[an error occurred while processing this directive]

Azyumardi Azra:
”Mereka Menganggap Berpolitik Dengan Kekerasan Lebih Efektif”

Tulisan dan Azyumardi Azra tampaknya suatu yang tak terpisahkan. Menjelang akhir Ramadan lalu, ia pun meluncurkan enam buah buku di Bentara Budaya Jakarta. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan yang disunting oleh Idris Thaha, staf pengajar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai pakar sejarah, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini memang tak bisa melepaskan disiplin ilmunya untuk meneropong aneka peristiwa. Ia tak tanggung-tanggung menampungnya dalam enam buku.

Peluncuran buku ini tentunya bukan yang pertama. Sejak tiga tahun lalu, dua kali ini meluncurkan kumpulan tulisannya. Semua dilakukan di luar kampus. "Agar tidak menimbulkan persepsi saya memanfaatkan fasilitas kampus," kata ayah empat orang anak ini.

Ia sadar peluncuran buku tersebut atas inisiatif pribadi. Karena itu ia tak ingin memanfaatkan kampus yang dipimpinnya. Salah satu buku yang diterbitkan menjelang Idul Fitri lalu, mengulas sejarah radikalisme berlabel agama. Apa kata Azyumardi tentang radikalisme kelompok atas nama agama ini? Simak petikan wawancara bersama Arif Firmansyah dari Koran Tempo di kantor UIN Jakarta akhir Ramadhan lalu.


Sejak kapan radikalisme atas nama agama muncul di Indonesia?
Kalau kita lihat dalam konteks itu sebenarnya ya ... pasca kemerdekaan dengan munculnya DI/TII. Sebuah gerakan politik atau memiliki agenda politik yang memakai agama, justifikasi agama, dan sebagainya. Sejarah mencatat DI/TII gagal. Kemudian masa Soeharto muncul lagi. Tapi sebagian kelompok radikal di masa Soeharto itu ada yang direkayasa oleh militer atau intelijen melalui Ali Moertopo dengan Opsusnya. Ada pula Bakin yang merekayasa bekas anggota DI/TII. Sebagian direkrut kemudian disuruh bikin berbagai aksi seperti Komando Jihad dalam rangka mendiskreditkan Islam. Ada pula kasus Haji Ismail Pranoto atau Hispran. Itu yang kita baca dalam laporan-laporan yang sudah dipublikasikan atau laporan pengadilan dan sebagainya. Nah sekarang ini muncul lagi. Sejak jatuhnya Soeharto ada era demokratisasi, liberalisasi, dan masa kebebasan. Maka kelompok radikal ini muncul lebih visible, lebih militan, dan vokal juga. Apalagi kemudian media massa, khususnya media elektronik sepetti TV, banyak meliput. Akhirnya mereka lebih visible.

Artinya, pada era keterbukaan ini mereka mendapat tempat yang lebih leluasa?

Ya. Paling tidak untuk menyampaikan visi mereka tampil di depan publik itu lebih banyak. Tidak seperti zaman Soeharto dulu, sekarang mereka bisa demo atau menampilkan diri dalam isu-isu yang terkait dengan isu nasional. Misalnya, ketika mau Sidang Tahunan MPR. Artinya dimungkinkan oleh perkembangan politik kita yang lebih liberal dan demokratis.

Apakah dalam aksi periode sekarang, gerakan ini cuma faktor agama saja atau ada muatan politiknya?

Kalau agenda politik itu jelas ada. Tapi bisa juga kedua-duanya. Ini bisa bertitik tolak dari pemahaman keagamaan tertentu kemudian diisi oleh muatan politik. Atau sebaliknya muatan politik lebih dulu baru diberikan justifikasi agama. Mereka punya agenda politik tertentu kemudian diberikan justifikasi ayat-ayat Al Quran atau hadis atau pandangan ulama tertentu. Atau bisa jadi dua-duanya.

Kenapa mereka menggunakan agama sebagai justifikasi terhadap muatan politik mereka?

Pertama, ada orang-orang yang memang pemahaman keagamaannya sangat literer atau harfiah. Kemudian dengan pemahaman agamanya yang literer itu kemudian mendorong mereka untuk melakukan tindakan politik tertentu, termasuk tindakan kekerasan. Atau memang semula dia gerakan politik tapi kemudian diberikan justifikasi keagamaan.

Lalu kenapa mereka sering menggunakan pola kekerasan?

Begini, mereka ini semula adalah kelompok politik. Untuk mendapatkan dukungan publik, di mana penduduk Indonesia mayoritas orang Islam, kemudian mereka membawa-bawa agama. Tujuannya agar sikap politik mereka, termasuk kekerasan tadi, seolah-olah dibenarkan agama. Cara seperti itu sebenarnya karena melihat ajaran agama secara sepotong-sepotong. Misalnya, memahami jihad itu hanya perang. Siapa saja diperangi, tidak hanya orang non-muslim. Orang Islam yang berbeda pendapat dengan mereka bisa diperangi juga. Jadi orang Islam sendiri menjadi sasaran jihad versi mereka.

Bisa Anda jelaskan tahapan yang biasa mereka gunakan untuk sampai pada tahap pemahaman jihad seperti tadi?

