[an error occurred while processing this directive]
Muhammad Al-Dauri:
AMERIKA Serikat, dan sekutunya, akhirnya menyerang Irak, Kamis (20/3) dinihari. Presiden Amerika George W. Bush membuktikan ancamannya: jika Presiden Irak Saddam Hussein tak keluar dari negerinya dalam tempo 48 jam, Amerika akan memberikan “badai teluk” yang kedua.
Dan saat tenggat itu habis, sementara Saddam bertahan, badai pun dikirim. Sebanyak 40 rudal Tomahawk, senilai Rp 1,5 triliun, dibakar dan diluncurkan menghantam negeri Teluk itu. Sebuah perang yang dikutuk dunia pun dimulai.
Sejak awal, ketika Bush berniat melucuti Saddam, negara-negara dunia bersikap menolak sebuah serangan ke Irak. Jutaan orang di seluruh penjuru menggelar demo-demo anti perang, bahkan di kota-kota di Amerika Serikat sendiri. Banyak negara juga mendesakkan agar krisis Irak diselesaikan lewat jalur diplomasi. Dewan Keamanan (DK) PBB pun menelurkan resolusi yang menyetujui pelucutan senjata pemusnah massal melalui pengiriman sebuah tim inspeksi persenjataan.
Namun pelucutan senjata ternyata tak meruntuhkan keinginan Amerika untuk memerangi Irak. Duta Besar Irak untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Muhammad Al-Dauri, bahkan menyebut, ketika Amerika dan sekutunya bersedia menunggu realisasi resolusi pelucutan senjata dari PBB, alasan utamanya karena mereka yakin Irak tak akan menerima tim inspeksi. Tapi, menurut dia, negara adi daya itu kecele. Irak ternyata memilih bersikap kooperatif. “Ini yang membuat Amerika lebih marah,” kata dia.
Al-Dauri yakin, sejak awal Amerika tak berniat mundur dari sikapnya menyerbu negaranya. Karena itu, “Mereka tak mau menunggu resolusi baru dari PBB,” ujarnya. Dia sendiri menilai, PBB sebagai satu-satunya organisasi dunia juga sangat lemah karena tidak mampu mencegah Amerika meneruskan rencana invasinya ke Irak. Dauri menilai, kini tak ada lagi jalan yang bisa dilakukannya, sebagai diplomat, untuk menghentikan perang. “Satu-satunya jalan adalah berjuang, dan itu akan terus kami lakukan bersama-sama rakyat Irak,” kata dia kepada Faisal Asegaf dari Tempo News Room yang khusus mewawancarainya soal upaya-upaya penyelesaian damai lewat PBB.
“Amerika tidak mungkin memenangkan perang ini,” tegas Al-Dauri dalam percakapan melalui telepon internasional Jumat (21/3) pagi waktu Jakarta atau Kamis malam waktu New York. Apa yang membuat ia yakin? Berikut petikan percakapan dengan Al-Dauri.
Apa penilaian Anda mengenai PBB, khususnya Dewan Keamanan, yang tidak mampu mencegah terjadinya perang?
Artinya, dalam pandangan Anda, PBB ikut berperan dalam serangan Amerika ke Irak.
Apa yang akan dilakukan negara Anda terhadap PBB? Keluar dari keanggotaan di PBB?
Tapi bagaimana jika Amerika meminta PBB mengusir diplomat Irak, terutama karena Anda bekerja di wilayah Amerika?
Sekarang ini perang telah terjadi, apakah bisa diartikan kerja tim inspeksi PBB sia-sia?
Apa yang akan dilakukan Irak untuk menghentikan perang?
Sebagai Duta Besar Irak untuk PBB, apa yang akan Anda lakukan untuk mengakhiri krisis ini?
Dari segi perangnya sendiri, apakah menurut Anda Irak memiliki kemungkinan memenanginya?
Anda terlihat sangat optimis Irak akan memenangi perang ini.
Ada kabar Irak akan menyerang suku Kurdi dan Israel sebagai taktik perlawanan atas serbuan Amerika.
Dalam beberapa laporan, rudal Irak telah diluncurkan ke Israel dan Kuwait.
Bagaimana keadaan di Irak saat ini?
Apakah Saddam Hussein telah mengeluarkan pernyataan soal perang ini?
Bagaimana sikap negara-negara di dunia atas serangan Amerika ini?
[an error occurred while processing this directive]
“Amerika Tak Mungkin Memenangkan Perang Ini”
Bagaimana tanggapan Anda atas serangan yang telah dilakukan Amerika Serikat ke Irak?
