[an error occurred while processing this directive]

Dimyati Hartono
Tenaga Saya Tidak Dibutuhkan Lagi di PDIP

Bulan lalu, Februari 2002, Dimyati Hartono menyatakan mundur dari DPR/MPR. Sekaligus, ia mundur dari PDIP. Anggota Dewan Penasehat PDIP merasa tidak sejalan lagi dengan kebijakan partai. “Saya merasa tenaga saya tidak dibutuhkan lagi di partai ini dan saya kecewa dengan kondisi partai,” kata Guru besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini kepada Tempo News Room yang menemui di kantornya, lantai III Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (1/3). Wawancara juga dilanjutkan lewat telepon Selasa (11/3) malam. Berikut petikannya:


Anda keluar dari PDIP karena kecewa?
Saya tidak sependapat dengan orang-orang yang mengatakan, termasuk teman-teman saya di PDI-P, bahwa saya mengundurkan diri karena saya kecewa, sakit hati, frustasi. Saya mengatakan, mereka itu mengukur dirinya sendiri, masuk partai ingin cari untung. Sehingga, kalau keuntungan itu tidak didapat, dia kecewa dan frustrasi.

Jadi?

Orang masuk partai harus berdasarkan idealisme. Ideliasme saya adalah mewujudkan cita-cita nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pada masa rezim Soeharto tidak ada kebebasan, tidak ada demokrasi, dan tidak ada keadilan. Sentralisasi kekuasaan di tangannya.
Kita mulai berjuang ketika melihat itu. Di situlah idealisme kita dituntut. Soeharto menindas dengan payung demokrasi. Kalau saya menyebutnya bukan demokrasi, tapi dekorasi demokrasi. Saya melihat PDI Perjuangan sebagai partai alternatif. Atas alasan itulah saya berkecimpung di dalamnya, berjuang bersama-sama sampai menang pada Pemilu 1999.

Menurut Anda PDIP sangat tergantung pada Megawati?

Fanatisme yang ada dulu itu, karena figur Megawati. Tetapi sekarang, tidak mungkin lagi kebodohan, kemiskinan, keterbalakangan hanya dipecahkan dengan fanatisme. Karena itu, manajemen partai saya usulkan diubah, jangan tergantung poada perseorangan, tetapi dibangun sistem dan mekanisme di dalam partai.
Sikap saya ini dianggap melawan pimpinan. Namun, kemudian ide saya banyak diserap melalui pernyataan-pernyataan saya di media massa. Banyak DPC meminta ada perubahan kepemimpinan partai. Saya setuju mencalonkan diri (sebagai pimpinan itu) dengan syarat lewat kongres. Karena kongres forum tertinggi untuk menentukan masa depan partai. Saya tidak suka dengan melakukan pendudukan kantor atau membuat tandingan.

Lalu ?

Di Kongres Semarang (tahun 2000), semua orang tahu tidak ada yang bisa menandingi Megawati. Jangankan di tingkat partai, di tingkat nasional saja tidak ada yang bisa menandingi dia. Tapi saya lakukan itu (mencalonkan diri), dengan dua alasan. Pertama, saya akan tunjukkan ke pihak luar bahwa Partai Demokrasi Indonesia yang dulu menentang rezim Soeharto, menentang pencalonan tunggal, kini mewujudkan demokrasi. Kedua, saya ingin memberikan pendidikan politik. Saya tahu pasti bahwa saya tidak menang.

Tetapi Anda berkeinginan menduduki kursi ketua umum partai itu?

Lho, kalau terpilih konsekuensinya harus dijalankan. Saya tidak terpilih tidak apa-apa, tapi saya menerima pencalonan diri itu. Namun saya dituduh melawan pimpinan. Jadi demokrasi yang berkembang di partai saat itu adalah asal beda itu lawan. Padahal, demokrasi berkembang karena ada perbedaan.
Akhirnya saya disisihkan, tidak duduk di Dewan Pimpinan Pusat (DPP), disisihkan dari Ketua Fraksi dengan cara yang tidak etis, karena tidak ada pemberitahuan lisan atau surat terlebih dahulu. Tahu-tahu sudah ada orang yang ditunjuk (sebagai Ketua Fraksi PDIP menggantikan Dimyati). Setelah protes, baru surat keputusan keluar.

