[an error occurred while processing this directive]
Arifin Djunaidi
Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya, Jakarta, kedatangan tamu istimewa, Selasa (4/6). Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati Soekarnoputri, keluar dari mobil. Ia menyalami KH Abdurrahman Wahid, lalu mencium tangan Ketua Dewan Syuro DPP PKB 'Kuningan' itu. Jauh sebelumnya sangat akrab, tapi hubungan mereka putus ketika Sidang Istimewa MPR setahun lalu mengganti Gus Dur dari kursi keprisidenan.
Pertemuan itu dijalin lewat kontak beberapa orang, melibatkan Ketua Umum DPP PKB 'Kuningan' Alwi Shihab, Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB 'Kuningan' Arifin Djunaidi, Ketua DPP PDI Perjuangan Suparlan dan Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di DPR Cahyo Kumolo yang amat dipercaya Taufik.
Benarkah pertemuan itu hanya diisi sendau-gurau? Adakah kaitan dengan pertemuan tokoh-tokoh Islam, di rumah Amien Rais, yang diperhitungkan akan mengancam Presiden Megawati menjelang Sidang Tahunan MPR? Bagaimana peluang aliansi PDI Perjuangan-PKB, yang disebut-sebut Alwi mewakili Islam moderat dan kaum nasionalis? Berikut wawancara wartawan Tempo News Room Hilman Hilmansyah dengan Arifin Djunadi.
Apa yang dibicarakan dalam pertemuan di Teuku Umar?
Anda sampaikan keinginan Taufik itu pada Gus Dur?
Ringkasnya, pertemuan Gus Dur-Taufik dimulai dari kunjungan Anda dan Alwi ke Jalan Teuku Umar. Kunjungan Alwi atas permintaan Taufik?
Apa lagi yang dibicarakan dalam pertemuan di Teuku Umar, selain Taufik mengungkapkan ingin bertemu Gus Dur?
Bisa Anda gambarkan pertemuan Taufik-Gus Dur?
Masak hanya bercanda?
Hubungan Gus Dur-Taufik putus sejak Sidang Istimewa MPR. Apakah pertemuan itu mencairkan kebekuan itu?
Jadi, sama sekali tidak ada yang serius?
Selain itu?
Kalau itu pertemuan awal, berarti akan berlanjut?
Taufik menyumbang dana ke Gus Dur?
Pertemuan itu dimanfaatkan Gus Dur untuk naik lagi di pentas politik?
[an error occurred while processing this directive]
Taufik Kiemas Janji Bantu PKB

Bagaimana awal pertemuan Gus Dur-Taufik Kiemas?
Pihak Taufik sudah lama berkali-kali kontak, cuma waktu belum klop. Minggu malam lalu, saya dikontak orang Taufik. Katanya, Senin jam 11.00 wib, saya dengan Pak Alwi Shihab (Ketua Umum DPP PKB 'Kuningan') diterima Taufik di rumah dinas presiden Jalan Teuku Umar. Saya minta ijin Gus Dur, boleh atau tidak. Gus Dur mengijinkan. Saya bersama Pak Alwi dan Ibu Khofifah Indar Parawansa diterima Taufik dengan Cahyo Kumolo.
Kami ngobrol. Taufik tanya kesehatan Gus Dur. Kami jelaskan, Gus Dur sudah pulang dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, check up biasa. Taufik merasa tidak enak karena belum menengok. Ia lalu berkata, "Saya ke sana tapi tolong ditemani." Kami lalu mengatur waktu, karena Gus Dur mau ke luar kota. Taufik ingin secepatnya bertemu Gus Dur karena akan ke luar negeri.
Iya. Pulang dari Teuku Umar, saya dan Alwi ke Kantor PBNU untuk bertemu Gus Dur. Saya sampaikan Taufik mau ketemu. Gus Dur bilang, "Silahkan saja! Yang namnya tamu, saya terima kapan saja, silahkan. Sebaiknya di rumah Ciganjur, besok (Selasa) jam 09.00 wib atau pukul 20.00 wib." Lalu, saya kontak Cahyo Kumolo. Ternyata, pada jam-jam itu Taufik ada acara. Ada alternatif, Selasa siang. Gus Dur tidak keberatan, tapi tidak di rumah, melainkan di Kantor PBNU. Senin sore, Cahyo memastikan pertemuan jam 13.30 wib. Gus Dur menjawab, silahkan datang, diterima, tidak perlu ada persiapan. Selasa, sekitar pukul 10.00 wib, Cahyo telepon saya lagi, untuk memastikan lagi pertemuan itu. Saya kontak Gus Dur, jadwal tidak berubah.
Saya tidak tahu. Saya ditelepon orang dekat Taufik, teman saya, beberapa kali. Dia bilang, Taufik Kiemas ingin ketemu. Saya bilang tidak mau ikut, karena belum dapat lampu hijau dari Gus Dur. Namun, dia menyatakan saya harus ikut. Senin pagi, sekitar pukul 06.30 wib, Gus Dur telepon, mengijinkan saya ikut. Yang didaftar Alwi, Khofifah dan saya.
