[an error occurred while processing this directive]
Ali Imron:
DI layar televisi, dia memang menjadi “bintang”. Melalui saluran televisi Reuters dan CC, Ali Imron, tertuduh pelaku peledakan bom Bali, menjelaskan proses pembuatan bom itu tanpa beban. Wajahnya dan senyumnya yang khas, yang memperlihatkan satu giginya yang ompong, dapat disaksikan seluruh penjuru dunia. Saat itu, dengan gamblang bak seorang ahli, ia menjelaskan perakitan bom yang telah mencabut nyawa lebih dari 180 orang di Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober tahun lalu.
Pengajar ilmu falak di Pondok Pesantren Al-Islam, Tenggulun, berusia 33 tahun itu memang tak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran ketika menjelaskan satu per satu langkah pembuatan bom. Tak aneh jika sikap ini membuat para ahli bom dari Australian Federal Police--yang ikut menyaksikan rekonstruksi di ruang rapat utama Kepolisian Daerah Bali di Denpasar--hanya bisa geleng-geleng kepala.
Keinginan untuk menyampaikan penyesalan atas aksi biadab yang ia lakukan bersama kelompoknya telah memompa keberanian ayah tiga anak ini untuk tampil dan menyampaikan peristiwa dahsyat itu secara apa adanya--walaupun ia mengaku tidak tega melihat dua kakaknya, Ali Gufron alias Muchlas dan Amrozi, berada di balik terali besi. Bungsu dari delapan bersaudara anak pasangan Haji Nurhasim dan Tariyem, asal Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, itu pun mengatakan, “Apa yang saya katakan bisa membuat mereka marah, tapi hati saya lega.” Yang membuatnya agak prihatin adalah kantongnya yang kosong. Dia mengaku, “Setelah bom Bali, saya hanya diberi uang Rp 2 juta oleh Idris, yang saya berikan untuk ongkos istri saya melahirkan anak ketiga.”
Bagaimana ia bisa mendapat ilmu meracik bom, sampai menyimpan puluhan senjata dan amunisi? Bagaimana pula ia terlibat cekcok dengan Imam Samudra? Rabu malam hingga Kamis dini hari pekan silam, wartawan TEMPO Edy Budiyarso berhasil mewawancarainya di ruang reserse Polda Bali. Mengenakan kaus tahanan berwarna biru, sembari sesekali menenggak sebotol Hemaviton, Ali Imron kuat berbincang selama dua setengah jam hanya ditemani beberapa potong dodol. Berikut ini petikannya.
Dari mana Anda belajar merakit bom?
Bisa Anda ceritakan perjalanan Anda menuju Afganistan?
Anda menceritakan tujuan Anda ke Malaysia kepada Ali Gufron?
Apakah pernah terbayang pelajaran apa yang akan Anda dapat dari Pakistan?
Apa yang Anda bicarakan dengan dua orang tersebut?
Apa isi perjanjian dengan Abdullah Sungkar dan Ba’asyir?
Anda mengatakan tidak tahu apa yang akan dipelajari di Pakistan dan Afganistan. Apakah kakak Anda, Ali Gufron alias Muchlas, tak memberikan pesan-pesan sebelum Anda pergi?
Bagaimana perjalanan Anda dari Malaysia ke Pakistan dan bagaimana dapat langsung bertemu dengan kelompok yang dituju?
Apa saja yang dilakukan selama berada di Pakistan?
Jihad seperti apa yang disampaikan guru-guru Anda di sana?
Bagaimana Anda bisa masuk ke Afganistan?
Apa saja yang diajarkan oleh para instruktur di kamp-kamp latihan tersebut?
Apa saja pelajaran ilmu kemiliteran yang Anda dapat?
Anda juga mahir mempergunakan berbagai macam senjata api?
Pelajaran yang terakhir?
Kenapa Anda pulang kembali ke Malaysia?
Dari Pakistan Anda ke Malaysia bersama dua orang dari Indonesia?
Anda tidak melaporkan latihan Anda dengan Muchlas, kakak Anda?
Setelah pulang ke Indonesia, Anda masih bergaul dengan kelompok Jamaah Islamiyah?
Apa benar Anda terlibat dalam pengeboman malam Natal 2000?
Dengan siapa saja Anda bertemu dengan Hambali?
Siapa yang menjalin kontak dengan Hambali sampai bisa bertemu di Surabaya?
Bagaimana Anda bisa memastikan orang yang Anda temui adalah Hambali?
Apa saja yang diperintahkan Hambali kepada Anda?
Bagaimana Anda bertemu dengan Dulmatin?
Bagaimana kemudian Anda bisa memutuskan mengebom gereja di Mojokerto?
Anda tidak memprotes disuruh mengebom gereja saat itu?
