[an error occurred while processing this directive]
Sudirman Said:
CENDEKIAWAN Muslim Nurcholish Madjid akhirnya bersedia maju ke pemilihan presiden pada 2003 nanti. Meski terkesan masih malu-malu, dengan menyatakan sendiri, “saya pasif saja”, majunya Cak Nur ini –begitu ia biasa dipanggil—memberi warna pada pemilihan presiden kali ini.
Empat tahun lalu, dalam Pemilu 1999, Cak Nur menolak maju ke pertarungan. Waktu itu, ia memilih berdiri di luar gelanggang. Saat itu, ia melihat, sedang terjadi euforia politik. Orang-orang ramai-ramai masuk ke partai politik, bahkan membangun partai sendiri. Kemudian para politikus ini membuat batasan, hanya orang parpol yang berhak maju ke pemilihan presiden. Sebuah peraturan yang, seakan, sengaja dibuat buat menjegal Cak Nur.
Tapi, itu dulu. Kini, ketika masyarakat mulai bosan dengan polah politikus, ada kerinduan untuk mencari figur yang dinilai betul-betul dapat membawa aspirasi mereka. Figur yang ada pada diri pria Jombang ini.
Dan ia tak main-main. Untuk memuluskan jalan menuju kursi presiden, Cak Nur telah membentuk tim kecil. Meski belum resmi, tim inilah yang bekerja secara sukarela mengatur beberapa pertemuan, event, perjalanan dan segala kebutuhan Cak Nur. Tim ini terdiri dari orang-orang muda eksentrik dan profesional. Maklumlah, sebagian besar dari mereka adalah aktivis dan memiliki independesi kuat.
Salah seorang dari mereka adalah Sudirman Said. Namanya dikenal lantaran aktivitasnya di sebuah LSM yang muncul kala reformasi bergulir, Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Di situ ia duduk sebagai Ketua Badan Pelaksana. Lulusan Sekolah Tinggai Akuntansi Negara ini menceritakan soal tim kecil Cak Nur kepada Cahyo Junaedi dari TEMPO di dalam mobilnya, antara Gambir di Jakarta Pusat dan kawasan Kuningan, di Jakarta Selatan, pekan lalu. Berikut petikan omong-omong itu.
Anda dikenal sebagai orang yang sejak awal menjagokan Cak Nur sebagai presiden.
Selasa pekan lalu, Cak Nur bilang bahwa dirinya sudah mempunyai tim kecil. Siapa saja mereka?
Berapa orang sih tim kecil itu?
Siapa saja yang terlibat dalam tim kecil ini?
Lokasi sekretariatnya di mana? Apakah di Paramadina?
Apa sih yang dikerjakan oleh tim kecil ini?
Bagaimana ceritanya Cak Nur membentuk tim kecil ini, apakah ia langsung mengkontak Anda?
Kapan pastinya mulai terbentuk tim kecil ini?
Bagaimana sistem kerja tim ini? Apakah menggunakan rekruitmen terbuka?
Bagaimana soal dana?
Saat ini apakah sudah ada dana besar mengalir untuk keperluan Cak Nur itu?
Cak Nur adalah orang baik dan punya komitmen moral tinggi? Apakah ada syarat-syarat dalam penjaringan dana?
Sampai saat ini sudah lebih 11 partai yang menjagokan Cak Nur, adakah kriteria tertentu untuk memilih partai?
Kalau tim ini secara resmi belum terbentuk, kapan tim ini akan diresmikan?
Apa prinsip-prinsip kerja tim ini sendiri?
Bagaimana tim ini menjadi tim yang solid dan tidak kepincut dengan partai besar lain?
Tidak takut Cak Nur menjadi kendaran politik partai tertentu?
Partai mana yang sudah mendekati Cak Nur?
Betulkah di Partai Golkar pencalonan Cak Nur didukung oleh kelompok Fahmi Idris?
