[an error occurred while processing this directive]

Tjandra Yoga:
“Sembilan Puluh Persen Pasien SARS Bisa Disembuhkan”

WAJAHNYA muncul di mana-mana pada hari-hari ini: di televisi, di seminar, bahkan di ruang-ruang redaksi media massa. Wartawan mencegatnya di halaman kantor untuk meminta wawancara. Warga kota meneleponnya dengan panik, memberondong dia dengan berderet-deret pertanyaan. Namanya Tjandra Yoga Aditama, 48 tahun. Jabatan resminya Direktur Medik dan Perawatan Rumah Sakit Persahabatan. Jabatan “tidak resmi”-nya: juru penerang SARS—setidaknya itulah julukan terbaru yang dia terima.

Berita merebaknya wabah penyakit severe acute respiratory syndrome (SARS) telah merenggutkan Tjandra Yoga dari ruang kerjanya di Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta Timur. Dia harus berkeliling meladeni permintaan bicara di berbagai stasiun televisi, melayani wawancara dengan para wartawan, dan berbicara di sejumlah seminar. Tjandra menghabiskan lebih banyak waktu untuk menulis berbagai artikel soal SARS. “Masyarakat harus mendapatkan penjelasan dengan benar, mana SARS dan mana yang tidak,” ujarnya kepada TEMPO.

Di Indonesia, ini termasuk penyakit baru. Kasusnya belum ada, literaturnya sulit sekali dicari. Karena itu, Tjandra memesan aneka jurnal ilmiah kesehatan dari mancanegara. Para ahli paru-paru di berbagai belahan dunia kini tengah bekerja keras untuk memerangi “hantu-belau” yang bernama SARS. Penyakit ini telah pula menimbulkan ketakutan masyarakat yang terwujud dalam rupa-rupa reaksi: tak acuh, ketakutan, batuk-batuk sedikit dikira maut sudah menjelang. Apotek-apotek mendadak panen karena warga kota jadi gemar memborong masker.

Itu sebabnya, Tjandra bersama sejumlah dokter paru-paru lain mendesak pemerintah agar segera membentuk Tim Verifikasi SARS—rencananya dibentuk pekan ini. Tim tersebut harus memberi klarifikasi soal penyakit maut ini agar publik jangan kalang-kabut tidak keruan. Apalagi, di Indonesia penyebarannya masih simpang-siur.

Semula diberitakan ada tiga warga yang terjangkit. Seorang dirawat di satu rumah sakit di Batam dan dua pasien lain diinapkan di Rumah Sakit Infeksi Sulianti Soeroso, Sunter, Jakarta Utara. Belakangan, dua pasien di Sunter itu diperbolehkan pulang setelah dokter menyatakan mereka bebas dari virus tersebut.

Pemerintah juga telah menetapkan Rumah Sakit Persahabatan di Rawamangun, Jakarta Timur, dan Rumah Sakit Infeksi Sulianti sebagai pusat perawatan SARS. Menurut Tjandra, Rumah Sakit Persahabatan sudah menyiapkan diri dengan baik. Mereka menerbitkan panduan diagnosis dan terapi, alur pasien, baik di ruang gawat darurat, rawat inap, unit perawatan intensif, maupun kamar, serta peralatan perlindungan bagi petugas rumah sakit.

Paru-paru adalah bidang kajian Tjandra Yoga selama bertahun-tahun. Dia mengambil spesialisasi di dalam negeri serta memperdalam pengetahuannya di luar negeri. Perhatian Tjandra pada penyakit paru-paru bisa juga dilihat dalam berbagai karya ilmiahnya yang tersebar di sejumlah jurnal kesehatan di Indonesia dan mancanegara. Dokter ini juga aktif di berbagai organisasi kesehatan dunia—terutama di bidang paru-paru.

Alhasil, ketika berita tentang wabah SARS merebak, Tjandra Yoga ikut sibuk luar-biasa. Toh, pada Jumat pekan lalu, di sela-sela jadwalnya yang padat, Tjandra dapat memenuhi undangan diskusi terbatas di ruang redaksi mingguan ini. Sembari berdiskusi, Tjandra menjawab berbagai pertanyaan tim wartawan TEMPO, yang kemudian disarikan dalam wawancara ini. Berikut ini petikannya.