Kami berterima kasih Taufik menyediakan waktu. Kami minta bantuan soal PAW (pergantian antar waktu) anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa yang belum dilantik. Taufik menjanjikan akan membantu. Ketika di Teuku Umar, Taufik menyebut-nyebut pertemuan di rumah Amien Rais, yang diikuti tokoh-tokoh partai Islam. Namun, saat bertemu Gus Dur, Taufik tidak menyinggung masalah itu.
Taufik datang, mencium tangan Gus Dur. Taufik bilang, "Minta maaf ya Gus atas segala kesalahan." Gus Dur diam, tidak menjawab. Lalu Taufik bertanya kesehatan. Gus Dur menjelaskan, "Saya nggak sakit kok, check up biasa, terlambat satu bulan. Ada obat yang harus dimasukkan melalui infus." Kemudian ngomong, bercanda-canda. Tidak ada yang penting. Saya di samping Gus Dur, di seberang Taufik, AS Hikam (Ketua DPP PKB 'Kuningan') danAlwi. Cahyo dan Suparlan di di ujung meja.
Omong-omong penting hanya dengan Alwi dan Hikam. Alwi bilang, Taufik ingin merajut kembali hubungan nasionalis dan Islam tradisional. Gus Dur diam, Taufik manggut-manggut. Taufik menanyakan apakah masih olahraga? Kata Gus Dur, masih jalan pagi di Ciganjur. "Kapan-kapan saya temani jalan pagi," kata Taufik. Gus Dur mempersilahkan.
Pada awalnya, Taufik kaku ketika bilang minta maaf, dan Gus Dur diam. Taufik salah tingkah. Ketika dia tanya kesehatan, Gus bilang tidak sakit, Taufik masih kaku. Tapi, sangat cair karena Gus Dur melontarkan joke-joke. Sampai-sampai, saat pamitan, lalu berjabat tangan, Taufik mencium tangan Gus Dur lagi. Taufik pergi, suasana sangat cair. Taufik ingin sering ketemu. Dia merasa tidak ada ganjalan lagi.
Tidak ada. Gus Dur cerita ada orang Madura naik kereta api dari Surabaya. Kereta penuh sampai WC pun diisi. Dia ingin sekali buang air, tapi tidak bisa, lalu ditahan. Sampai di Kertosono, nggak bisa turun. Di Madiun bisa turun. Tapi dimarahi petugas yang menghardik, "Kalau mau kencing yang jauh." Orang Madura itu menjawab, "Kurang jauh apa dari Madura sampai Madiun?" Mendengar joke itu, Taufik sontak tertawa. Di sela itu, Alwi menyinggung soal PAW. Taufik bilang akan bantu. Soal dana perimbangan Pemilu di Depdagri, Rp 1.000 per suara. Saat Pemilu 1999, PKB dapat 13 juta suara, berarti Rp 13 milyar. Taufik juga berjanji membantu.
Tidak ada. Waktu kami bertemu di rumah dinas presiden, Jalan Teuku Umar, memang disinggung soal pertemuan di rumah Amien. Tapi waktu ketemu Gus Dur, tidak. Taufik tahu diri karena itu pertemuan awal. Taufik minta sering-sering ketemu. Dia bilang, "Memang enak bergaul dengan orang PKB dan NU." Lalu, Pak Alwi menukas, "Makanya….dengan kami lah."
Saya kira pada kesempatan-kesempatan tertentu. Terlalu dini bicara soal serius, ini pertemuan awal. Yang lebih serius pada pertemuan lanjutan. Saya bilang pada Cahyo untuk saling kontak. Taufik bilang ingin sering ketemu. Ia menyatakan, "Enak bergaul dengan teman-teman NU, suka bercanda, banyak perbendaharaan canda." Saya tidak ingin ambil inisiatif. Biar dari sana. Nanti saya sampaikan pada Gus Dur. Bukan mustahil, mungkin saja terjadi aliansi PKB-PDI Perjuangan . Politik tidak ada yang abadi. Itu pertemuan awal. Bisa jadi pertemuan selanjutnya melibatkan pihak yang lebih luas.
Tidak. Taufik menawarkan apa yang bisa saya bantu? Tapi Gus Dur diam. Itu terjadi saat Gus Dur cerita kesibukan undangan. Ada tiga permintaan, dari pesantren, kiai dan masyarakat. Taufik mengira Gus Dur mengajukan permintaan. Jadi, tidak ada sumbangan.
Itu tidak beralasan. Dugaan itu tidak berdasar. Karena pertemuan itu bukan inisiatif Gus Dur. Gus Dur pasif. Tanpa pertemuan ini pun Gus Dur tetap jadi icon politik.