[an error occurred while processing this directive]
“Jangan-Jangan Partai yang Ditunggangi Cak Nur”
Bagaimana sejarahnya kok Cak Nur akhirnya bersedia dicalonkan menjadi presiden 2004, padahal dalam Pemilu 1999 beliau menolaknya?
Memang ada beda situasi. Zaman Pemilu 1999, masyarakat Indonesia sedang fanatik-fanatiknya bahwa semua yang masuk ke proses pencalonan presiden itu harus melalui partai politik. Kemudian partai politik yang menang dan berkuasa. Ternyata perfoma orang-orang partai itu mengecewakan masyarakat. Jadi, saat ini memang ada demand dari masyarakat: bisakah kita menghadirkan alternatif? Nah kebetulan pemilihan presiden ke depan ini pemilihan langsung. Siapapun yang dicalonkan partai, meski dia bukan orang partai, dia tetap mempunyai peluang menjadi presiden. Nah saat inilah kita menemukan momentum. Pertama soal pemilihan langsung dan kedua wacana partai yang membuka peluang bagi kader partai atau di luar partai yang bersangkutan. Tapi kalau melihat dari semangat, barangkali saya kira sudah banyak orang capai dengan kondisi dan mungkin saja orang seperti Cak Nur berpikir, ini diakhir masa hidupnya, dia ingin berbuat sesuatu yang berharga buat bangsa dan negaranya.
Jangan sebut saya orang pertama deh. Saya kira begini, sejak dulu, orang mendambakan sosok figur yang bersih, kredibel untuk dicalonkan sebagai pemimpin bangsa dan tidak punya cacat masa lalu tapi juga punya visi ke depan bagaimana negara ini akan dibangun. Nah, itu yang selama ini kita tidak punya. Karena itu, saat tiba masanya pergantian kepemimpinan melalui pemilu, upaya-upaya untuk mencari kembali orang yang tepat dilakukan. Saya yakin sampai saat ini banyak orang yang melakukan itu, mencari sosok yang tepat, melakukan pengamatan dan upaya-upaya untuk menyakinkan calon pemimpim. Kalau bicara soal Cak Nur, saya kira hal itu menjadi command sense semua orang, bahwa Cak Nur adalah sosok yang pas untuk saat ini.
Saya kira secara formal belum. Hanya beberapa orang volunteer yang bekerja secara sukarela yang mengatur beberapa pertemuan, event, perjalanan dan segala kebutuhan yang Cak Nur inginkan. Seperti sekretariat kecil-kecilan. Nah, itu jumlah orangnya sangat kecil, dan tidak tetap. Tergantung siapa yang sempat. Orang menyebut-sebut pak Erry Ryana, itu lebih karena Erry saat ini menjadi koordinator pembenahan manajemen di Yayasan Paramadina. Jadi kebetulan sering interaksi. Maka orang-orang Paramadina meminta dia sebagai salah satu tim intinya Cak Nur.
Bervariasi antara lima hingga tujuh orang. Bekerja secara bergantian dan kalau dibutuhkan untuk membantu Cak Nur berpergian, maka harus dibagi, setengah pergi setengahnya lagi di sekretariat.
Ada Utomo Dananjaya orang Paramadina, ada Ibnu Sunanto kawan dekatnya Cak Nur yang selalu mendampinginya pergi kemana-mana. Ada Rahmat, sekretaris pribadinya Cak Nur; Nizar Suhendra direktur eksekutif Masyarakat Transparansi Indonesia; Agung Adyaksa salah satu manajer di Ikatan Akuntansi Indonesia, beliau lah yang akan mengurusi soal keuangan; ada Erry Ryana dan saya sendiri. Tetapi di luar tim inti itu ada beberapa volunteer lainnya. Nah tim inilah yang saat ini bekerja untuk membantu mempersiapkan proses pencalonan Cak Nur sebagai presiden.
