan Kopassus, seperti terjadi di Kudamati tempo hari, tidak terjadi lagi. Kita kan mintanya yang enak-enak saja.
Secara jelas belum ada, yah mudah-mudahan tidak begitu berpengaruh. Soal seratus warga Belanda itu, aku belum tahu, orang baru kok.
Saya sendiri belum tahu, saya kan orang baru. Yah, informasi dasar ada.
[an error occurred while processing this directive]