Bisa Anda ceriterakan asal mula ditemukannya SARS?
Penyakit ini mulai dilansir setelah ditemukannya seorang pasien di Hanoi, Vietnam. Penyakit orang ini aneh. Setelah diteliti, ternyata dia terkena virus corona, yang menyebabkan radang paru-paru akut yang kemudian disebut SARS. Awal Maret lalu dia meninggal. Penyakit itu menular ke beberapa orang lain di Hanoi. Fenomena itu menyita perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada 15 Maret 2003, WHO mengumumkan SARS sebagai penyakit baru yang mudah mewabah.

Jadi, awal penyebarannya bukan di Guangdong, Cina?

Setelah pengumuman itu, orang baru ingat bahwa penyakit seperti itu pernah mewabah di Guangdong, Cina. Belasan orang mati di sana. Belakangan, virus itu menjalar ke Singapura, Hong Kong, dan Toronto di Kanada.

Apa bedanya SARS dengan beberapa penyakit menular lain? Misalnya, di Afrika Selatan pernah mewabah ebola dan hello fever.

Yang mencemaskan dari SARS adalah daya tularnya yang lebih cepat ketimbang ebola dan AIDS. Yang membuat heboh adalah, hampir 60 persen orang yang tertular penyakit ini adalah para pekerja kesehatan seperti dokter dan perawat. Padahal kelompok ini relatif terjaga kesehatannya. Dokter penemu SARS malah sudah meninggal dunia karena terserang penyakit ini. Korbannya memang tak pandang bulu.

Apa saja penyebab penyakit ini?

Yang bisa disimpulkan sejauh ini adalah virus corona dan paramoxyviridae. Corona itu nama kelasnya. Sedangkan nama spesies itu sendiri hingga kini belum ditemukan. Ibarat mobil, yang kita temukan baru jenisnya, yaitu Toyota. Apakah itu Toyota Kijang, Toyota Corona, atau Toyota Crown belum diketahui. Para ahli penyakit di WHO tengah berusaha mengidentifikasi spesiesnya. Semoga bisa ditemukan segera.

Dari apa yang sudah diketahui, corona ini jenis virus apa?

Virus yang menyebabkan berbagai jenis penyakit yang sudah umum timbul di masyarakat, seperti flu, batuk, serta beberapa penyakit umum lainnya. Nah, virus corona yang satu ini (yang menyebabkan SARS—Red.) lebih ganas dari virus-virus lain dalam kelas corona itu karena menohok langsung paru-paru dan pernapasan.

Bagaimana cara kerjanya?

Seperti virus lain, corona menyebar lewat udara, masuk melalui saluran pernapasan, lalu bersarang di paru-paru. Dalam tempo sekitar dua hingga sepuluh hari, paru-paru akan meradang, bernapas kian sulit.

Tolong Anda jelaskan gejala yang mudah dikenali secara fisik bila seseorang terserang SARS.

Suhu badan lebih dari 38 derajat, ditambah batuk, sulit bernapas, dan napas pendek-pendek. Jika sudah terjadi gejala-gejala itu dan pernah berkontak dekat dengan pasien penyakit ini, orang itu bisa disebut suspect SARS. Kalau di rontgen terlihat ada pneumonia (radang paru-paru) atau terjadi gagal pernapasan, orang itu bisa disebut probable SARS atau bisa diduga terkena SARS.

Bagaimana metode penularannya?

Melalui udara serta kontak langsung dengan pasien atau terkena cairan pasien. Misalnya terkena ludah saat pasien bersin dan batuk.

Masih ada lagi gejala-gejala lainnya?

Sakit kepala, otot-otot kaku, diare yang tak kunjung henti, timbul bintik-bintik merah pada kulit, dan badan lemas beberapa hari. Ini semua adalah gejala yang kasatmata bisa dirasakan langsung oleh orang yang diduga menderita SARS itu. Tapi gejala itu tidak cukup kuat jika belum ada kontak langsung dengan pasien.

Begini, jika suhu badan sudah melebihi 38 derajat Celsius dan orang itu sudah pernah melakukan kontak langsung dengan pasien, apakah otomatis dia penderita SARS?

Tidak juga. Itu baru tersangka SARS. Jika kriterianya cuma suhu badan 38 derajat dan baru pulang dari negara yang terkena wabah itu, maka banyak sekali pasien SARS saat ini. Sebab, banyak orang yang batuk-batuk begitu keluar dari pesawat. Tetap diperlukan pemeriksaan medis sebelum seseorang disimpulkan terkena penyakit ini.