Tempat khususnya belum ada. Masih menumpang di beberapa tempat, misalnya di Paramadina atau kantor Masyarakat Transparansi Indonesia di Ciniru, Kabayoran Baru. Kalau tidak halangan, dalam waktu dekat kita akan membuat kantor sekretariat di Kebayoran. Nanti kalau sudah pasti saya akan beritahu Anda.
Tim kecil ini mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan pencalonan Cak Nur menjadi presiden. Misalnya, mengurusi kontak ke orang-orang, mengurusi perjalanan Cak Nur ke daerah-derah, mengatur logistik kalau ada pertemuan besar. Handle media kalau memang dibutuhkan.
Jadito be fair itu adalah interaksi, saling memerlukan. Jadi tentu ada kelompok-kelompok masyakat yang meyakinkan Cak Nur (ini) waktunya sekarang untuk turun. Dan kelompok-kelompok tersebut secara sukarela memberikan sumbangan kepada Cak Nur. Apa itu (bentuknya) suatu usulan, rancana kerja atau apapun. Kelompok yang disebut sekretariat ini memang kebetulan menyediakan diri untuk mengerjakan proses ini. Nah dari beberapa pertemuan, obrolan tersebut lahirlah gagasan, jadi siapa yang mau kerja untuk Cak Nur. Nah orang-orang inilah.
Diskusi yang menggagas soal ini sudah dilakukan sejak 3-4 bulan lalu. Intensifnya adalah pada bulan Maret dan April. Barangkali kalau dikatakan sebagai titik awal adalah kemarin, saat Cak Nur menyatakan ke publik pada Selasa lalu, kesediaannya. Nah, itu konsekuensinya. Ke depan tim kecil dan Cak Nur harus terorganisir, tertata, bahkan tim ini harus dipebesar dan ditambah. Karena tidak mungkinlah orang yang ada saat ini dapat mengerjakan semua keperluan Cak Nur.
Soal jaringan kerja, ke depan saya belum tahu. Tapi, untuk sekarang memang rekruitmen dilakukan secara personal. Saya kenal orang, sebut saja A yang mempunyai kemampuan bagus, profesional. Memang bisa di bidangnya, ya direkrut. Saat ini tim kecil juga mempunyai banyak profesional andal. Ada akuntan, pengacara, tehnik sipil dan sebagaimnya. Ke depan, kalau hal ini jadi dan jalan. Dan memerlukan sesuatu pengorganisasian yang lebih baik tentu kami akan melakukan rekruitmen secara terbuka. Siapa saja dapat berpartisipasi tetapi dengan mengedepankan kemampuan, keterampilan minat. Bukan hanya sekedar kenal lalu diterima kerja. Kami memang menginginkan proses ini dapat dilakukan dengan baik agar hasilnya juga baik.
Sampai saat ini dana untuk keperluan Cak Nur berasal dari iuran anggota secara sukarela. Kalau berjalan, kunjungan di suatu kota ada orang yang bersedia bawa, menemani, kemudian orang itu yang membayar hotel, tiket pesawat bahkan makan-makannya selama perjalanan.
Sampai sekarang belum ada. Misalnya ‘nih uang ratusan juta untuk keperluan logistik Cak Nur’. Jadi tetap dana yang dipakai adalah dana iuran sukarela para anggota atau simpatisan.
Untuk penjaringan dana, tim kecil sebenarnya sudah mempunyai kriteria soal penjaringan dana. Tim bersepakat bahwa dana itu tidak boleh didominasi oleh segelintir orang. Meskipun kami membutuhkan dana itu. “Nyoh dana semuanya ratusan juta,” pasti akan kami tolak. Karena dengan itu berarti kami telah menggadaikan diri, orang memberi uang pasti ada maunya. Jadi harus merata, retail-lah. Kami juga akan membuka peluang ke masyarakat luas untuk berpartisipasi, betapapun kecilnya. Sistem ini memang akan lebih sulit, tetapi lebih aman, daripada bergantung kepada sekelompok kecil orang. Tapi tentu saja kami akan mengekspor kelompok-kelompok yang mempunyai uang dengan reputasi baik atau sponsor-sponsor tanpa ikatan apapun yang ingin membiayai. Yang lebih penting lagi, kami akan mengumumkan secara terbuka soal sumbangan-sumbangan dana tersebut. Dana dari mana, siapa orangnya, berapa jumlahnya, dipakai untuk apa? Nah pada waktunya, kalau secara resmi tim ini sudah dibentuk maka kita langsung akan menunjuk auditor. Jadi dana itu diaudit dan diumumkan pada publik. Kemudian soal pekerjanya, tim ini kan nantinya akan berlapis, ada sukarelawan dan profesional. Nah yang profesional akan digaji secara cukup, supaya tidak bermain. Inilah beberapa policy yang akan kami terapkan untuk mengelola soal keuangan.
