[an error occurred while processing this directive]

Muzakir Manaf :
“Saya Hanya Memikirkan Soal Angkatan Perang”

HARI Minggu 9 Februari lalu, Aceh Nangroe Darusalam memasuki tahap penting dari proses perdamaian daerah itu. Mulai tanggal itu, setelah melewati trust building, membangun rasa saling percaya, Aceh masuk ke tahap demiliterisasi. Proses ini akan berjalan selama lima bulan.

Selama kurun waktu itu, pihak-pihak yang terlibat konflik bersenjata akan “menarik” senjata dari lapangan. Pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akan melakukan penempatan senjata di 32 titik lokasi yang tersebar di delapan kabupaten. Sementara Indonesia merelokasi aparat keamanannya ke lokasi bertahan (pasif).

Betulkah ini menjadi tahap penting bagi perdamaian yang permanen di serambi Mekah itu? Banyak pihak yang berharap besar dari proses itu. Meski bukan suatu hal yang bakal berlangsung seketika.

Masa trust building sepanjang dua bulan, misalnya, meski telah jauh menurunkan suhu konflik –dan juga korban sia-sia—dirasa belum cukup untuk membangun rasa saling percaya. Saling tuding jika sebuah insiden terjadi adalah indikatornya. Atau seperti diakui Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM), sayap militer GAM, Muzakir Manaf, “Rasanya masa itu perlu diperpanjang.”

Posisi Muzakir menjadi sangat penting dalam proses perdamaian ini. Ia adalah salah satu dari pucuk pimpinan GAM yang didengar oleh para anggotanya. Khususnya di kalangan gerilyawan Gerakan. Wartawan Tempo Zaenal Bakri, bersama sejumlah wartawan dari media lain, sempat menemui pria yang sempat mendapat latihan militer di Libya ini menjelang awal masa demiliterisasi.

Dua pekan lalu, rombongan wartawan itu masuk ke sebuah desa yang sepi di pedalaman Pidie, Aceh. Ada acara penting di kawasan ini: pelantikan Panglima GAM Pusat Tiro beserta wakilnya yang baru. Pelantikan dilakukan oleh Muzakir, sebagai Panglima Tertinggi AGAM. Ia didampingi Sofyan Daud, juru bicara militer GAM; Teungku Muhammad Usman Lampoeh Awe, Menteri Keuangan GAM; dan Teungku Abdullah, Qadhi Neugara.

Adakah pelantikan ini memperlihatkan ketidak seriusan GAM dalam proses perdamaian? Muzakir membantahnya. Menurut dia, yang ada dalam pikiran seluruh anggota GAM adalah Aceh yang aman. “Soal perang atau damai, tergantung pimpinan GAM di Swedia,” ujarnya.

Berikut wawancara Tempo dan sejumlah media lain dengan Muzakir di sebuah sekolah dasar di kawasan pedalaman Pidie. Sepanjang wawancara, Muzakir terus memainkan sebuah sedotan air minum botolan dengan jari-jari tangan kanannya. Sementara Sofyan Daud, Juru Bicara Militer GAM duduk di sebelah kiri mendampinginya.


Tanggal 9 Februari diputuskan sebagai awal proses demiliterisasi. Apakah GAM sudah siap meletakkan senjata?
Kami tunduk pada pimpinan kami. Disuruh berperang, kami perang. Disuruh berhenti (berperang), kami berhenti.

Artinya kini AGAM mulai “menggudangkan” senjata?

Dengan catatan, hanya Henry Dunant Center dan GAM yang berhak melihat senjata kami. Tidak bagi Indonesia.

Bagaimana Anda mengendalikan pasukan untuk mematuhi perjanjian itu?

Perintah dari saya disampaikan kepada Panglima Wilayah. Dari Panglima wilayah ke Panglima Muda. Terus berlanjut hingga ke prajurit.

Betulkah klaim pimpinan TNI soal adanya dua kelompok GAM, yang ingin damai dan yang tidak?

Itu bohong. Dalam tubuh GAM tidak ada kelompok lain. Hanya ada GAM yang semua menginginkan Aceh aman.

Tapi kenyataannya masih ada anggota TNI yang tewas ditembak GAM.

Penembakan itu tidak terjadi dari pihak kami. TNI yang selalu merongrong wilayah kami.

Bagaimana Anda memantau anggota GAM yang terlibat dalam pelanggaran?

Kami punya badan khusus untuk itu. Angotanya diambil dari intelijen GAM.

Sudah berapa personel yang dihukum karena melanggar kesepakatan damai?

Belum ada. Di pihak kami belum ada yang melanggar. Anggota GAM yang melanggar akan dihukum sesuai dengan undang-undang Aceh Sumatera National Liberation Front.

Dalam perjanjian disebutkan, jika ada kelompok di luar ke dua pihak yang melakukan pelanggaran, maka akan dicari bersama. Tapi kenapa hal itu belum pernah dilakukan?

Memang dalam perjanjian damai ada ketentuan seperti itu, tapi pihak TNI/Polri belum pernah menginformasikan kepada kami tentang adanya pelaku pelanggaran. Tapi kami pernah memberitahukan mereka ketika ada anggotanya yang melakukan pelanggaran.