Ada tiga tahap yang bisa mereka lalui. Pertama, yang disebut dengan takfir yaitu mengkafirkan orang lain. Bisa saja orang Islam yang tidak mau mengikuti pandangan mereka dikafirkan. Kedua, hijrah. Bisa dalam pengertian fisik, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain yang mereka anggap lebih Islami sesuai dengan pandangan mereka. Atau dalam arti nilai, karena mereka menganggap nilai-nilai yang ada di dalam masyrakat itu sudah jahiliah. Jadi bukan lagi tidak Islami tapi sudah jahiliah yang mereka sebut dngan jahiliah modern. Misalnya, sistem demokrasi di mana perempuan menjadi presiden. Oleh karena itu harus pindah atau hijrah dari nilai-nilai seperti itu kembali ke nilai-nilai Islam yang kafah. Tentunya Islam kafah menurut pandangan mereka. Ketiga, jihad yang merupakan kulminasi dari kedua tahap sebelumnya. Jihad itu tidak hanya terhadap orang non-muslim, tapi juga ke orang Islam yang tidak sepandangan.

Apakah model yang dipilih Muhammadiyah dan NU tidak mampu mengakomodasi pola kelompok-kelompok radikal itu, sehingga mereka membuat cara sendiri?

Mereka menganggap cara politik dengan kekerasan lebih efektif. Kalau harus lewat pendidikan dakwah dinilai terlalu lambat. Makanya mereka lebih suka jalan pintas. Namun, bisa jadi radikalisme itu cermin rasa frustasi dengan situasi yang ada dan tidak percaya pada cara-cara damai. Jadi ada semacam rasa eskatologisme yang menganggap dunia ini sudah bangkrut dan jahiliah. Sehingga satu-satunya jalan harus ditempuh dengan kekerasan. Sementara organisasi seperti Muhammadiyah dan NU dinilai terlalu lambat dan moderat serta kompromistis dengan sistem yang ada. Artinya organisasi besar ini dianggap tidak serius mengakomodasi kepentingan dan pandangan mereka.

Atau, adakah pilihan itu muncul akibat adanya kekeliruan mereka dalam mengenalkan agama selama ini?

Sebetulnya tidak ada yang salah. Karena pesantren dan madrasah kita sudah mengalami modernisasi sejak 1970-an. Itu sejak Menteri Agama Mukti Ali menasionalisasi kurikulum pesantren dan madrasah. Artinya mereka harus mengikuti kurikulum yang dikeluarkan oleh Depdiknas dan Depag. Dan kalau alumnus madrasah atau pesantren itu ingin melanjutkan dari satu jenjang ke jenjang yang lain mereka harus mengikuti standar nasional. Ini diperkuat lagi dengan UU Pendidikan Nasional pada 1989. Nah, mungkin di antara orang di pesantren ada yang memahami agama secara literer tadi. Lalu mensosialisasikan pemikirannya pada para santri.

Ketika mengubah status IAIN menjadi Universitas Islam Negeri pada Mei 2002, apa yang Anda harapkan dari perubahan itu?

Sebetulnya saya hanya melanjutkan ide rektor terdahulu, khususnya almarhum Prof. Dr. Harun Nasution. Beliau ingin lulusan IAIN itu adalah orang yang berpikiran rasional, modern, demokratis, dan toleran. Tidak memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum, tidak memahami agama secara literer. Itu yang dimaksud Pak Harun dengan Islam yang rasional dan bukan Islam yang madzhabi. Islam yang tidak terikat pada satu madzhab. Untuk sampai ke arah itu institusinya harus dibenahi agar ilmu umum dan agama saling berinteraksi. Itu hanya bisa dilakukan jika status institut dikembangkan menjadi universitas. Karena itu kita mengembangkan fakultas sains, ekonomi, teknologi, MIPA, komunikasi, matematika, dan lain-lain.

Tidak khawatir terjadi kanibalisasi terhadap fakultas agama seperti dikhawatirkan banyak orang?

Menurut saya sebagai rektor hal itu tidak akan terjadi. Dan kita tidak mau terjadi. Kalau seorang muslim tidak memasukkan anaknya ke UIN sekarang ini, tentu bukan salah rektornya, kan. Kalau ada fakultas yang "tidak laku" ya, jangan menyalahkan dekan atau rektornya, ha..ha..ha...Lembaga ini didirikan oleh umat Islam dan tentunya untuk umat Islam juga.

Kenapa anak-anak UIN dan IAIN umumnya kurang militan dibanding aktivis masjid di kampus-kampus non-IAIN?

Wawasan keIslaman akademik yang ingin kita kembangkan itu juga harus mempunyai wawasan keIndonesiaan karena kita ini hidup di Indonesia. Jadi keislaman yang akan kita kembangkan itu adalah keislaman yang konstektual dengan Indonesia karena tantangan umat muslim di sini adalah tantangan Indonesia. Karena itu pendekatan kita terhadap agama adalah pendekatan yang tidak bermadzhab. Kita tidak mengembangkan fanatisme madzhab dan fanatisme terhadap pemahaman tertentu. Ini yang membedakan dengan anak-anak yang memahami agama secara literer yang cenderung hitam putih. Seperti yang bisa kita lihat kajian-kajian yang di Timur Tengah penelitian kelompok-kelompok radikal di Timur Tengah sebagian besar anggota atau kepemimpinan kelompok radikal itu adalah dari perguruan tinggi "sekuler" atau perguruan tinggi yang non agama atau ilmu eksakta.
*****

Catatan: Artikel yang sama sudah pernah diturunkan di Koran Tempo edisi Minggu 15 Desember 2002.

[an error occurred while processing this directive]