[an error occurred while processing this directive]
Amien Rais, Ketua Umum Partai Amanat Nasional
Amien Rais menyatakan sudah siap mundur dari jabatan ketua umum Partai Amanat Nasional untuk menghindari rangkap jabatan karena ia juga menjadi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. Tapi ternyata pernyataan ini tidak terealisir.
Kepada Heru CN dari Tempo News Room, yang mewawancarai di kediamannya di Yogyakarta, Amien mengatakan ia gagal mundur karena tidak ada kesiapan partai. Partai, dalam sidang pleno Dewan Pimpinan Partai, menolak pengunduran diri ini. Selain itu, ia juga mendapat "pesan" dari partai lain yang takut efek domino. Berikut petikannya:
Artinya Anda akan tetap menerima sebagai ketua umum PAN?
Soal rangkap jabatan, dalam sidang pleno yang diperluas itu tak dibicarakan pula rangkap jabatan di eksekutif seperti Hatta Rajasa?
Bukan berarti bisa dikatakan regenarasi di PAN gagal? Jadi sebetulnya ketidaksiapan terjadi pada second line di PAN?
Boleh dikatakan, ketidaksiapan pada second line itu karena kurangnya sosialisasi?
Padahal langkah Anda untuk mundur itu bisa mempelopori yang lainnya?
Tetapi pertanyaannya kapan siapnya kalau tidak dimulai dari sekarang ini?
Dengan demikian isu rangkap jabatan akan berhenti?
[an error occurred while processing this directive]
"Saya Mundur akan Punya Dampak Domino"

Bagaimana tanggapan Anda terhadap penolakan pengunduran diri oleh DPP PAN?
Begini, pada tingkat personal saya sudah mantap, siap untuk mundur dari jabatan ketua umum DPP PAN dalam rangka menghindari rangkap jabatan sebagai ketua MPR. Saya sudah mencoba mensosialisasikan secara agak cepat ke pengurus inti, tetapi tentu saya tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Karena saya sebagai ketua umum DPP PAN juga dipilih lewat kongres dan di pundak saya ada amanat untuk memimpin partai ini sampai tahun 2005.
Nah, karena itu secara terbuka dan demokratis, saya minta pertemuan sidang pleno DPP PAN yang diperluas. Dalam arti, 30 ketua DPW dari 30 provinsi yang ada juga diundang ke Jakarta. Dan kemarin memang semua datang, termasuk dari Papua. Yang datang ketuanya sendiri dan didampingi oleh sekretaris.
Saya sudah menggunakan kesempatan 20 menit, secara persuasif, untuk meyakinkan bahwa yang paling tepat pada saat seperti ini PAN harus mempelopori penghindaran rangkap jabatan itu. Setelah saya memberikan klarifikasi 20 menit itu, dibuka tanya jawab dan hanya tiga orang yang bertanya, karena pimpinan sidang itu menyatakan jangan memberikan komentar, jangan menyanggah, jangan mendukung tapi tanyakan saja pada apa yang belum terklarifikasi.
Setelah itu, saya diminta untuk tidak hadir (keluar ruangan) supaya teman-teman bisa bebas mengemukakan pendapatnya.
Secara singkat, bisa disimpulkan, memang ternyata DPP PAN sendiri maupun sebagian besar DPW belum siap. Jadi ini masalah kesiapan.
Secara prinsipil mereka paham, menghargai bahkan itu sebagai yang recomendable, tapi kenyataannya PAN sendiri baru berusia 3,5 tahun, balita saja belum selesai, dan saya termasuk salah seorang pendiri dan telah dipilih oleh kongres dengan amanat memimpin PAN itu, maka mereka mengatakan semacam ada jalan tengah.
Ini tidak tertulis, tapi saya melihat bahwa pada saatnya saya akan dilepas. Mungkin maksudnya, pada saat kampanye pemilu yang akan datang. Istilah teman-teman, saya akan diwakafkan untuk kehidupan bangsa, untuk perjuangan yang lebih luas. Jadi sembari mematangkan gagasan ini, dalam tempo 1,5 tahun mendatang itu, memang harus membantu konsolidasi PAN dan lain sebagainya.
Ya karena saya tidak mungkin lantas saya meninggalkan partai saya begitu saja tanpa keikhlasan dari teman-teman.
Tidak ada sama sekali. Karena kalau itu yang dipermasalahkan, saya kira lantas kita mempersoalkan Sekjen DPP PPP, Ali Marwan, dan lain sebagainya. Kita itu memang merasakan ada yang aneh dan menarik.
