[an error occurred while processing this directive]
Tomy Winata:
Tomy Winata bertahan bahwa dia tak pernah memerintahkan aksi penyerangan ke kantor majalah Tempo. Tetapi David dan Teddy Uban memang orang-orang yang bekerja dengan Tomy. Ikuti wawancara khususnya:
“Biar tidak dikira racun, saya makan duluan, ya?”
Itu ucapan Tomy Winata kepada delapan wartawan Tempo yang berdiam diri menatap delapan mangkuk sup krim jagung yang disuguhkan.
Setelah begitu banyak kisah tentang bos Artha Graha grup ini, baik yang mitos maupun yang nyata, tak mudah untuk begitu saja melahap suguhannya. Apalagi setelah peristiwa demonstrasi ke kantor majalah ini, Sabtu dua pekan silam, yang kemudian menggegerkan masyarakat negeri ini. Aksi itu berkait dengan berita majalah ini yang berjudul Ada Tomy di ‘Tenabang’?. Meski majalah ini sudah menerima somasi pada Jumat dua pekan silam, toh sekitar 100 orang berbadan kekar datang; berteriak-teriak, menggoyang pagar dengan tak sabar. Apa yang terjadi pada Sabtu dua pekan silam itu--termasuk pemukulan terhadap Pemimpin Redaksi majalah ini, Bambang Harymurti--mengundang hujan kecaman dari berbagai penjuru. Kecaman terhadap kekerasan itu, termasuk pihak luar negeri dan kalangan diplomatik, menyimpulkan bahwa telah terjadi premanisme terhadap pers itu di negeri ini.
Tapi Tomy Winata mengaku tidak menyuruh anak buahnya mendemo kantor Majalah Tempo. "Saya tidak pernah menyuruh mereka demo, malah mencegahnya," katanya kepada tim Tempo yang akhirnya dengan santai menghirup sup jagung itu. Diwawancarai di rumahnya di kawasan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Rabu pekan silam, Tomy Winata, 45 tahun, tampak santai mengenakan celana pendek putih dan kaus putih. Rumah yang terletak di atas lahan satu hektar itu menyediakan hampir segala impian: taman yang asri, kolam renang, taman bermain anak-anak, ruangan home theatre lengkap dengan sofa empuk dan tiga buah televisi besar serta patung seekor harimau yang juga besar. Mau olahraga? Di ruangan sebelah kanan ada arena olahraga yang dilengkapi aneka macam peralatan kebugaran dan meja makan. Ada dua buah televisi di situ. Tuan rumah bisa berolahraga sembari menonton televisi.
Penjagaan rumah pengusaha yang berkongsi dengan militer ini terbilang ketat. Di pos pintu masuk berjaga-jaga delapan orang anak buahnya yang mengenakan pakaian safari dan dihibur oleh acara televisi 14 inci.
Menghadapi delapan wartawan Tempo, Tomy juga siap dengan timnya, yakni Nadjib Salim Attamimi, Yusuf Yasid (Direktur Media Relation Group Artha Graha), Ahmed Kurnia, dan seorang kuasa hukumnya. Satu di antara tim Tomy mencatat seluruh wawancara dengan takzim. Tiga orang pembantu yang mengenakan pakaian seragam putih mondar-mandir menyediakan camilan kacang goreng, sup, serta air putih. Berikut petikan wawancaranya yang berlangsung selama dua jam itu.
Saat penyerbuan itu Anda berada di mana?
Siapa polisi yang menelepon Anda itu?
Maksud Anda, Kapolres Jakarta Pusat?
Kapolsek Menteng?
Kapan persisnya Anda menelepon David?
Apakah David melapor setiap perkembangan di lapangan?
Di kantor Kepolisian Resor Jakarta Pusat, anak buah Anda memukul wartawan Tempo di depan polisi.
Di kantor polisi, David meneken surat perjanjian atas nama Anda. Itu atas perintah Anda?
Kalau Teddy Uban bagaimana?
Apakah Anda akan memberi sanksi kepada David?
Apa sebetulnya jabatan David itu dalam struktur perusahaan Anda?
Anda merasa dirugikan atau diuntungkan dengan kasus ini?
Seberapa serius ancaman itu? Apakah berani orang Tanah Abang mengancam Anda?
Kalau tulisannya dibaca dengan fair, tidak ada tudingan bahwa Anda berada di belakang kebakaran itu?
Sejak kapan persisnya Anda bereaksi atas berita Tempo soal Tanah Abang itu?
Bukankah jarang ada yang memiliki nomor telepon Anda, apalagi nomor telepon seluler?
Anda bilang ancaman itu datang sejak Kamis, tapi kuasa hukum Anda, Desmond Mahesa, menghubungi Tempo hari Rabu. Artinya, Anda mulai mempersoalkan berita itu sebelum ancaman itu datang?
Jadi nggak pernah ada wawancara itu?
Kepada sejumlah media Anda sempat bilang ada seorang cewek yang menelepon Anda. Jadi wawancara itu memang ada.