Saya kira jelas. Cak Nur maju dengan menjual ‘plat form’ kerangka kerja. Siapapun partai yang kira-kira cocok dan menerima plat form itulah yang memenuhi kriteria. Dan semalam (Rabu 30/4, red.) saat berdikusi dengan Partai Keadilan Sejahtera, Cak Nur secara tegas menjelaskan tidak ada batasan apakah partai itu nasionalis, sekuler, Islam bahkan abangan sekalipun. Plat form itu menjadi sesuatu kriteria umum yang menurut saya itu sudah mengayomi semua aliran politik.
Belum, mungkin tidak lama lagi. Jangan lupa juga kan ada ketentuan yang musti ditunggu, misalnya UU Pemilu. Bagaimana format tim kampannye, dibentuk kapan nah itukan harus ditunggu. Kalau kita kemudian mendahului itu kan tidak bagus.
Konsisten dengan plat form yang diusung dengan Cak Nur. Pertama kali kan menengahkan ‘good government’ nah kita ingin menerapkan itu dalam kerja tim. Ada keterbukaan disana, partispasi, akuntabiliti, transparansi. Jadi bagaimana cita-cita, sosok tim itu menjadi sosok yang profesional, kredibel dan yang lebih pentig dapat memberikan gambaran kemasyarakat luas, ini lho cara berpolitik yang modern. Jadi ada perencanaan, report, pembagian tugas yang jelas. Masa kita mengusung soal ‘good government’ tetapi tim kerjanya semerawut. Meski diingat tim-tim seperti ini akuntabilitas nya tidak jelas. Uang menerima dari mana-mana. Masing-masing orang bisa mencari dana sendiri-sendiri. Inikan tidak bisa.
Sampai saat ini tim kecil ini terdiri dari orang-orang yang independen, bukan orang partai. Meskipun dengan kesadaran penuh kalau Cak Nur sudah diambil oleh salah satu partai maka akan berfungsi adalah tim-nya partai. Nah kami sebagai tim persiapan harus konsekuen bahwa pada waktunya bila Cak Nur diambil partai tertentu, maka kami otomatis juga masuk. Kami tidak bisa double agent kan. Bahwa kemudian nanti terjadi suatu koalisi dengan berbagai partai lain, kami menjadi bagian dari koalisi itu. Dan mungkin akan lebih baik, dalam proses persiapan ini hingga waktu Cak Nur diambil oleh partai tertentu benar-benar dibantu oleh tim yang independen.
Saya kira Cak Nur jelas dan melihat kemungkinan itu memang ada. Jadi saya rasa tinggal pandai-pandainya bermain menjaga diri. Kan bisa saja di balik, jangan-jangan malah partai itu yang ditunggangi Cak Nur. Kalau ngomong efektifitas siapa menunggangi siapa ini kan masalah persepsi saja, yang penting hasilnya baik.
Banyaklah. Media masa juga telah mengungkapnya, salah satunya Golkar.
Saya tidak tahu soal itu. Tetapi yang jelas dari mana pun datangnya dukungan buat Cak Nur kami terima. Kami tinggal melihat apakah partai-partai yang mendukung itu mau menerima plat form yang ditawarkan Cak Nur.