Serangan ini sudah pernah terjadi sebelumnya (Perang Teluk 1991, red.), karena kepentingan khusus Amerika Serikat di Irak. Saya dapat membagi kepentingan Amerika ini pada tiga kategori. Pertama adalah minyak. Kedua, rezim yang berkuasa di Amerika mereka tidak senang kepada Presiden Saddam Hussein. Dan, yang ketiga, berhubungan dengan masalah Palestina, terutama mengenai posisi Irak terhadap konflik Palestina.
Tentu saja Anda bisa menambah faktor hegemoni yang diinginkan Amerika di timut Tengah dan dunia. Perlu dipertimbangkan, Amerika akan bisa menguasai seluruh kawasan Timur Tengah dengan menguasai Irak terlebih dahulu, ini sangat penting. Artinya, yang harus dilakukan adalah menghancurkan senjata pemusnah massal. Dengan demikian ada dua permainan yang dioperasikan bersamaan. Pertama, soal senjata pemusnah massal, di mana permainannya dimainkan di Dewan Keamanan PBB. Permainan yang lain adalah rencana tersembunyi Amerika yang terkait dengan tiga atau empat tujuan yang telah saya sebut tadi.
Saya kira, setelah 1991, PBB menjadi semakin lemah dibandingkan yang telah dilakukan organisasi ini sebelumnya. Anda tahu PBB menjadi satu-satunya kekuatan di dunia. Sebuah organisasi, di mana Amerika Serikat juga menjadi anggota. Dan, yang pasti, Amerika bukan perwujudan PBB itu sendiri. Repotnya, ketika negara ini menjadi satu-satunya adidaya di dunia, semua negara menjadi sangat hati-hati. Mereka menolak semua persoalan yang mungkin memberikan dampak terhadap kepentingan (yang berhubungan dengan) Amerika. Perkembangan ini semakin mengkristal akhir-akhir ini, sehingga Amerika masih berpikir sebagai negara yang paling kuat di dunia. Namun, ketika krisis Irak menjadi bahasan dalam Dewan Keamanan PBB, dalam pertemuan terakhir memperlihatkan perlawanan yang tidak diharapkan Amerika. Negara ini terkejut ketika Dewan Keamanan memilih jalan damai dalam menyelesaikan krisis Irak. Dewan memutuskan meneruskan kerja tim inspeksi senjata PBB di Irak, setelah memperoleh hasil yang sangat positif dan mendapat sambutan kerjasama yang sangat baik dari pemerintah Irak. Amerika, bersama Inggris dan Spanyol, telah gagal dalam usahanya menolak draf resolusi PBB. Ketiga negara ini tidak berbuat sesuatu atas draf resolusi, sehingga mereka menjadi sangat gugup dan memutuskan bertindak di luar keputusan PBB maupun Dewan Keamanan. Begitu pun, saya kira PBB telah gagal menangani krisis ini ketika Amerika Serikat dan Inggris memutuskan memerangi Irak.
Jika PBB sangat kuat, sehingga dapat memaksakan prinsip dan nilai-nilai hukum internasional, Amerika Serikat dan Inggris tidak akan melakukan serangan. Namun, kenyataannya sekarang, kedua negara itu berhasil melecehkan Piagam PBB dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menginginkan perdamaian. PBB, dalam hal ini, seakan membolehkan Amerika dan Inggris melakukan agresi militer terhadap Irak. Ini berarti kegagalan PBB. Namun, kami juga tahu (kenapa muncul ketidak berdayaan ini), Sekretariat Jenderal PBB di New York mendapat berbagai tekanan dari Amerika.
Ini bukan merupakan perang politik dan kami tidak akan membahasnya. Kami menolak propaganda yang dilancarkan Amerika, baik terhadap negara maupun para diplomat kami di sini. Kami, sebagai anggota, akan terus bekerjasama dengan PBB. Saya pikir, kami memiliki status yang sangat khusus dalam hubungan antara Irak dan PBB, juga dalam perjanjian antara Amerika Serikat dan PBB.
Kami tidak bekerja di Amerika, meski memang berada di wilayah mereka, namun ini karena status hubungan kami dengan PBB. Ini status sah yang kami miliki. Namun, jika Amerika dapat memiliki hak untuk mengusir kami, itu merupakan permasalahan lain. Hal itu akan merupakan pelanggaran atas Piagam PBB serta perjanjian antara Amerika dan PBB (berkait posisi duta besar suatu negara dengan PBB, red).