Jadi mengapa PAN yang dikejar sementara partai lain tidak dikejar? Jadi sepertinya kita disudutkan. Tapi pada saat yang sama kita mungkin berpandangan yang positif. Ya mungkin PAN sebagai partai yang paling reformatif, sehingga masih bisa menerima gagasan-gagasan yang baru itu.
Jadi di satu pihak kita merasa aneh kenapa PAN yang hanya dikejar-kejar? Tetapi mungkin harapan masyarakat sedikit banyak ada pada PAN. Jadi memang saya merasakan bahwa terobosan yang saya lakukan itu masih mental bahkan di kalangan saya sendiri.
Apalagi mungkin di kalangan yang lain itu. Jadi mereka menyatakan apresiatif pada pilihan saya, asal jangan sekarang. 'Tolonglah satu atau satu setengah tahun lagi, karena Anda masih diperlukan'. Karena itu mungkin hari-hari ini saya akan lebih aktif konsolidasi ke berbagai wilayah atau daerah sehingga ketika saatnya saya harus meninggalkan partai saya tidak ada guilty feeling.
Saya belum pantas untuk diregenerasi karena saya baru satu setengah tahun memimpin DPP PAN. Kecuali saya pada tahun 2005 dipilih lagi. Nah, kita bisa bicara Amien Rais gagal melakukan regenerasi. Atau, angkatan Amien Rais atau angkatan pelopor PAN itu gagal melakukan regenerasi. Karena itu saya mengatakan kalau saya masih hidup dan sehat lagi akan mempimpin PAN lagi pasca 2005, lucu sekali. Karena umur saya sudah 60 tahun masih memipin partai.
Betul. Saya juga bisa memaklumi karena masih belum banyak capaian yang didirikan. Partai kan belum balita. Bahkan saya belum pernah pergi ke Maluku, Sulawesi Tengah. Saya belum meng-cover semuanya.
Betul. Ini kan mendadak sekali. Dari gagasan yang saya lontarkan sampai dengan sidang pleno yang diperluas itu kan belum ada 10 hari. Memang ada suara dari akar rumput PAN sendiri yang ketika saya mendengar itu agak kaget. Mereka tidak lagi melihat konteks saya mundur dari PAN itu karena rangkap jabatan. Mereka itu hanya tahu Amien Rais mundur dari PAN, sehingga saya mendapat telepon dari Jawa Barat, Jatim, dan lain sebagainya, dari orang awam PAN, mengatakan kalau pak Amien mundur dari partai kita harus bagaimana, wong pak Amien sendiri pendiri PAN. Jadi mereka sudah lupa bahwa ini dalam rangka menghindari rangkap jabatan.
Lantas yang berikutnya, ada yang bersuara jangan sampai pak Amien meninggalkan PAN itu untuk memburu kursi presiden. Ini kan lebih mengagetkan lagi. Jadi ini perlu sosialisasi. Tidak bisa vini vidi vici.
Begini. Ini sebetulnya ada rahasia di balik berita. Story behind the news. Memang saya dihubungi oleh teman-teman, yang secara tidak langsung memberikan message dari parpol-parpol yang besar itu yang menyatakan janganlah Amien Rais itu mundur dari Ketua Umum PAN. Karena itu akan punya dampak domino, dalam arti tentu masyarakat akan menuntut yang lain bagaimana. Jadi tolong Amien Rais punya solidaritas kepartaianlah. Jangan maju sendiri, lari sendiri, kemudian yang lain agak kecontalan juga harus ikut. Saya bisa pahami itu. Dan memang message itu sampai saya dari partai-partai itu. Nah sekarang bisa dibayangkan saja, kalau partai saya belum siap, yang lain mungkin lebih tidak siap lagi.
Itu juga betul. Seperti kata Bung Karno, kalau proklamasi Indonesia menunggu sudah sejahtera dan menunggu persentase melek huruf sampai lima puluh persen dan lain-lain, ya kita tak merdeka-merdeka. Menurut saya sudah cukup kuat, apalagi partai saya tidak cukup besar dan intelektual juga harusnya berani. Itupun ternyata belum. Oleh karena itu saya harus realistis.
Saya kira akan ada aksi dan reaksi antara parpol dengan masyarakat luas. Karena suara media massa dan masyarakat itu akan ditangkap akurat oleh para politisi itu. Jadi kalau masyarakat itu tidak berhenti maka gagasan itu akan tetap bergulir.****