[an error occurred while processing this directive]

Ketua Tim Inspeksi Persenjataan Irak, Hans Blix:
“Kami Tidak Menemukan Senjata Kimia di Irak”

JIKA dia merasa gagal mencegah perang Irak, itu bisa dipahami. Hans Blix memang bukan orang yang bertanggung jawab atas invasi AS yang keji itu, tapi setidaknya dia merasa seharusnya temuannya bisa membuat AS berpikir ulang tentang rencana menyerang Irak.

Di depan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, 14 Februari silam, ia berkata lantang, “Kami tidak menemukan senjata pemusnah massal.” Ia kemudian mendesak pemerintah Amerika Serikat agar menahan mesin perangnya dan mendesak PBB agar memberikan izin kepada United Nations Monitoring, Verification and Inspection Commission (Unmovic)--unit PBB yang melakukan tugas pemeriksaan persenjataan--untuk kembali memeriksa senjata pemusnah massal Irak.

Tim pimpinan Blix itu memang kembali ke Irak untuk melanjutkan misinya: memeriksa dan membuat verifikasi atas tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal. Toh, perang tetap saja meletus. Pesawat tempur Amerika membombardir Bagdad, subuh 20 Maret lalu, cuma dua hari setelah tim ini angkat kaki dari kota itu. Bagdad menjelma menjadi neraka jahanam. Dentuman bom bersahutan, asap membubung ke langit, dan kota menyala-nyala. Riwayat Saddam tamat.

Hans Blix mengikuti perkembangan perang itu dengan hati gundah-gulana. Selaku Ketua Unmovic yang telah keluar-masuk sejumlah tempat di Irak, Blix bersaksi bahwa ia sama sekali tidak menemukan bukti bahwa negeri itu menyimpan senjata pemusnah massal, barang haram yang memicu penyerbuan itu. Dalam laporannya ke PBB pada 14 Februari itu, Blix bahkan memuji-muji keterbukaan Bagdad, yang disebut-sebut Amerika tidak kooperatif. Bahkan, karena sikapnya yang ramah terhadap Irak itu, sejumlah media massa di Amerika menaruh curiga, bahkan ada yang menulis dengan judul Hans Blix is Saddam’s Man.

Lahir di Uppsala, Swedia, 75 tahun lalu, sejak remaja ia sudah bercita-cita menjadi ahli hukum. Itu sebabnya, selepas sekolah menengah di Kota Uppsala, ia melaju ke Fakultas Hukum Universitas Columbia di Swedia dan mendapat gelar Ph.D. dari Cambridge University di London. Ia belajar hukum sampai gelar doktor, tapi hampir seluruh kariernya habis mengurus energi atom dan persenjataan. Persentuhan dengan dunia eksak itu dimulai ketika Blix bekerja di Departemen Luar Negeri Swedia. Ia mewakili negeri itu dalam perbincangan soal energi atom di berbagai forum internasional.

Pada 1981, ia didaulat menjadi Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA)--badan pemeriksa energi atom di bawah PBB--hingga tahun 1997. Pada 1999, ia diangkat menjadi Ketua Unmovic.

Niatnya cuma satu setengah tahun di lembaga itu, pensiun, lalu mudik ke negerinya, Swedia. Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB, berhasil meyakinkan Blix untuk bertahan. Maka, pada November 2002, dia memimpin tim inspeksi persenjataan pemusnah massal di Irak. Sejarah bergulir….

Sesungguhnya, Juni tahun ini, Blix berniat pensiun karena kontraknya berakhir. Setelah kontrak selesai, “Saya pulang ke Swedia, kembali mengajar dan menulis buku,” katanya kepada wartawan Tempo News Room, Adek Media Roza, yang melakukan wawancara ini melalui sambungan telepon internasional, Senin pekan lalu. Berikut ini petikannya.


Semula Amerika menuding Irak menggunakan senjata pemusnah massal dalam perang ini. Faktanya, senjata biologi itu tidak digunakan. Irak malah begitu mudah ditaklukkan. Apakah ini berarti bahwa Irak memang tidak lagi memiliki senjata pemusnah massal itu?
Masih terlalu dini menyimpulkan bahwa Irak tidak memiliki senjata yang mematikan. Kalau tidak digunakan, saya kira itu karena mereka mungkin ingin menahan diri untuk menggunakannya, menjaga reputasi mereka, dan membuktikan bahwa mereka telah memusnahkan persenjataan tersebut. Tapi bisa jadi memang mereka sudah tidak memilikinya lagi.
Hanya, dalam situasi seperti sekarang ini, setelah Saddam Hussein tumbang, siapa pun rakyat Irak, baik anggota militer maupun ilmuwan, yang tahu soal senjata pemusnah massal itu akan leluasa memberikan informasi kepada pasukan Amerika karena tidak ada polisi rahasia yang akan membungkam mereka.