Itu tidak benar. Tim inspeksi telah melakukan banyak hal. Bagian terpenting pekerjaan tim ini sudah memberikan hasil baik yang sangat nyata. Hanya, hasil ini justru membuat Amerika Serikat tidak senang. Tadinya mereka berpikir, Irak pasti tidak akan mengizinkan tim inspeksi PBB datang ke Irak, tapi dengan penerimaan kami atas tim ini, Amerika sangat terkejut. Skenario mereka tentang Irak yang sulit bekerjasama, sehingga memungkinkan aksi militer, telah gagal. Setelah kerjasama antara Irak dan tim inspeksi PBB berlangsung, apalagi diperoleh hasil yang positif, Amerika menjadi sangat tidak senang. Mereka lantas menghentikan pembicaraan dengan Hans Blix (Ketua Tim Inspeksi PBB, red.).
Kami telah melakukan segala hal sekuat tenaga, tapi kini tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Kami sendiri tetap pada posisi awal bahwa Irak bersedia bekerjasama. Meskipun tim inspeksi telah keluar dari Baghdad, kami telah mengirimkan dua pucuk surat yang sangat penting. Surat pertama terkait dengan anthrax dan yang kedua soal DX. Kami memberikan informasi dan dokumentasi yang sangat rinci. Intinya, kami benar-benar tidak memiliki apapun yang dituntut Amerika. Tetapi, rasanya, Amerika akan mengamankan tujuan dan rencana tersembunyi mereka atas Irak. Buktinya mereka menyerang negeri kami.
Kami belum tahu. Tapi, bersama teman-teman dari Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Arab, kami terus mencari kesempatan untuk mengakhiri itu. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, kami akan melakukan tindakan dalam sidang Dewan Keamanan PBB, maupun sidang Majelis Umum PBB.
Ketika mempertahankan sesuatu yang benar, Anda seharusnya menang. Namun, ketika mempertahankan sesuatu hal yang tidak benar, seperti melakukan agresi, invasi, menekan orang lain dan menguasai wilayah lain, tentu saja Anda akan gagal. Mungkin awalnya Anda berhasil, namun dalam jangka panjang keadilan akan selalu berpihak kepada yang benar. Jadi kami akan berjuang, karena berada dalam pihak yang benar. Kami akan terus berjuang bersama bangsa dan rakyat kami.
Kami berada di pihak yang benar dan berhak atas negara kami. Sikap kami dalam menghadapi perang ini adalah untuk mempertahankan nilai-nilai, tanah air, dan bangsa kami. Sementara mereka adalah agresor. Mereka tidak mempertahankan apapun, dan hanya menginginkan minyak kami, ingin menguasai wilayah kami. Jadi mereka tidak mungkin memenangkan perang ini. Dalam waktu yang sebentar barangkali mereka akan menang, namun tak akan bertahan lama.
Kami tidak harus menyerang wilayah dan rakyat kami sendiri, sehingga tidak ada alasan untuk menyerang mereka. Kami adalah satu bangsa dan satu negara. Kami memiliki sejarah yang sama dengan bangsa Kurdi, meski tentu saja, kami juga menyadari ada pemimpin Kurdi yang berpihak kepada Amerika. Namun, bukan berarti kami akan menyerang orang kurdi.
Mengenai Israel, sayangnya kami harus mempertahankan apa yang kami miliki, di mana kami harus berjuang melawan agresor yang berada di wilayah kami sehingga tidak bisa berperang di luar. Selain itu, kami juga sadar saat ini tidak memiliki cukup kekuatan untuk berperang melawan Israel.
Itu sama sekali tidak benar. Kami memang menembakkan beberapa rudal terhadap pasukan Amerika yang berada di gurun pasir Kuwait, namun bukan terhadap saudara kami, bangsa Kuwait. Tidak ada seorang pun yang menyatakan ada warga Kuwait yang terluka dalam serangan itu.
Rakyat Irak khawatir mengenai masa depan, kehidupan, anak-anak, dan wanita. Perang jelas akan menyebabkan negara kami rusak. Kami akan menghadapi masalah obat-obatan, makanan, dan komunikasi. Selebihnya, kami belum tahu kerusakan apa yang akan terjadi.
Ya, Saddam telah berpidato yang menyatakan keyakinan rakyat Irak untuk memenangkan perang. Saddam menyerukan kepada segenap rakyat Irak bahwa kami cukup kuat untuk berjuang melawan musuh. Ia menegaskan bahwa kami benar-benar harus berjuang bagi kemerdekaan kami.
Kami memperoleh dukungan dari berbagai negara di seluruh dunia, seperti OKI, Liga Arab, dan negara-negara anggota Gerakan Non Blok. Hanya sedikit negara yang mendukung Amerika. Kami sangat menghargai dukungan dari pemerintah dan rakyat Indonesia bagi bangsa Irak.