Bagaimana ceritanya?

Saya waktu itu masih di Jerman, menjalankan tugas DPR, bersama Ketua DPR dan rombongan. Bayangkan, saya dicopot ketika berada di sana. Di mana etika berpolitiknya?
Tahun 1999 saya juga mengusulkan penataan organisasi dan kaderisasi, tapi baru tahun 2002 usul saya ini dijalankan. Tapi situasi sudah mulai merosot, dan itu kelemahan manajemen partai.
Bayangkan DPP sampai didatangi demonstran dari pengikutnya sendiri. Sekjen digugat ke pengadilan, di DPD-DPD ada konflik.

Apakah pencalonan Anda dikomunikasikan dengan Megawati?

Saya pikir langkah saya itu tidak perlu dikomunikasikan dengan Megawati, karena pencalonan saya sudah sesuai dengan aturan yang berlaku di PDIP. Malah kalau dikomunikasikan itu bisa disebut rekayasa politik. Saya tidak mau menjadi boneka politik.

Lalu siapa yang menentang pencalonan Anda?

Teman-teman yang masih berpikir secara irasional terhadap masa depan PDIP-lah yang menentang pencalonan itu. Mereka menganggap partai itu identik dengan Megawati. Yang lain tidak boleh. Saya sendiri tidak mendengar secara langsung bahwa Megawati tidak senang dengan pencalonan saya. Tapi dari orang-orang tertentu, saya mendengar Mega memang kurang senang dengan pencalonan saya.

Siapa yang mengusulkan agar Anda dicopot sebagai Ketua Fraksi PDIP?

Saya belakangan baru tahu, bahwa itu sebuah skenario untuk menyingkirkan saya dari partai karena berani-beraninya mencalonkan diri sebagai ketua umum. Awalnya dengan mencopot posisi ketua fraksi itu. Selain itu, pencopotan ini untuk memberi tempat kepada saudara Arifin Panigoro cs. Tentu saja Megawati tahu dan merestuinya, karena semua keputusan kan harus melalui ketua umum.

Jadi sebetulnya karena akumulasi kekecewaan itu sehingga Anda mengundurkan diri?

Saya telah berusaha memperbaikinya tapi tidak berhasil. Saya beberapa waktu cuma ditaruh di pojok, tidak ada peranan apa-apa. Lalu saya berpikir, Tuhan memberi saya kelebihan berpikir, badan saya sehat, semangat saya tinggi, idealisme tinggi, orang simpati pada saya. Lantas kenapa saya diam saja.
Kalau saya di dalam tidak bisa apa-apa, mungkin di luar saya bisa berbuat sesuatu. Saya melihat kondisi tanah air terancam bahaya disintegrasi bangsa. Kalau partai-partai yang ada sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, siapa yang memikirkan dan bagaimana nasib bangsa ini?
Saya putuskan saya mengundurkan diri saja. Saya katakan ke Mbak Mega, di antara kita tidak ada konflik, tapi saya melihat kondisi tanah air ingin mengembangkan pribadi lebih baik di luar PDI Perjuangan.

Apa jawaban Mega?

Enggak ada, diam saja. Saya tidak ketemu dia, karena saya anggap tidak perlu. Karena sudah ada mekanisme yang jelas. Saya tahu dia sangat sibuk sebagai Presiden.

Anda kecewa karena tidak dapat kedudukan di partai?

Saya bukan kecewa karena tidak dapat kedudukan. Kita masuk partai tidak pernah ada pemikiran supaya dapat rezeki dan kedudukan, karena berjuang dan itu resiko. Orang-orang yang sekarang baru masuk, pikirannya masuk PDIP untuk mendapat rezeki. Saya kecewa karena saya ikut melahirkan dan membesarkan partai, tapi kok jadi begini.

Jadi memang ada konflik yang sangat tajam di tubuh PDIP saat ini?