Maksud Anda, senjata pemusnah massal itu memang ada, hanya belum ada saksi yang berani berbicara?

Kami tak pernah menyebutkan bahwa Irak menyembunyikan persenjataan pemusnah massalnya. Tapi kami juga tidak pernah menyimpulkan bahwa Irak tidak memiliki senjata pemusnah itu. Inilah yang membedakan kami dengan AS atau Inggris, yang secara tegas menuding bahwa Irak menyembunyikan persenjataan itu. Mungkin saja itu benar, tapi kami tidak punya bukti.

Benarkah sejumlah petinggi Irak bermain kucing-kucingan dengan tim inspeksi, memindahkan senjata pemusnah massal itu sebelum tim Anda datang?

Kami tidak tahu. Kami tidak memiliki bukti mengenai hal tersebut. Memang ada tudingan bahwa Saddam Hussein memerintahkan pemindahan senjata pemusnah massal itu ke sejumlah tempat dengan truk. Tapi semua tudingan itu tanpa bukti yang kuat. Bahkan ada tuduhan yang lebih hebat bahwa Irak memiliki unit produksi senjata biologi dalam truk-truk besar, yang dapat dengan mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tim kami tidak pernah menemukan bukti soal itu.

AS yakin bahwa Saddam telah menipu dunia sejak Perang Teluk 1991 lalu sehingga tidak ada alasan untuk mempercayainya kali ini?

Jika nanti pasukan koalisi menemukan persenjataan pemusnah massal seperti gas beracun, antraks, atau rudal Scud, barulah kita bisa mengatakan Saddam telah berbohong. Tapi, bila mereka tidak menemukannya, harus diakui bahwa Saddam Hussein berkata jujur bahwa negerinya sudah tidak memiliki persenjataan itu lagi.
Saddam mengaku telah menghancurkan semua persenjataan kimia dan biologi yang dimilikinya pada pertengahan 1991 lalu. Sayangnya, mereka melakukan penghancuran tersebut secara sepihak, tanpa disaksikan perwakilan internasional (saat itu Unscom--Red.). Jadi, sulit bagi kami untuk betul-betul percaya bahwa mereka telah menghancurkannya. Tapi bisa jadi pengakuan mereka benar.
Sejumlah kalangan percaya bahwa tudingan AS soal senjata kimia Irak itu memang benar. Landasan argumen itu, pemasok senjata itu adalah AS sendiri, saat Irak berperang dengan Iran dulu.
Mungkin saja itu benar. Tapi kami tidak punya bukti. Soal Irak menggunakan persenjataan kimia dan biologi saat berperang melawan Iran, itu jelas benar. Irak juga mengumumkan jumlah persenjataan kimia yang mereka miliki pada 1991 dan mereka mengatakan bahwa persenjataan itu sudah dihancurkan.

AS sendiri sangat yakin bahwa Irak memiliki persenjataan tersebut. Menurut Anda, apakah Amerika juga mengetahui tempat penyimpanannya?

Mereka yakin, tapi saya percaya mereka tidak tahu tempatnya.

Jika AS yakin bahwa Irak memiliki senjata kimia dan biologi, mengapa saat masuk Bagdad, banyak anggota pasukan Amerika yang tidak menggunakan masker? Apa mereka tidak takut dengan senjata kimia itu?

Mereka memang menemukan pakaian anti-senjata kimia yang mungkin digunakan Irak, tapi mereka tidak menemukan persenjataan itu sendiri. Sejauh ini, tidak ada bukti bahwa Irak menyimpan persenjataan tersebut. Mungkin mereka akan menemukannya, tapi sampai saat ini belum.

Tim Anda tidak menghasilkan kesimpulan yang final soal ada-tidaknya senjata pemusnah massal itu di Irak. Mengapa begitu?

Kami memulai inspeksi di Irak pada November 2002, sebelum dipanggil ke PBB. Jadi, kami baru tiga setengah bulan berada di Irak. Bagi kami, ini adalah waktu yang teramat singkat untuk menelisik setiap tempat yang dicurigai di negeri itu.

