[an error occurred while processing this directive]
Datuk Anwar Ibrahim:
Pengacara senior Indonesia, Adnan Buyung Nasution, pekan lalu diusir dari Malaysia. Ini terjadi saat ia hendak menghadiri pertemuan yang diselenggarakan Partai Keadilan Nasional pimpinan Wan Azizah Wan Ismail, istri bekas wakil perdana menteri Malaysia, Datuk Anwar Ibrahim. Atas peristiwa itu, Buyung menyebut pemerintah negara ini masih menjalankan represi politik.
Betul begitu? Selasa pekan lalu, Budi Riza dan Tomi Aryanto dari Tempo News Room berhasil mewawancarai bekas Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim secara tertulis. Anwar, yang masih menjalani masa penahanannya berdasarkan tuduhan korupsi dan pelecehan seksual, memberi jawaban tertulis dengan pensil yang kemudian dikirimkan via e-mail oleh salah seorang koleganya. Berikut petikannya.
Bagaimana perlakuan pihak penjara terhadap Anda selama ini?
Bagaimana peluang upaya hukum yang sekarang ini terus Anda lakukan?
Apakah Anda masih aktif berhubungan dengan konstituen Anda, selama dalam penjara ini? Bagaimana Anda berkomunikasi dengan pendukung Partai Keadilan Nasional?
Apakah Anda sering memberi nasihat politik kepada Wan Azizah?
Bagaimana kesiapan barisan oposisi menghadapi Barisan Nasional dalam pemilihan umum yang dipercepat, Oktober ini?
Strategi apa yang dihadapi pihak oposisi dalam menghadapi tekanan pihak penguasa? Bagaimana komentar Anda mengenai peluang Abdullah Badawi untuk menggantikan Mahathir sebagai Perdana Menteri?
Di beberapa negara bagian, popularitas UMNO menurun. Anda melihat Badawi (pasca-Mahathir) bisa mengatasi hal ini?
*****
[an error occurred while processing this directive]
“Pemilu Malaysia Mirip Orde Baru di Indonesia”
Bagaimana kesehatan Anda selama ini di penjara?
Alhamdulillah, kesehatan saya umumnya terkawal. Hanya slip-disc di belakang yang merumitkan pergerakan bebas. Saya bergantung kepada ubat penahan sakit kerana usul pembedahan endoskopi di Munich (Jerman) telah ditolak oleh Dr. M. (Dr. Mahathir, red.).
Staf penjara sopan dan simpatik sekali. Tetapi mereka terikat dengan perintah dan pengawasan atasan. Saya dikurung di sel kecil dan tidak dibenarkan bergaul dengan tahanan lainnya. Saya sibuk beribadah, membaca, dan menulis tanpa radio, televisi, atau koran. Buku dan koran dibawa secara mingguan oleh peguam (pengacara, red.).
Para hakim bertindak dengan pedang Demodeus Dr. M terhunus. Penilaian seluruh badan perundangan dan hak asasi membuktikan sistem kehakiman Malaysia yang timpang dan tunduk kepada telunjuk eksekutif.
Komunikasi hanya terbatas kepada keluarga terdekat dan peguam. Rekan-rekan mengikuti berita dari peguam dan penulisan.
Azizah berjaya (berhasil, red.) memimpin partai dengan baik. Ada saya berikan nasihat dalam beberapa isu.
Pemilu Malaysia mirip di zaman Orde Baru Indonesia. Daftar pemilih, kaedah kempen (kampanye, red.), pengawasan media, dan kempen semuanya masih dikendalikan. Masih belum jurdil! Kendati begitu, citra oposisi tetap ditingkatkan dan majlis penerangan (humas,red.) bersama dirancang lebih maju.
Kita masih menuntut tahanan politik dibebaskan. Beberapa tokoh Keadilan masih meringkuk di penjara. Tekad perjuangan pendukung perlu tebal. Dalam ruang terhad (terbatas, red.), kita mendedahkan (mengecam, red.) korupsi, kroniisme, dan nepotisme Dr. Mahathir dan pimpinan pemerintah. Kita juga mengemukakan agenda reformasi dan baru-baru ini Belanjawan Alternatif (Anggaran Belanja Alternatif, red.) sebagai program kita.
Soal pengunduran Dr. M adalah taktik politik licik. Dalam tindakannya hingga kini belum terdapat pertanda positif hasrat pengundurannya. Strategi beliau ialah agar oposisi dan rakyat tidak terlalu menyoroti dirinya dan keluarga. Umumnya rakyat menilai Abdullah tak punya wawasan.
Kemerosotan dukungan terhadap UMNO bukanlah semata karena menolak rasuah (korupsi, red.) dan kezaliman Dr. M, tapi seluruh sistem yang menafikan hak rakyat dan menghalalkan korupsi. Sukar buat Abdullah memperbaiki budaya korupsi UMNO. Pemimpin kecil di daerah saja sudah jadi jutawan! Kami mengajak rakyat mendukung demokrasi dan menegakkan keadilan.
Menteri Pertahanan Datuk Seri Najib Razak mengatakan baru-baru ini bahwa para pendukung gerakan reformasi mendesak dirinya untuk melakukan kudeta (coup d'etat) terhadap pemerintahan Mahathir pada Pemilihan Raya tahun 1999. Apa ini benar? Apa tujuan militer di balik berkembangnya isu sensitif ini menurut Anda?
Dongeng seperti ini lumrah buat pimpinan yang terdesak--mereka-reka yang mungkin. Jika berasas tuduhan tersebut, mengapakah tidak diusut sejak 1999? Hingga kini tidak ada satu keterangan yang dikemukakan. Taktik seperti ini selaras dengan budaya takut, culture of fear, yang digunakan untuk menghadang kemarahan rakyat menentang kezaliman pemerintah. Pihak militer tidak terlibat dalam mainan politik murahan seperti ini. Imej mereka di Malaysia adalah bersih. Terima kasih. Salam reformasi.
(Tanda tangan dan nama Anwar Ibrahim)