Harus diakui ada konflik di DPP, DPD, dan DPC. Bukan horizontal saja, vertikal juga terjadi konflik. Tahun 1999 saat jadi wapres, saya sudah bilang ke Megawati untuk mundur dari ketua partai. Karena negara membutuhkan konsentrasi lebih.

Bagaimana sebenarnya keadaan di PDIP saat ini?

Penyakitnya adalah ketergantungan partai pada seseorang, lalu yang ada di sekitarnya orang-orang cari selamat, cari rezeki, kutu loncat, yang semuanya berorientasi ke atas untuk mengamankan kepentingan. Mereka lupa, kebesaran partai tidak hanya dilihat dari pemimpin, tapi pada banyaknya pendukung. Mekanisme dan sistem di dalam partai tidak jalan. Decision maker oleh satu orang.
Bisa Anda petakan bagaimana faksi-faksi di PDIP?
Saya melihat di PDIP ada dua kelompok besar, yaitu yang non idealis dengan idealis. Yang idealis terbagi dua, yaitu idealis rasional dengan idealis irasional. Yang rasional tidak bergantung pada orang tapi pada garis partai. Tapi yang irasional bergantung pada orang, kalau perlu garis partai dilanggar. Kelompok non idealis adalah mereka yang cari rezeki di partai, cari selamat, dan orang yang 'kutu loncat'.

Anda sendiri berada di kelompok yang mana?

Saya idealis rasional.

Ada berapa orang yang seperti Anda?

Sekarang semakin besar karena mereka sudah berani berbeda pendapat dengan DPP. Dulu saya single minority.

Menurut Anda bagaimana Megawati harus bersikap demi kemajuan partai?

Kita punya contoh yang bagus untuk pertanyaan ini. Saat Soeharto menjadi Presiden, dia juga sebagai Pembina Golkar. Begitu juga para gubernur dan bupati, yang adalah orang-orang Golkar. Ketika pemilu, semua fasilitas pemerintah yang bersumber dari uang rakyat digunakan untuk kepentingan Golkar.
Hal ini tentu saja menimbulkan ketidakadilan di masyarakat. Dan hasilnya dapat kita lihat sekarang, bangsa ini hancur. Jadi saya menghimbau kepada Megawati dan Hamzah Haz untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah kedua kalinya. Mereka harus mundur dari jabatan partai mereka demi kemajuan partai itu sendiri, bangsa, dan negara.

Sikap Megawati bersikukuh tetap di kursi ketua umum partai?

Keinginan seperti itu boleh-boleh saja. Tahun 1999 waktu Mega jadi wakil presiden, saya sudah mengatakan agar Megawati melepaskan jabatan ketua umum partai. Alasannya pemimpin saat ini memiliki beban yang sangat berat. Tangungjawab terhadap berbagai masalah bangsa yang multidimensional itu. Masalah stabilitas politik, pemulihan ekonomi, konflik di berbagai daerah, lemahnya penegakan hukum, dan banyak lagi. Ini membutuhkan konsentrasi penuh.
Jika Mega tetap bertahan di partai, konsentrasinya akan terpecah. Bisa tidak berhasil kedua-duanya atau salah satu jadi korban. Tentu kita tidak mengharapkan ini. Alasan kedua, jabatan rangkap ini membuka peluang terjadinya conflict of interest. Di satu sisi dia sebagai eksekutif, di sisi lain juga sebagai legislatif. Kalau ini dapat dijalankan secara paralel tidak jadi masalah, tapi kalau sebaliknya dan terjadi penyimpangan?
Alasan ketiga, bangsa ini tidak memiliki etika berpolitik, karena semua haus kekuasaan. Mentalnya masih pada tingkat politisi, bukan kenegarawan yang mampu berdiri di atas semua golongan, seperti Soekarno dan Hatta. Yang ada semuanya berorientasi ke kekuasaan. Jadi sikap saya sudah jelas sejak tahun 1999 bahwa Mega harus melepas jabatan ketua umum demi kepentingan partai, bangsa dan negara ini.
(Mundur dari DPR dan keluar dari PDIP, Dimyati membentuk partai baru. Namanya, Partai Indonesia Tanah Air Kita disingkat PITA).

Bagaimana proses pendirian partai baru Anda?

