[an error occurred while processing this directive]

Adi Sasono
Bangsa Ini Sudah Compang-camping

Bukan Adi Sasono jika tidak mengundang kontroversi. Aktivis LSM yang pernah menjadi Menteri Koperasi di era Presiden B.J. Habibie ini malah pernah mendapatkan gelar Most Dangerous Man dari Asiaweek.

Belakangan, namanya muncul kembali karena perannya menggagas pertemuan para tokoh Islam yang kemudian juga memancing pertemuan kubu lain. Bahkan, suami Presiden Megawati, Taufik Kiemas pekan ini sampai merasa perlu melakukan safari politik mendekati para tokoh Islam. Kepada Budi Putra dari Tempo News Room Ketua Umum ICMI ini mengungkapkan latar belakang pertemuan itu:


Apa yang menjadi inti pertemuan para tokoh Islam di rumah Ahmad Tirtosudiro, Amien Rais, dan Jusuf Kalla?
Pertemuan itu murni acara silaturahmi. Kita berkumpul dan membicarakan berbagai permasalahan bangsa mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga pendidikan. Karenanya, kita mengundang sejumlah pakar di bidangnya, seperti Sjahrir, Rizal Ramli, Bagir Manan, Mahfud Md.
Mereka adalah para ahli di bidang mereka dan diminta memberikan masukan agar pembicaraan dalam pertemuan menjadi terarah dan ada manfaatnya. Sasarannya jelas, yaitu menyusun agenda yang dapat mempercepat Indonesia keluar dari krisis yang dirasakan masih berkepanjangan ini.

Sampai tengah malam?

Tidak. Paling sampai pukul 10.00, karena sebagian besar yang hadir tidak sanggup ngobrol sampai tengah malam. Jadi, pertemuan itu sangat rileks, ada canda-canda dan ketawa-ketawanya juga.

Banyak kalangan menilai, pertemuan yang hanya melibatkan tokoh Islam itu berpretensi menjatuhkan Megawati?

Pertemuan itu nggak ada kaitannya dengan tudingan akan menjatuhkan pemerintah Megawati. Yang kita bicarakan dalam pertemuan itu sangat luas kok dan cenderung ilmiah.

Di samping tiga pertemuan yang sudah terekspos, adakah pertemuan lain sebelum itu?

Ya, ada, tapi pertemuan dalam lingkup internal pengurus ICMI sendiri. Kami di ICMI bertemu sekitar dua bulan lalu, yang kemudian tercetus gagasan untuk mengundang berbagai pihak. Gagasannya bermula dari keinginan untuk keluar dari krisis yang masih berkepanjangan ini. Di ICMI sendiri kami melihat ada beberapa persoalan bangsa yang harus segera dirampungkan, dicarikan solusinya, sehingga kita akan menemukan di mana kita bisa berkontribusi.

Apa ini artinya ICMI akan comeback ke dunia politik praktis?

Dari dulu ICMI bukan aktor politik, tapi wadah para intelektual untuk memberikan kontribusi dalam persoalan bangsa. Jika kemudian ICMI menggagas pertemuan yang membicarakan berbagai kebijakan publik, itu jelas wilayah intelektual yang memang menjadi kewajiban ICMI untuk membicarakannya.

Tapi, tetap ada kekhawatiran, misalnya menjelang kejatuhan pemerintah Wahid juga didahului pertemuan-pertemuan serupa?

Secara pribadi saya katakan, pertemuan itu sangat teknis. Bagaimanapun, kita berkewajiban memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah bangsa.

Juga untuk menggalang kekuatan menghadapi Pemilu 2004?

Tidak benar, pembicaraan kami bersifat sangat teknis menyangkut persoalan bangsa. Tak ada pembicaraan soal pemilu.

Tapi, soal tudingan bahwa pertemuan itu untuk membentuk kaukus Islam semacam Poros Tengah masa kini?

Pertemuan itu adalah silaturahmi. Karena memang ada keinginan dari kita sendiri untuk bertemu. Jadi, kalau dibilang pertemuan itu untuk membentuk kaukus Islam, pengertiannya jadi sangat sempit dan mereduksi makna silaturahmi.

Atau, mungkin silaturahmi politik?

Silaturahmi, ya, silaturahmi saja.

Sekali lagi, mengapa hanya melibatkan tokoh Islam?

Soal yang hadir adalah para tokoh Islam kan relatif. Orang ICMI kan ada di mana-mana, malah di semua partai. Orang ICMI ada di PAN, PPP, PBB, dan di PDIP juga banyak tokoh ICMI, begitu juga di Golkar. Yang diundang lebih dalam kapasitasnya sebagai pribadi. Jadi, tak perlu khawatirlah soal itu.

Apa betul pertemuan-pertemuan itu akan diperluas dengan mengundang tokoh Islam lainnya, malah akan melibatkan tokoh-tokoh radikal?

Oh, tidak. Sejauh ini tidak ada rencana seperti itu. Bahwa akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya memang ada, tapi belum ditentukan teknisnya. Termasuk soal mengundang tokoh-tokoh radikal yang Anda bilang itu, belum ada arah ke sana. Lagi pula, radikal itu apa, sih? Kita semua pada dasarnya harus radikal, yaitu melakukan dan mengerjakan sesuatu secara tuntas, dari akar-akarnya. Itu radikal namanya. Selain itu, kita juga akan sulit menentukan siapa saja tokoh radikal.... Apakah yang radikal itu PRD atau FPI? Nah, repot kan?

Apakah pertemuan itu nanti akan mengundang misalnya tokoh dari FPI ataupun Laskar Jihad?

Sejauh ini belum ada rencana soal itu. Lagi pula, kalau ada rencana mengundang Ja'far Umar Thalib, pasti pertemuannya di Mabes Polri.

Anda ketemu Taufik Kiemas pekan lalu, apa yang dibicarakan?

Pembicaraannya hanya yang umum-umum saja sambil makan siang

Apa yang spesifik?

Kita berbicara berbagai masalah bangsa yang sedang compang-camping ini.

Soal Kaukus Islam?

Kami tidak ada bicara tentang itu. Kalau Taufik Kiemas ingin bicara soal itu, tentu saya bukan orang yang tepat. Saya bukan orang politik. Sekali lagi, ICMI bukan kelompok atau partai politik

Apa betul Taufik Kiemas menemui Anda untuk menahan laju Amien Rais yang diduga ingin menjatuhkan pemerintah Megawati?

Saya kira itu terlalu jauh. Saya rasa Pak Amien tidak akan melakukan itu.

Sebagai penggagas pertemuan mungkin Anda tidak berniat membentuk Kaukus. Tapi mungkin ada yang memanfaatkannya untuk kepentingan itu?

Saya kira tidak.

Amien Rais pernah menyatakan kalau tetap akrab akan terbentuk Kaukus Islam?

Menurut saya persoalan bangsa kita sekarang tak mungkin dibatasi atau dipersempit dengan dikotomi Islam-non Islam. Kita harus menciptakan suatu kebersamaan. Sampai kapan kita mau melihat kondisi seperti sekarang berlarut-larut?

Bagaimana dengan rencana pertemuan di rumah Ali Marwan Hanan 10 Juni mendatang? Apakah juga mengundang semua pihak?

Anda lihat saja, pertemuan itu bersifat terbuka. Siapa pun bisa hadir di sana.***

[an error occurred while processing this directive]