Anda juga pernah ke Ambon?
Bagaimana Anda sampai bisa menyimpan senjata-senjata yang katanya dari Ambon?
Bagaimana senjata itu sampai ke tangan Anda dan Anda sembunyikan di hutan di Tenggulun?
Menurut pengakuan mereka, senjata itu diambil untuk apa?
Ada sebagian orang yang masih tidak percaya kelompok Anda yang melakukan pengeboman Bali, sampai muncul komentar bahwa itu bom mikronuklir, dari mantan Kepala Bakin Z.A. Maulani.
Bukankah rak sudah tersusun sehingga Anda sebenarnya tidak ikut merakit secara lengkap?
Jadi peran Anda dalam perakitan bom Bali sebenarnya apa?
Ada saksi yang menyebut bom Paddy’s berawal dari tas ransel. Apa benar?
Dari mana Anda mendapatkan TNT yang biasanya menjadi bahan peledak standar TNI?
Bagaimana Anda percaya bahwa TNT itu berasal dari Ambon?
Bom Bali direncanakan di Solo, di rumah Herniyanto. Anda ikut dalam pertemuan tersebut?
Apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut?
Jadi memang Anda tidak ikut merancang aksi pengeboman dari awal?
Apa sebelumnya Amrozi tidak pernah menceritakan pertemuan di beberapa tempat di Solo?
Apakah Amrozi atau Mubarok pernah menceritakan pertemuan mereka dengan Abu Bakar Ba’asyir sebelum ledakan bom Bali?
Ada informasi Amrozi meminta izin untuk “amaliah” di Bali kepada Ba’asyir?
Anda tahu bahwa Abu Bakar Ba’asyir pemimpin tertinggi dari kelompok Jamaah Islamiyah?
Anda tahu bahwa kakak Anda, Ali Gufron, merupakan petinggi Jamaah Islamiyah dengan pangkat Ketua Mantiqi Ula?
Polisi juga menemukan buku Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah. Sebagai anggota, Anda pernah membacanya?
Kabarnya, Anda sempat berantem dengan Imam Samudra pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi bom?
Apa saja yang membuat Anda ribut dengan Imam?
Mengapa Anda menyatakan pelaku peledakan bom Bali perlu dibanggakan? Anda bangga dengan aksi kejam itu?
Imam Samudra dikabarkan sudah meminta maaf kepada keluarga korban yang muslim. Anda sendiri?
Apa yang membuat Anda sadar? Apakah ada tekanan polisi?
Anda tidak mengajak mereka untuk seperti Anda?
Anda sempat berbincang-bincang dengan kakak Anda dan Imam Samudra di dalam sel?
Apa yang biasanya dikatakan Ali Gufron dan Imam Samudra kepada Anda?
Mengapa kesadaran Anda datang terlambat, sehingga Anda harus ditangkap di Pulau Berukang?
Apa yang sedang Anda lakukan ketika polisi menangkap Anda di Pulau Berukang?
Apa benar Anda hendak pergi ke Sabah sehingga Pulau Berukang sebagai transit saja?
Kabarnya, selama pelarian, Anda membawa senjata. Apa betul?
Anda punya pesan kepada mereka yang belum menyerah?
Anda pernah disiksa polisi untuk mengakui sesuatu kepada para penyidik?
Kalau melihat dampak bom Bali yang besar, hampir 200 orang terbunuh, Anda bisa dihukum mati.
[an error occurred while processing this directive]
“Saya Tak Menyangka akan Jadi Bintang Lapangan”
Bagaimana Anda bisa bercerita dengan gamblang dalam rekonstruksi perakitan bom?
Rekonstruksi itu bukan drama, sandiwara, atau rekayasa polisi.
Belajar dari Afgan (Afganistan).
Dari rumah sebenarnya saya belum mengerti tentang pergerakan dan harakah. Menjelang lulus dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah Parangan, Lamongan, pada 1991, saya memiliki keinginan untuk pergi ke Malaysia, untuk bertemu dengan kakak saya, Ali Gufron atau Muchlas. Setelah lulus, saya ke Kuala Lumpur, kemudian ke Johor Bahru menemuinya.
Iya. Saya sampaikan niat saya untuk bisa sekolah lagi. Masa, baru datang langsung menjadi tenaga kerja? Lalu dia jawab, “Kalau begitu, tunggu.” Alhamdulillah, setelah ditunggu satu minggu, ada jawaban dari dia, saya bisa sekolah ke Pakistan.
Sempat terpikir itu sekolah biasa. Visa ke Pakistan saya dapat dari Singapura. Setelah mendapat visa, saya diajak ke Negeri Sembilan. Di sana ketemu dengan Abdullah Sungkar dan Ustad Abu Bakar Ba’asyir.