Saya adakan penelitian di seluruh Indonesia, apa yang dibutuhkan masyarakat. Rakyat sudah bosan dengan berbagai konflik dan pertikaian yang ada. Rakyat mulai tidak percaya dengan partai-partai yang ada. Kepercayaan kepada pemerintah sudah rendah. Sehingga harus ada alternatif, yaitu butuhnya partai baru.
Saya tawarkan partai baru yang bebas dari masa lampau. Struktur organisasi saya 70 persen orang-orang baru, orang-orang muda dan 30 persen tua. Kalau cari orang pada tingkatan umur saya, sulit mencari orang terkenal yang ada hubungannya dengan Orde Baru. Tapi kalau generasi muda, mereka bersih, tidak punya beban dengan masa lampau, dan melihat masa depan dengan lebih jernih.

Kabarnya Rachmawati berada di belakang Anda?

Suatu hari, Ibu Rachma mengontak saya mengenai urusan UBK (Universitas Bung Karno). Dia menawari saya menjadi Rektor UBK. Saya jawab sekarang saya sedang konsentrasi mendirikan partai baru. Namanya PITA, Partai Indonesia Tanah Air Kita. Saya jelaskan bagaimana visi dan misinya. Ibu Rachma bilang, "Bagus Mas. Saya dukung." Secara lisan dia mendukung. Soal ikut atau tidak dalam partai ini, itu urusan belakangan elaborasinya.

Kenapa Anda tidak bergabung dengan Gus Dur, bukankah ketika Bulogate I Anda terlihat mendukung dia?

Itu yang salah selama ini. Saya tidak pernah dekat dengan Megawati, dengan Gus Dur secara pribadi. Tapi saya lihat dari garis politiknya. Gus Dur itu kan demokratis, dan dia terbuka pada semua orang. Bahwa kadang-kadang dia menyimpang dari protokol, memberikan statement yang kontroversial, itu sisi lain dari leadership.

Apa yang konkrit Anda tawarkan dari partai ini?

Akan banyak program. Partai ini sifatnya betul-betul terbuka, untuk semua warga negara, semua suku bangsa, semua etnik, semua agama, semua daerah dan semua strata sosial. Orang-orangnya adalah yang nasionalis pancasilais, memiliki integritas pribadi yang tinggi, dan kredibilitas di mata masyarakat, serta tidak tercela dari segi hukum dan moralitas.

Programnya?

Kita fokuskan pada ekonomi kerakyatan, tidak menjanjikan pada rakyat, tapi mengajak dan mengajarkan rakyat memperkuat diri sendiri. Itu kuncinya pada pendidikan.

Kenapa namanya PITA?

PITA itu kan tali untuk mengikat barang yang indah, barang yang disayang dan jangan rusak. Barang berharga itu adalah negara kesatuan Republik Indonesia. Rakyat sekarang terpetak-petak oleh golongannya, daerahnya, kepentingan pribadinya. Jadi harus dihimpun supaya jadi satu kesatuan dan kekuatan, yang diikat dengan pita. Tanah Air Kita, karena dibangun atas dasar kesamaan, ini bukan milikku, milikmu tapi milik kita bersama.

Anda optimis dapat membesarkan partai ini?

Sangat optimis, didukung oleh kondisi objektif bangsa ini, konsep yang kita siapkan, dan keyakinan.

Kapan PITA dideklarasikan?

Sudah pasti tanggal 7 April 2002, PITA akan dideklarasikan di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Pendukungnya, selain Rachmawati adalah cendikiawan-cendekiawan dan beberapa kelompok sosial di masyarakat. Saya tidak mau menyebutkan nama. Nanti saja saat deklarasi akan ketahuan.
Saya juga baru kembali dari Bali dan mendapat dukungan di sana, yang kita tahu adalah basis PDI-P. Ada beberapa yang menyatakan masuk ke PITA. Mereka tidak membelot karena partai politik itu harus berdasarkan kebebasan individu. Bebas keluar juga bebas masuk, tentu saja dengan syarat harus mencopot dulu keanggotaan mereka di partai sebelumnya.

(MIS/Yura Syahrul)

[an error occurred while processing this directive]