TNI menyatakan menyimpan banyak surat dari GAM yang isinya berisi pesan meminta dana dalam jumlah besar kepada anggota masyarakat.

Dalam jajaran GAM tidak ada pemerasan. Yang ada kami mengirim surat kepada para pengusaha untuk meminta pajak nanggroe (pajak negara, red.). Pernyataan pihak Indonesia bahwa GAM terus melakukan pemerasan dan penyerangan itu untuk membatalkan perjanjian damai.

Tapi ada warga yang tetap melapor telah diperas GAM.

Surat permintaan itu kami tujukan dengan terlebih dahulu melihat kemampuan masyarakat. Kalau tidak kami minta, siapa yang memberi makan kami.

Kabarnya saat ini, terutama di masa penghentian permusuhan, GAM melakukan rekrutmen pemuda. Apakah ini untuk anggota Angkatan GAM baru?

GAM tidak merekrut prajurit baru. Yang ada, kami melatih ulang saja. Anggota kami yang sudah ada diberi pelatihan kembali.

Betulkah GAM akan menerima bantuan dari pemerintah untuk rekrutmen baru itu?

Tidak ada. Bantuan untuk GAM harus diserahkan melalui utusan kami di Kuala Tripa. GAM tidak mau seperti yang dilakukan oleh bekas anggota DII/TII dulu yang mendapat gaji dari Pemerintah Indonesia.

Lalu bagaimana tudingan banyaknya pelanggaran yang diklaim TNI telah dilakukan GAM. Misalnya pengerahan masa dan kampanye referendum GAM ke desa-desa?

Tidak ada penggalangan masa. Itu bohong. Kampanye memang ada, tapi itu untuk sosialisasi perjanjian damai.

Tapi kabar yang kami terima ada kampanye agar masyarakat minta referendum pada tahun 2004?

GAM tidak pernah berkampanye tentang referendum. Yang kami lakukan adalah membuat seruan kepada masyarakat untuk mulai melapor kepada Joint Security Committee setiap kali ada pelanggaran.

Bagaimana dengan tindakan mengumpulkan ulama?

Pengumpulan ulama tidak ada kaitannya dengan perjanjian penghentian permusuhan. Ulama itu guru kami. Keputusan tertinggi yang kami tempuh selalu ada di tangan para guru kami. Setelah damai seperti sekarang ini, kami membangun kembali hubungan ini.

Melihat banyaknya tudingan ini-itu, sepertinya masa dua bulan tidak cukup untuk membangun rasa saling percaya antara TNI/Polri dan GAM?

Iya. Dan saya yakin (masa perdamaian) itu akan diperpanjang. Selain itu, saya berharap ada sanksi yang jelas bagi yang melanggar isi perjanjian damai. Kalau tidak, pelakunya akan bebas melakukannya. Kami pun siap dihukum jika melanggar.

Sejauh mana anda sudah bisa mempercayai pihak Pemerintah Indonesia?

Belum. Kami belum bisa percaya.

Kenapa?

Mereka tidak ikhlas dalam melakukan proses damai ini.

Ke depan juga masih ada agenda besar, All Inclusive Dialog. Apa yang akan dilakukan GAM untuk menghadapi agenda tersebut?

Masalah dialog saya serahkan kepada pimpinan kami di Swedia. Saya hanya memikirkan soal angkatan perang saja.

Apakah pimpinan GAM belum mengumumkannya ke tingkat bawah?

All Inclusive Dialog itu masih akan berlangsung pada 2004. Sekarang yang perlu bagi masyarakat adalah agar bisa menikmati masa aman dulu.

Tapi dialog itu kan menjadi bagian dari perjanjian damai 9 Desember?

Artinya begini, yang kami pikir sekarang ini bagaimana menghentikan semua tindakan bersenjata agar masyarakat dapat hidup tenang. Itulah yang membedakan GAM dengan TNI. (Pimpinan) mereka terlalu jauh melangkah ke depan, sehingga yang di belakang tertinggal. Menurut saya, kita memikirkan yang sekarang saja dulu agar dapat berjalan dengan baik.

Ada yang protes bahwa Joint Security Committee tidak netral dan lamban. Menurut Anda?

Aceh ini sangat besar, sementara anggota Joint Security Committee sedikit. Tidak mungkin mereka bisa meng-cover seluruhnya.

Anda punya usul untuk mengatasinya hal itu?

Anggota Committee harus ditambah. Sekarang mereka hanya enam orang per kabupaten. Kalau saya malah melihat lebih bagus kalau enam orang setiap kecamatan.

Oke, sekarang soal Anda sendiri. Sebagai Panglima GAM Anda sangat jarang tampil di depan publik, berbeda dengan pendahulu Anda. Apakah ini memang sengaja?

Kemunculan di depan publik itu dibatasi oleh struktur organisasi. Kami punya juru bicara militer yang setiap saat dapat memberikan keterangan. Sebagai panglima, saya tidak mungkin untuk bekerja 24 jam.

Bukan karena alasan keamanan?

Itu termasuk juga. (Muzakir tersenyum)

[an error occurred while processing this directive]