Harusnya berapa lama waktu yang Anda butuhkan?

Tidak sampai satu tahun. Tapi itu jika pemerintah Saddam Hussein mau bekerja sama 100 persen. Tapi, jika tidak ada kerja sama, saya tidak bisa memastikan berapa lama waktu yang diperlukan.

Bukankah pemerintah Irak amat kooperatif dengan tim Anda?

Irak membantu kami menyediakan tempat bagi tim inspeksi di Bagdad. Mereka juga menepati janjinya dengan memberikan akses ke setiap situs yang hendak kami kunjungi. Mereka tidak pernah mencegah saat kami hendak mengunjungi satu situs tertentu, bahkan di gedung-gedung militer dan istana presiden sekalipun. Mereka membantu kami dalam mobilitas di lapangan.
Tapi mereka tidak membantu kami dalam proses inspeksi itu. Mereka tidak menjelaskan dan memberikan data tentang keberadaan senjata pemusnah massal, termasuk senjata kimia dan biologi yang pernah mereka miliki. Jadi, bagaimana kami dapat mengatakan bahwa Irak bersih?

Di kota mana saja tim Anda melakukan inspeksi?

Di Irak, kami menjadikan Bagdad dan Mosul, yang terletak di utara Irak, sebagai basis, sedangkan proses inspeksi dilakukan di hampir seluruh wilayah Irak. Anggota tim inspeksi kami ada 100 orang, dibantu oleh puluhan staf. Jadi, totalnya sekitar 134 orang.

Benarkan telah terjadi perpecahan antara Anda dan Mohamad El-Baradei, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency, dalam memandang masalah Irak?

Tidak ada. Kami bekerja sangat dekat sebagai tim dan saling menghormati. Tentu ada sedikit perbedaan pendapat dalam memandang permasalahan. Tapi itu tidak mempengaruhi kerja tim inspeksi.

Pihak militer Irak menuding tim Anda bekerja sama dengan Badan Intelijen Amerika (CIA), bahkan hampir seluruh data dipasok oleh lembaga itu.

Unmovic memang menerima laporan intelijen, tidak hanya dari CIA, tapi juga dari dinas intelijen lainnya di dunia. Kami telah melakukan inspeksi pada banyak situs yang menurut laporan intelijen tersebut dicurigai sebagai tempat penyimpanan senjata kimia dan biologi. Tapi tidak satu pun hasil laporan intelijen tersebut yang menolong kami menemukan senjata pemusnah massal itu.

Ada yang mengatakan bahwa Irak mendapat bocoran dari intelijen Prancis tentang gerak tim inspeksi. Atas dasar informasi itu senjata lalu dipindahkan?

Menurut saya, itu tak benar. Kami memang memiliki informasi intelijen mengenai situs-situs yang dicurigai menjadi tempat penyimpanan senjata dan kami yakin Irak tidak tahu tentang informasi yang kami miliki itu. Saya amat yakin Irak tidak tahu secara pasti daerah mana saja yang akan kami kunjungi.

Benarkah sebagian anggota tim inspeksi adalah agen rahasia dari CIA dan dinas intelijen lainnya?

Tidak. Di masa lalu, United Nations Special Commission (Unscom), badan PBB yang disponsori oleh beberapa negara, melakukan pengawasan dan verifikasi di Irak hingga akhir 1998. Saat itu, sebagian staf inspeksi mewakili negara sponsor. Gaji mereka dibayar oleh pemerintah masing-masing. Tidak dapat dimungkiri bahwa mereka juga adalah agen rahasia di badan keamanan dalam negerinya.
Ini berbeda dengan Unmovic. Lembaga ini memiliki anggaran keuangan sendiri dan secara independen memilih staf yang direkrut sebagai staf resmi Unmovic.
Kami mewawancarai setiap orang yang direkrut untuk kemudian kami latih. Saya yakin bahwa mereka semua bekerja profesional sesuai dengan batasan-batasan yang kami berikan. Itu bukan berarti saya menjamin tidak akan ada penyusupan agen rahasia untuk kepentingan negara tertentu. Namun, sejauh ini, belum ada bukti adanya penyusupan, walaupun Irak menuding hal demikian dan merasa telah dimata-matai.

Sebelum AS melakukan aksi militer, tim inspeksi sempat kembali ke Irak meneruskan pemeriksaan seusai melapor kepada Dewan Keamanan, 14 Februari lalu. Apa hasilnya?