Setelah diperiksa di rumah sakit, apa saja petunjuk pemeriksaan medis yang menguatkan seseorang terkena SARS?

Paru-parunya mengalami radang, limfositnya menurun, trombositnya mungkin juga menurun. Kalau sudah berat, oksigen dalam darah menurun dan enzim hati akan meningkat. Ini semua gejala yang bisa dilihat dengan alat medis. Tapi semua gejala itu masih bisa berubah. Penelitian terus dilangsungkan sampai sekarang.

Bisa berikan angka agresivitas penyakit ini?

Sekitar empat persen pasien meninggal dunia. Jumlah total penderitanya mencapai 1.323 orang sampai sekarang—kurang-lebih 49 orang yang meninggal. Sekitar 80-90 persen pasien kondisinya jauh lebih membaik setelah 6-7 hari. Dan ada 10 persen yang kondisinya memburuk, perlu dirawat di unit perawatan intensif, memerlukan bantuan pernapasan, bahkan bisa meninggal.

Bagaimana cara penyembuhannya?

Penyembuhannya tetap dengan cara medis. Hanya, harus teliti sekali. Penyakit ini amat mungkin bisa disembuhkan.

Kami mendapat informasi bahwa uap cuka putih atau sejumlah obat tradisional Cina bisa membantu menyembuhkan SARS.

Belum diuji kebenarannya secara klinis. Keampuhan semua obat-obatan tradisional itu cuma muncul dari pesan pendek lewat SMS. Tapi, mencoba tidak ada salahnya juga.

Antivirus apa yang ampuh untuk penyakit ini?

Jika tidak ada respons setelah diberi antibiotik, orang biasanya diberi steroid dan ribavirin. Biasanya membaik. Steroid dan ribavirin itu adalah obat yang biasa diberikan jika pasien sakit berat, apa pun penyakitnya. Steroid biasa disebut obat nyawa.

Tentang penyebarannya di Indonesia, sudah berapa jumlah korbannya?

Belum jelas berapa korbannya. Ada dua orang yang dirawat di Rumah Sakit Infeksi Profesor Sulianti Soeroso. Pertama, seorang ibu yang selama tiga hari bertemu dengan anaknya yang baru pulang dari Singapura. Banyak hal yang tidak jelas dalam kasus ibu ini. Pertama, apakah anaknya yang datang dari Singapura itu sudah terjangkit SARS sehingga ia menulari ibunya? Apakah suhu badan panas sudah otomatis gejala SARS? Saya kira tidak juga. Dan pada akhirnya diketahui, ibu itu tidak terkena SARS sehingga dia boleh pulang. Kedua, ada seorang tenaga kerja wanita asal Subang yang baru pulang dari Taiwan. Ini juga belum jelas karena gejala suhu tubuh panas dan batuk-batuk kan umum sekali.

Apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menanggulangi ancaman SARS?

Membentuk tim penanggulangan. Kami sudah mengadakan pertemuan dengan pemerintah. Menurut saya, pemerintah memang harus membentuk tim verifikasi soal SARS. Tim ini harus bisa memberikan klarifikasi mana SARS dan mana yang tidak. Itu penting supaya ketakutan tidak terus-menerus merebak dan agar masyarakat mendapat gambaran yang jelas.

Bisa Anda terangkan kesulitan mengatasi penyakit ini?

Ini penyakit baru yang belum ada kasusnya di Indonesia. Karena belum ada kasus, sulit bagi kita mempelajarinya.

Dalam situasi tak menentu seperti sekarang, menurut Anda apa yang harus dilakukan oleh masyarakat?

Kalau baru pulang dari luar negara yang terkena wabah SARS, setidaknya dalam 10 hari pertama harus waspada terhadap gejala SARS dan segera berobat jika gejala itu ada. Jika selama berada di luar negeri pernah berkontak langsung dengan penderita SARS, harus ekstrahati-hati lagi. Untuk yang tidak ke luar negeri, segeralah memeriksakan diri ke dokter bila ada gejala-gejala itu. Selain itu, makan makanan bergizi, istirahat cukup, dan berolahraga teratur.
*****

CATATAN : Wawancara ini diambil dari Majalah TEMPO Edisi 7 – 13 April 2003.

[an error occurred while processing this directive]