[an error occurred while processing this directive]

Dato' Rastam Mohammad Isa:
“Hubungan Indonesia-Malaysia Akan Tetap Baik”

Kemenangan Malaysia atas Indonesia dalam kasus sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan, yang diputuskan Mahkamah Internasional 17 Desember lalu, menimbulkan rasa kecewa dari masyarakat Indonesia. Pemerintah Indoensia mengklaim, sejak masa kolonial Belanda dua pulau ini sebagai miliknya. Hal yang sama juga dilakukan Malaysia. Hanya saja, negara tetangga itu lebih agresif. Misalnya, mereka mengembangkan industri pariwisata di kedua pulau.

Berbagai reaksi kecewa dan sedih menyelimuti perasaan masyarakat Indonesia. Ada yang marah terhadap pemerintah Indonesia, namun tak sedikit yang melihat negara serumpun itu dengan sikap marah. Setelah belum lama menilai Malaysia “melukai” perasan rakyat Indonesia karena mengeluarkan peraturan yang menyebabkan ribuan pekerja ilegal Indonesia berbondong keluar dari negeri itu, hasil akhir sengketa atas Sipadan dan Ligitan seolah memperkuat citra negara jiran itu memang sengaja dilakukan untuk cari “gara-gara”.

Betulkah begitu? Tentu saja ini ditolak pihak Malaysia. Sebagai perwakilan tertinggi pemerintah Malaysia di Indonesia, Duta Besar Malaysia Dato' Rastam Mohammad Isa, mencoba menjelaskan pandangan pemerintahnya. "Kami harap semua pihak dapat memandang peristiwa ini dengan lebih tenang," kata Dato' kepada Tempo News Room dan sejumlah televisi Indonesia dalam acara halal bi halal dengan insan pers di Indonesia di Hotel Hilton Jakarta, Jumat (20/12) malam.

Dato’ Rastam yang saat itu mengenakan pakaian khas Malaysia warna hijau pupus mencoba menjelaskan posisi negaranya dalam sengketa ini. Tetap dalam bahasa diplomasi yang hati-hati. Ia tahu, meski sikap masyarakat Indonesia tak semarah pada persoalan tenaga kerja ilegal beberapa waktu lalu, tetap saja merupakan masalah yang sensitifit bagi hubungan dua negara. Berikut petikan percakapan pria berkaca mata minus dan berjenggot ini dengan sejumlah wartawan, di antaranya Diah A. Candraningrum dari TNR.


Apa komentar Anda tentang kemenangan Malaysia atas Sipadan-Ligitan?
(Tertawa) Apa komentarnya? Soalnya (keputusan) itu hanya mengkonfirmasi saja (bahwa) dua pulau tersebut kepunyaan kami.

Reaksi masyarakat Malaysia atas kemenangan ini?

Saya kira biasa-biasa saja.

Bagaimana dengan tindakan polisi Malaysia yang melarang wartawan Indonesia masuk ke pulau itu?

Kami akan cari tahu tentang hal itu.

Pemerintah dan Rakyat negara Anda tampaknya yakin sekali bahwa kedua pulau itu memang milik Malaysia.

Ya. Memang kami hormati keputusan yang telah dibuat. Karena kedua negara sudah setuju untuk membawa perkara ini ke Mahkamah Internasional. Dan Mahkamah Internasional juga sudah membuat keputusan, dan kita semua menerima. Ini (penerimaan yang baik -red) adalah hal yang telah disetujui oleh kedua pihak sejak dulu.

Bagaimana Anda memandang hubungan Indonesia - Malaysia pasca keputusan Mahkamah Internasional itu?

Saya kira hubungan Indonesia - Malaysia akan tetap berjalan dengan baik. Kita harapkan itu. Bagi pihak Malaysia, kami bersyukur keputusan telah dibuat dan itu berpihak pada Malaysia. Sekiranya kita lihat, secara umum reaksi di sini (Indonesia) bisa saja. Kita tidak khawatir hal ini akan menimbulkan masalah bagi (hubungan) kedua negara di masa datang.

Tapi parlemen Indonesia berkomentar keras terhadap keputusan itu.

Itu pukulan kepada mereka (DPR). Mereka saya kira berhak melakukan itu.

Bagaimana reaksi pemerintah Anda atas tanggapan keras itu?

Tidak jadi masalah. Bagi kami karena keputusan telah dibuat oleh Mahkamah Internasional, kami harap semua pihak dapat menerima dengan baik.

Adakah langkah-langkah tertentu yang diambil pemerintah Malaysia untuk mengantisipasi reaksi masyarakat Indonesia yang tidak menerima keputusan itu?

Seperti yang saya katakan tadi, kita harapkan semua pihak bisa menerima keputusan dengan baik. Supaya tidak timbul hal-hal yang dapat mengeruhkan keadaan, terutama dalam kaitan hubungan antara dua negara.

Ada upaya dari Malaysia untuk menghangatkan kembali hubungan dua negara?

Sudah tentu. Karena kerjasama itu kita lakukan setiap masa. Kerjasama dalam banyak bidang. Jadi itu tidak menjadi masalah.

Untuk Sipadan-Ligitan, apakah akan ada kerjasama khusus?

Itu yang saya tidak tahu. Nanti hal ini akan dibicarakan dalam konteks untuk menentukan perbatasan perairan antar dua negara.

Bisakah cerita sedikit tentang sejarah Sipadan-Ligitan?

Ini hanya apa yang saya dengar sendiri. Menurut orang-orang di Sabah, di pulau itu dulunya banyak telur penyu hijau. Ada orang yang bernama Siparan sering pergi ke sana, dari Pulau Sempurna, untuk ambil telur. Jadi lama-lama ditanya, itu pulau apa namanya. Orang menyebut Pulau Siparan, yang akhirnya jadi Sipadan. Masalahnya kita tidak tahu berapa tahun Siparan ini. Jadi bukan baru-baru ini. Sedangkan Ligitan saya tidak tahu.

[an error occurred while processing this directive]