Kami telah mengunjungi sejumlah situs di Irak dan kami tidak menemukan senjata pemusnah massal di tiap situs yang kami kunjungi. Kami juga menerima sejumlah data dari sejumlah orang yang kami wawancarai mengenai program peluru kendali Irak. Kami berkesimpulan bahwa sebagian rudal Irak, yakni Al-Samoud, melewati batas yang telah ditentukan Dewan Keamanan PBB, yakni daya jangkaunya maksimal 160 kilometer. Karena itu, kami meminta mereka menghancurkan rudal tersebut.
Pemerintah Irak setuju dan sekitar 70 rudal telah dihancurkan. Kami juga sempat menemukan perlengkapan persenjataan kimia yang telah kosong. Tapi ini bisa saja cuma peninggalan masa lalu.

Pemerintah Irak sendiri pernah memberikan laporan soal senjata itu setebal 12 ribu halaman. Apa isi laporan itu?

Laporan yang diserahkan pada kami 8 November 2002 lalu itu tidak mengandung materi dan data baru yang dapat menjawab pertanyaan kami jauh sebelum inspeksi dimulai. Laporan yang tebal itu mengecewakan.

Selama meneliti soal senjata pemusnah massal itu, Anda pernah bertemu dengan Presiden Amerika George Walker Bush untuk membicarakan inspeksi ini?

Pernah. Saya diundang Presiden Bush pada Oktober 2002 bersama rekan saya, El-Baradei. Saya juga beberapa kali bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Colin Powell.

Banyak yang menduga bahwa tim Anda mendapatkan tekanan kuat dari Amerika.

Tekanan? Saya tidak akan mengatakan demikian. Sebuah lembaga internasional seperti kami telah terbiasa menghadapi pemerintah suatu negara dengan rekomendasi dan saran yang berbeda satu sama lain. Kami harus mendengarkan semuanya. Namun, apa pun itu, jika memang tekanan, kami selalu memutuskan langkah yang akan kami tempuh sendiri. Kami adalah lembaga yang independen dan berusaha sedapat mungkin agar obyektif.

Bagaimana dengan sikap AS yang seolah mengerdilkan peran PBB? Apa yang Anda harapkan dari lembaga yang dipimpin teman dekat Anda, Kofi Annan, itu dan apa saran Anda?

Saya kira AS akan tetap memerlukan adanya lembaga multilateral seperti PBB. Mereka telah mengambil tindakan militer tanpa otorisasi Dewan Keamanan. Dan jelas hal itu juga dikecam oleh mayoritas negara di dunia. Tapi jelas pula bahwa kejatuhan rezim brutal, Saddam Hussein, adalah anugerah. Namun, sekali lagi, Dewan Kemanan tidak menyetujui cara yang digunakan. Saya harap hal ini tidak terjadi lagi. Annan harus membangun mekanisme baru dalam Dewan Keamanan untuk menghindari preseden buruk ini.

Sejumlah kalangan amat yakin bahwa Amerika menyerang Irak semata-mata karena persoalan minyak ketimbang adanya senjata pemusnah massal itu. Anda juga melihatnya seperti itu?

Tidak. Perang Teluk pertama pada 1991 itulah yang didasari motif minyak. Karena Irak mencaplok Kuwait, salah satu sumber minyak Amerika, ada kekhawatiran bahwa Saddam juga bakal menyerang Arab Saudi, negeri pemasok minyak terbesar di dunia. Menurut saya, serangan kali ini lebih karena kekhawatiran Amerika soal persenjataan pemusnah massal itu.
Harus diakui bahwa serangan ini juga buntut dari peristiwa teror 11 September yang menimbulkan trauma mendalam bagi Amerika. Setelah menghancurkan Taliban di Afganistan, AS menyerang Irak, yang dianggap menyimpan senjata pemusnah massal yang bisa saja digunakan oleh teroris.

Tentang posisi Anda di Unmovic, kontrak Anda akan selesai Juni mendatang. Kabarnya, atas tekanan Amerika, PBB tidak memperpanjang kontrak itu?

Umur saya kini sudah 75 tahun, ha-ha-ha…. Sama sekali tidak ada tekanan dari pihak mana pun. Saya juga yakin bahwa tidak ada tekanan kepada Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja saya.
*****

CATATAN: Tulisan yang sama sudah diturunkan di Majalah TEMPO edisi 21 –27 April 2003.

[an error occurred while processing this directive]