[an error occurred while processing this directive]
KH Cholil Bisri:
Tokoh Fraksi Kebangkitan Bangsa, Kiai Haji Cholil Bisri, tidak memberi suara pada Sidang Paripurna DPR, yang menentukan Pansus Buloggate II. Ulama NU dari Rembang, yang menduduki Wakil Ketua MPR itu, mengaku tak punya niat menggembosi suara FKB. Lalu, mengapa dia ke luar ruang sidang saat voting?
Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB 'Kuningan' itu bertutur panjang lebar pada reporter Tempo News Room Wahyu Dhyatmika. Menyitir hadis, Kiai Cholil menjelaskan sejumlah kalangan di FKB menilai pembentukan Pansus Buloggate II tidak berguna lagi. Ia juga jelaskan misi PKB: tetap tampil di percaturan politik. Dan, strateginya, bergandengan dengan kekuatan partai politik lain. Termasuk mendekati Golkar?
Dia juga bertutur tentang Sekjen DPP PKB 'Kuningan' Syaifullah Yusuf, yang banyak dinilai membawa perubahan segar di PKB, namun santer disebut-sebut berseberangan dengan Ketua Dewan Syuro PKB 'Kuningan KH Abdurrahman Wahid yang juga pamannya sendiri. Berikut petikan wawancaranya.
Lalu siapa saja yang tidak hadir saat itu?
Tapi tidak memberikan suara?
Ali Masykur menyebut ada delapan orang yang ikut sidang, tapi tidak memberi suara. Bagaimana ini?
Sehari sebelum sidang, Anda bertemu Syaifullah Yusuf di acara GP Ansor: menonton final Piala Dunia dengan KSAD Ryamizard Ryacudu. Apa yang disampaikan Syaiful pada Anda? Kabarnya sempat berbicara lama?
Isi pembicaraan dengan Syaiful?
Tidak membicarakan persiapan sidang paripurna?
Tidak ada gerakan menolak instruksi Dewan Syuro DPP PKB?
Sebelum sidang, Anda dan Syaiful memanggil anggota FKB?
Kabarnya Syaifullah ada di ruang kerja Anda?
Gembosnya suara FKB bukankah itu indikasi menentang instruksi Dewan Syuro agar berjuang sampai titik darah penghabisan? Bukankah Sidang Paripurna itu peristiwa penting yang sudah lama ditunggu PKB sejak mengusulkan Pansus Buloggate II?
Siapa saja yang ngotot meminta Pansus?
Lantas, siapa saja yang menilai tidak lagi berguna?
DPP PKB akan membentuk tim investigasi?
Tapi, mengapa pembentukan Pansus dinilai tidak ada gunanya lagi?
Bukankah Pansus Bulog itu sebuah harga politik yang dituntut PKB karena mantan Presiden Wahid diberhentikan dengan senjata sama? Kesannya PKB mendekati Golkar?
Strategi ini sudah disepakati semua elemen di tubuh PKB?
[an error occurred while processing this directive]
Saya Siap Diberi Sanksi!

Kenapa Anda meninggalkan Sidang Paripurna DPR ketika pemungutan suara tentang nasib Pansus Buloggate II?
Ah…siapa yang bilang? Saya masuk kok!
Ada delapan yang pasti tidak bisa hadir. Empat wafat, sedang empat lagi dari kelompoknya Abdul Khalik Ahmad (Sekjen DPP PKB 'Batutulis'). Selain itu ada dua orang di rumah sakit: KH Imam Mansyur operasi jantung dan KH Dawam Anwar cuci darah. Sedang KH Ma'aruf Amien berhalangan. Kadar gula dan tekanan darahnya naik. Lalu KH Machrus Usman (mantan Ketua Dewan Syuro DPD PKB Bali) itu sedang mantu. Saat sidang, saya keluar menelepon Kiai Machrus. Karena semula saya akan mengawinkan anaknya. Saya memberitahu tidak bisa datang karena sidang paripurna. Jadi saya memang hadir...
Saya sudah bilang sama Ali Masykur Moesa (Ketua FKB di DPR), saya mau ke luar sebentar. Jadi tidak ada niat saya untuk sengaja tidak memberi suara.