Di Polres Jakarta Pusat, David mengaku bahwa lampu-lampu di sana adalah hasil sumbangannya?
Jadi, network Anda disusupi info sesat maksudnya?
Katanya Anda keberatan dengan kata-kata pemulung. Tapi dalam aksi Sabtu dan pembicaraan di media massa, Anda keberatan dengan semua berita itu?
Ke mana arah kasus ini, menurut Anda?
Kenapa Anda mengaku tidak tertarik masuk ke Tanah Abang?
Semua ada awalnya kan?
Agak mengherankan juga sebenarnya, kenapa ketika Tanah Abang mau direnovasi, malah kebakaran dulu, ya?
Siapa orangnya?
Catatan: Artikel ini sudah diturunkan di majalah Tempo edisi 17 – 23 Maret 2003.
[an error occurred while processing this directive]
“Saya Mendukung Pelakunya Ditangkap”
Apakah Anda sendiri yang memerintahkan penyerbuan ke kantor Tempo dan apa alasannya?
Demonstrasi di kantor Tempo, saya ndak ngerti. Tapi sebaiknya Tempo meminta aparat penegak hukum agar kasus itu diusut tuntas. Apakah itu benar-benar penyerbuan atau demonstrasi sesuai dengan aturan yang digariskan undang-undang. Menurut saya, bahasanya dipelintir menjadi penyerbuan. Kalau saya komentar nanti ndak obyektif. Saya selalu di jalur yang konsekuen.
Sabtu pagi itu saya di sini, saya sudah mau jalan. Saya diberi tahu soal demo itu. Saya buru-buru buka TV dan memang di sana saya melihat orang-orang yang saya kenal. Saya sangat peduli dengan kualitas pemeriksaan polisi atas peristiwa ini, agar betul-betul terungkap. Karena versi yang saya terima, kalau anak-anak itu tidak bohong dan kalau aparat yang di lapangan yang melaporkan ke saya juga tidak bohong, lain dengan versi Tempo.
Mohon maaf kepada Bapak Aparat. Seorang polisi menelepon saya, “Tom, ini anak-anak kantor kamu ini bisa ditahan nggak?”
Saya bilang, “Ada apa, Pak?” “Demonstrasi ke sini.” Katanya.
“Lo, bubarin dong, Pak, demonya itu. Siapa yang menyuruh?” jawab saya.
“Ya memang ada penanggungjawabnya, sesuai dengan aturannya. Cuma, kalau bisa tolonglah segera dibubarin,” katanya. “Lo, Bapak yang kasih izin kok bisa gue yang ribet.”
Aparat di lapangan.
Bukan Kapolres.
Sejenis itulah. Pokoknya mendengar adanya aksi demo, saya langsung menghubungi anak-anak di lapangan. Akhirnya saya dapat kontak Pak David (maksudnya David alias A Miauw-Red.). Pak David rupanya juga baru tahu, lalu dia buru-buru meluncur ke sana. Saya bilang, “Vid, segera cegah. Jangan sampai ada apa-apa, ya!” saya bilang begitu. “Anak-anak tuh kurang ajar. Segera bubarkan.”
Itu sebabnya kenapa David ada di dalam halaman Tempo, bukan di luar. Anak-anak menggoyang pagar, dia di dalem buat nekenin. Saya tidak menyuruh mereka demo.
Begitu mengetahui kejadian itu, saya langsung bereaksi. Itu sebabnya David mengambil peran untuk segera mencegahnya. Untung, saya tidak terpancing ke lapangan. Coba saya terpancing ke lapangan, bisa dipelintir lagi.
Ndak. Boro-boro…, sempat kontak juga nggak.
Saya sangat setuju kalau yang melakukan kekerasan itu dilaporkan ke kantor polisi. Saya mendukung pelakunya ditangkap, kalau memang terbukti.
Kalau itu saya nggak ngerti, saya nggak tahu. Saya nggak pernah memberi surat kuasa. Saya ngecek David, “Vid, ada apa?”. Dia bilang “Gua juga udah dipanggil polisi nih, Tom, lagi ke sana nih!” Terus saya bilang, “Oke deh, anak-anak jangan sampai repot!”
Saya malah nggak tahu Teddy ke sana. Saya setuju mereka ditangkap! Soal demo-mendemo itu nggak saya persoalkan! Lu mau bilang demo, lu mau bilang serbu, tangkap kalau melakukan tindak pidana. Kalau ada polisi diam ketika ada pemukulan, Anda PTUN-kan saja polisinya.
Saya kira begini. Kita di dalam punya etika, untuk menyelesaikan masalah kita sendiri secara intern. Tidak etislah disampaikan ke luar. Memang saya marahi mereka. Saya tegur. Cuma saya belum… (Tomy tak meneruskan kalimatnya--Red), karena memang mereka berada dalam keadaan depresi, saya takutnya nanti prosesnya makin liar.
Dia memang teman saya. Sahabat yang banyak ikut kegiatan sosial kami, membina lingkungan, dan dia memang melakukan usaha-usaha, kayak di pulau… di mana… dia juga penanggung jawab.
