[an error occurred while processing this directive]
Dachlan Abdul Hamid:
AMERIKA Serikat ngotot melakukan serangan ke Irak, karena menganggap negara ini menyembunyikan senjata pemusnah massal. Rencana ini memang belum terlaksana, sebab banyak negara yang menentangnya. Sebagian tegas menolak, apapun alasannya. Sebagian lainnya berlindung di balik prasyarat keharusan adanya restu dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) jika serangan itu akhirnya bakal dilakukan. Repotnya, sejumlah negara anggota Dewan Keamanan PBB menolak ide serbuan ke Irak.
Begitupun, Presiden Amerika Serikat George W. Bush hingga pekan ke tiga Februari ini seperti menulikan kuping terhadap reaksi internasional atas kebijakan pemerintahannya. Ia tetap berencana menyerang negara teluk itu. Akibatnya, banyak negara yang harus mengungsikan warganya yang berada di sana. Termasuk Indonesia.
Seberapa genting sebenarnya kondisi di Irak? Duta Besar Republik Indonesia di Bagdad, Dachlan Abdul Hamid, mengatakan suasana di sana tak banyak berubah. Meski di sana-sini terlihat sejumlah persiapan menghadapi perang, ia menyatakan masyarakat setempat terlihat, “rileks-rileks saja.”
Walau demikian, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) tetap membuat sejumlah kebijakan pengamanan. Puluhan WNI di Irak, yang sebagian besar mahasiswa, mereka evakuasi demi keamanan mereka. Kini, akunya, jumlah warga negara Indonesia di Irak tinggal delapan orang termasuk dirinya. Sementara kebijakan lain yng dikerjakan adalah mengupayakan agar para mahasiswa yang diungsikan tetap dapat mengikuti proses belajar. Kepada Adek Media Roza dari Tempo News Room yang mewawancarainya melalui sambungan telepon internasional dari Jakarta, Senin (17/2), Dachlan bercerita soal langkah-langkah yang diambilnya. Petikannya.
Tidak ada perbedaan sedikitpun di tengah ancaman perang saat ini? Lalu bagaimana dengan warga negara Indonesia yang berada di Irak? Sesunguhnya berapa jumlah WNI yang ada di Irak sebelum proses evakuasi? Bagaimana proses evakuasi itu sendiri? Adakah pengamanan khusus? Kenapa lewat Suriah? Dan siapa yang menanggung akomodasi mereka? Ini soal para mahasiswa, dengan dievakuasi, bagaimana nasib perkuliahan mereka? Apakah hal itu sudah dibicarakan dengan pihak universitas mereka di Baghdad? Sampai kapan mereka akan berada di Damaskus? Kembali soal evakuasi warga negara asing di Irak, apakah kebijakan ini juga dilakukan negara-negara lain, terutama negara ASEAN?
[an error occurred while processing this directive]
“Kondisi di Irak Rileks-rileks Saja”
Bagaimana sesungguhnya kondisi Irak saat ini?
Sampai sekarang kondisi di sini masih biasa-biasa saja. Mungkin ada kekhawatiran perang tapi kelihatannya rileks-rileks saja, mungkin mereka sudah biasa (dengan ancaman perang, red), saya juga masih menghadiri berbagai acara peresmian, resepsi dan sebagainya. Hubungan KBRI dengan pemerintah Irak juga berjalan lancar.
Ya, saya lihat wartawan banyak banget di mana-mana. Mereka juga turut meramaikan acara-acara kenegaraan seperti peresmian Danau Ameria pekan lalu di Baghdad. Pemerintah Irak juga mulai menyalurkan logistik secara besar-besaran untuk rakyatnya. Di sini kan negara sosisalis, jadi sistemnya makanan disubsidi bahkan sampai gratis. Logistik yang disuplai itu untuk cadangan selama tiga bulan bila terjadi perang.
Kami sudah melakukan evakuasi sejak 18 Januari lalu, kemudian tanggal 23. Yang dievakuasi saat itu adalah anggota keluarga petugas KBRI. Lalu pada 4 Februari lalu kami melakukan evakuasi terhadap semua mahasiswa yang ada, sebanyak 35 orang dan pihak keluarga KBRI yang masih tersisa sembilan orang. Saat ini sudah tidak ada lagi WNI di Irak, kecuali enam staf KBRI, termasuk saya ditambah dua sopir. Istri dan anak saya juga dievakuasi.
Tahun lalu, bulan Oktober, ada 104 WNI, mereka mahasiswa dan keluarga petugas KBRI. Nggak ada TKI, karena sejak 1991 sudah dihentikan pengiriman ke Irak.
Dari Baghdad lewat darat menuju Damaskus (Suriah, red). Kemudian dari Damaskus ada yang langsung menuju Jakarta dengan pesawat. KBRI telah mengatur segala hal yang diperlukan untuk proses evakuasi. Kami telah menyiapkan semua yang diperlukan, terutama masalah admisnistrasi jauh sebelum evakuasi dijalankan. Jadi semuanya berjalan lancar. Nggak ada hal-hal khusus yang dilakukan, juga nggakada pengamanan khusus bagi mereka yang dievakuasi karena kondisi Irak masih aman.
Semuanya KBRI yang menanggung. Kami memilih negara itu karena dekat dan paling aman. Kami juga sudah jauh-jauh hari berhubungan dengan KBRI di sana untuk mengatur evakuasi ini.
Nah, para mahasiswa untuk sementara kami tahan di Damaskus, mereka diminta untuk tidak kembali ke Jakarta supaya bisa belajar dulu di sana (Damaskus, red.) ikut sebagai mahasiswa pendengar dalam perkuliahan supaya ilmu mereka tidak surut. Jadi nanti kalau kondisi sudah aman mereka bisa kembali ke Baghdad.
Sekarang kebetulan mereka sedang libur, maka keluar dulu dah. Tapi kami di sini berusaha agar mereka dikasih izin-lah sementara agar nanti mereka bisa kembali.
Sampai kondisi di sini membaik, kondusif. Untuk hal itu, kami berusaha di sini. Kami akan kontak terus dengan KBRI Damaskus. Kemudian beberapa waktu lalu Kuasa Usaha Interin (pejabat Dubes RI di Syiria, red) telah bertemu dengan Menteri Pendidikan Suriah dan meminta bantuan agar ada upaya-upaya tertentu jika perkuliahan para mahasiswa terbengkalai mereka bisa melanjutkan kuliah di sana.
Mereka juga sudah melakukan evakuasi, dan kami para duta besar ASEAN di Irak juga mengadakan pertemuan, salah satu agendanya adalah kesiapan menjelang kemungkinan pecahnya perang, bagaimana perkembangan sekarang. Kan kita harus bersama lah ya, nggak bergerak sendiri-sendiri. Perlu diketahui, soal evakuasi ini dihitung secara psikologis, tidak hanya politis dan ekonomis. Kita kan dengan Irak negara sahabat, tentunya tidak enak kalau kita main tinggalkan begitu saja.
*****