Kalau itu, saya tidak tahu. Dewan Syuro dan DPP PKB akan mengambil sikap. Kami akan tanya: apa alasan tidak hadir? Kalau masuk akal, tak masalah. Tapi, kalau tidak bisa diterima, akan kami gunakan mekanisme organisasi. Muhaimin Iskandar (Wakil Ketua DPR dari FKB), itu tidak datang. Rapat Pimpinan DPR juga jarang datang… (tertawa). Saya sendiri siap bertanggungjawab. Silahkan diberi sanksi. Yang jelas, saya sudah pamit. Waktu itu, saya tiba-tiba teringat (untuk menelepon): 'plenthing' lalu saya lari. Saya siap diberi sanksi.
Itu kan acara biasa. Saya ikut agar semua komponen bangsa itu bisa saling sapa. Saya yakin, dengan kerukunan, Allah bisa memberi berkah. Kalau para pemimpin rukun, yang untung kan rakyat? Makanya ketika diajak, saya tanya dengan siapa? Dengan Ryamizard dan Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU) dan seluruh ketua organisasi pemuda di Jakarta. Saya datang.
Ndhak ada. Cuma bicara bola.
Ya, kami bicara bagaimana ke depan. Syaiful itu potensi. Dia punya kemampuan lebih. Paling tidak, saat ini, dia potensi Nahdlatul Ulama, karena masih Ketua Umum GP Ansor. Prestasinya pun lumayan untuk merangkum dan membentuk kebersamaan antara komponen bangsa. Tidak ada pertentangan ntara dia dengan Ketua Dewan Syuro (Gus Dur). Hanya kadang beda pendapat.
Tidak ada gerakan itu. PKB kompak: mendukung Pansus Buloggate II.
Tidak. Tanya saja mereka! Tidak ada pertemuan di ruangan saya. Mereka kumpul di ruangan MPR. Saya hitung 23 orang. Tapi, pas voting, kok hanya ada 19 orang? Sisanya ke mana? Ini mesti dicari! Kalau yang mangkir, memang biasanya tidak datang... ha-ha-ha.
Ndhak ada! Coba tanya sekretaris saya! Begitu sidang selesai, saya langsung kesini. Ndhak ada Syaifullah di sini.
Tidak! Ndak ada itu. Tahu sendirilah, PKB itu orangnya tua-tua. Dan di samping tua, punya tugas dan tanggung jawab sendiri. Seperti saya. Untuk datang terus ke acara MPR/DPR, sangat sulit. Sebab di rumah, saya punya tanggung jawab untuk mengurus pesantren.
Lha iya! Begini lho ya, memang ada wacana awal… pembentukan Pansus ini dinilai sudah tidak relevan. Apa masih ada perlunya? Sebab PDIP menyatakan sikapnya, jelas-jelas menolak. Wacana ini belum sampai dituntaskan, Sidang Paripurna sudah masuk ke pengambilan keputusan. Tapi, akhirnya, semua tetap sepakat: meminta pembentukan Pansus Buloggate!
Semua! Ya, hampir semua..
Biasanya yang tua-tua. Mereka berpendapat, bahwa melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya, tak akan dipuji. Tetap menuntut pembentukan Pansus, dinilai sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Datang atau tidak datang, sama saja. Tidak ada gunanya!
Saya yang memerintahkan membentuk tim penyelidik, mengklarifikasi mereka yang tidak hadir. Hasilnya dilaporkan Dewan Kehormatan Fraksi.
Ada hadis yang baik untuk menggambarkan itu. Orang PKB itu kan kiai semua. "Orang Islam yang baik harus meninggalkan yang tidak ada gunanya."
Ini sudah jelas! Dalam politik orang tidak boleh grusa-grusu (ceroboh), yang bisa membuat terantuk batu, yang mencelakakan dirinya. Tidak boleh terperosok dan tidak bisa bangkit lagi. Politik harus mengenal kemungkinan-kemungkinan. Inilah yang dikejar PKB sebagai kendaraan agar sampai tujuan.
Iya itu hanya di permukaan saja. Saya juga sangat sependapat kalau dibangun sebuah kemitraan untuk masa depan bangsa, untuk recovery ekonomi.
Di PKB, sudah ada berjalan. Kesepakatan ini muncul dalam pertemuan PKB dengan kiai-kiai sepuh di Mranggen, Jawa Tengah. Jadi, kemungkinan untuk terus terlibat dalam percaturan politik, memang harus diupayakan. Bahkan ada sementara pihak menilai, kalau kita tetap berpegang pada dikotomi Islam-Nasionalis, bisa rusak bangsa ini.