Secara langsung saya dirugikan. Kami mau menyelesaikan kasus ini dengan lebih menggigit dan lebih intelektual, tapi sedikit banyak terganggu oleh anak-anak ini. Akibatnya membuat Tempo bisa memelesetkan berita. Seolah-olah berita penyerbuan ini lebih serius daripada fitnah Tempo, yang mengakibatkan saya terancam dibunuh.
Kalau saya diancam orang berdasi, mungkin saya tidak apa-apa. Gue tuh paling benci kalau menghadapi birokrasi di grass root. Kalau menghadapi abang becak, biar gua bener juga, gue kabur. Nah, ini masyarakat Tanah Abang yang tingkat menengah bawah dan bawah…, dagangan mereka ketiban musibah. Ini lawannya nggak jelas, jumlahnya ratusan, ribuan. Di mana dia? Gua nggak tahu.
Bahkan tadi pagi di sebuah radio ada statement bahwa mereka akan tetap menekan saya, mengancam saya, dan membawa saya ke pengadilan. Ikatan Tanah Abang atau apa gitu. Kalau mereka masih menekan, itu artinya mereka masih meragukan bantahan saya. Karena Tempo masih bertahan tidak mau meralat.
Barangkali omongan Anda benar kalau bacaan itu sampai ke kelompok intelektual yang punya daya serap yang bagus.
Kamis. Itu setelah ada ancaman lewat telepon.
Kalau nomor saya di-published, Pak! Nomor HP saya ada di mana-mana. Karena saya tidak punya private number. Kalau gua nelpon ke elu, nomor telepon gua itu ada.
Itu kan hanya dalam rangka ngomong-ngomong mencari solusinya. Somasi baru Jumat saya teken. Sebelumnya, kita omong-omong menyiapkannya, lalu Jumat kita putusin. Udah deh, kita somasi. Tempo bikin berita yang gua nggak pernah bikin. Dia tulis lagi, hak jawab sudah ada, both sides-nya sudah terpenuhi, padahal tidak pernah ada wawancara.
Ya elah…., gua minta rekamannya dong, kalau ada?
Nggak! Nggak ada wawancara, sori! Saya ngomong apa adanya. Saya nggak suka nutup-nutupin.
(Wartawan Tempo News Room, seperti yang tertulis pada artikel TEMPO, sudah mewawancarai Tomy Winata pada Kamis, 27 Februari, melalui telepon dan TEMPO memiliki buktinya.--Red).
Kalau memang benar begitu, suruh polisi gebuk. Kalau memang benar begitu, kan ada aparatnya, ada penegak hukumnya. Saya kira kita setuju, di negara ini, siapa pun yang melanggar hukum, apalagi pidana, wajib diproses.
Kalau Anda bilang ini direkayasa, gua juga bisa ngomong, ini direkayasa oleh the whole system network Tempo. Apa susahnya, sih? Network sebesar Tempo tanpa didukung bukti otentik, tega merekayasa berita itu. Tidak ada proposal, jadi ada. Tidak ada wawancara, jadi ada.
Bukan dimasukin. Anak-anak ini loyal buta sama saya, karena piring nasinya ikut saya.
Dengan somasi itu sebetulnya kami ingin memperkecil masalah, bukan memperbesar. Tapi, kalau Tempo menanggapinya ndak dewasa juga kan? Kalau tidak terpaksa, siapa sih yang berani dengan Tempo? Kita ngomong jujur saja, deh. Saya juga manusia biasa, juga ngerti Tempo. Gua juga ngerti the man behind the scene of Tempo. Lu kira gua gila melawan dia?
Cara untuk menyelamatkan saya dari tekanan orang Tanah Abang adalah saya harus somasi Tempo. Dan somasi itu sopan-sopan saja. Yang saya nggak nyangka, bolanya jadi liar. Yah, kita nikmatin saja sama-sama …
Dari segi hukum, saya serahkan pengacara saya. Dari segi kearifan, saya serahkan pada pimpinan Tempo. Udah.
Pernah nggak Anda liat gua bikin pasar? Tolong cari kapan gua bikin pasar.
Tanah saya masih banyak. Kalau gua punya uang Rp 100 miliar atau 200 miliar, untuk membangun supermal atau seperti Mangga Dua, kenapa gua nggak bikin yang kayak begitu aja.
Yah…, lu jangan tanya gua, dong! Gua mau tanya lagi sekarang, siapa yang paling giat membeli tanah di sekitar Tanah Abang. Nanti gua buka semua, deh.
Nanti menjurus lagi, dong! Sudahlah, gua bukan tipe begini, gara-gara gua mau cari selamat, gua poyo-poyo gaya katak. Gua nggak suka, supaya gua nggak dibunuh orang Tanah Abang, sasaran tembak itu gua pindahin ke orang lain. That’s not my type. Orang yang nggak kebagian rezeki pada saat gua makan, nggak pantas gua bagi musibah ketika gua pingin cari selamat. Ingat! Itu budaya saya.