Saya masih belum tahu apa-apa. Hanya, menjelang kami berangkat, kok, seperti ada perjanjian. Waktu itu, saya bertiga dengan dua orang teman kakak saya.
Saya bersalaman dengan Abdullah Sungkar dengan mengucapkan wa’allah bahwa saya akan melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya dan meninggalkan larangan Allah dan rasul-Nya semampu saya. Baru sesampai di Pakistan, dari jemaah yang sudah lebih dulu, saya diberi tahu bahwa janji yang saya ucapkan itulah baiat.
Dia hanya berpesan agar saya memperbaiki niat, ikhlas, dan sabar.
Dengan pesawat Malaysian Airlines ke Pakistan. Di sana rupanya sudah ada yang mengatur. Ada seorang suruhan Abdullah Sungkar dan Ba’asyir bernama Ismail--orang Malaysia yang bertemu di Negeri Sembilan. Dialah yang mengurus.
Dari Karachi, kami langsung ke Peshawar. Di sana sudah ada yang menjemput. Lantas kami ikut pengajian-pengajian yang isinya tentang jihad. Ada sekitar 25 orang peserta, dari Arab, Thailand, dan terbanyak dari Filipina. Dari Indonesia, saya bertiga dengan Sarjio dari Solo dan Arismunandar dari Kompak, Surakarta. Selain mempelajari jihad, kami mendapat pelajaran tentang tafsir Al-Quran. Dari Peshawar, terkadang kami pergi ke Lahore, juga ke Islamabad, untuk mengikuti pengajian. Itu semua berlangsung sampai satu setengah tahun.
Jihad untuk menghadapi Rusia.
Tahun 1993, kami masuk ke Afganistan, di daerah Thurkom, perbatasan dengan Pakistan. Tempat itu milik komandan jihad Afganistan, Syekh Abdul Rossul Sayaf, dari kelompok Ijtihad Islamiyah Afganistan. Afganistan memang memiliki program latihan perang untuk menghadapi Rusia, yang ada kemungkinan akan datang lagi.
Saya dilatih seperti dalam akademi militer. Instrukturnya kebanyakan berasal dari Arab, ada juga yang berwajah Melayu, dan dari Afgan sendiri. Karena kami bukan tentara tapi sukarelawan jihad Afganistan, setiap hari kami lari naik-turun gunung untuk menggembleng fisik. Juga digembleng akidah, yaitu ilmu din, yang menekankan fiqul jihad atau fikih yang membicarakan jihad.
Pelajaran militer dibagi empat. Pertama, pengenalan bahan peledak, pengenalan tentang detonator, pengenalan tentang detonating cord, dan cara-cara merakit bahan peledak menjadi bom. Kami mempelajari teknik meledakkan pohon, rel kereta api, dan gedung. Juga cara menempatkan ranjau: ranjau antipersonel, ranjau antitank, dan ranjau kendaraan. Pada waktu itu kami memang memfokuskan soal peledakan.
Itu pelajaran yang kedua. Dikenalkan berbagai macam senjata, dari pistol, revolver, laras panjang, stand gun, senjata antitank, antipesawat, hingga artileri. Kami juga dilatih membongkar-pasang senjata dan cara merawatnya dan memperbaiki kerusakan. Baru kemudian kami dilatih menembak. Kami diajari menembak dalam segala situasi. Ketiga, pelajaran tentang peta. Walaupun sedikit, dikenalkan jenis-jenis peta, cara membaca kompas, dan yang paling penting fungsi penggaris militer atau service protector, karena peta akan berfungsi dalam penembakan artileri.
Pelajaran keempat adalah taktik perang, bagaimana strategi penyerangan secara umum, malam hari, cara menyergap dan meng-counter penyergapan, serta cara mundur. Sampai dalam taktik mundur, kami diajari lari sambil menanam ranjau.
Sekitar tahun 1994 Afganistan dikuasai gerakan Taliban. Mereka sudah bergerak sampai ke Jalalabad, sehingga sudah dekat dengan kamp kami. Taliban akan memerangi kelompok mana saja yang tidak mau tunduk (kepada mereka--Red.). Waktu itu Syekh Sayaf tidak mau ikut Taliban, sehingga kami segera meninggalkan Afganistan dan masuk ke Pakistan.
Hanya bersama Sarjio karena Arismunandar sudah pulang lebih dulu.
Saya dianggap kurang taat karena saya memang kurang suka dengan cara-cara kepatuhan mutlak. Karena itu, saya kurang bisa bergaul dengan kelompok itu (Muchlas dan kawan-kawan--Red.).
Saya sering diminta melapor ke Solo karena saya dianggap berada di bawah Abu Fatih di Solo. Apa-apa disuruh lapor, mungkin dianggap saya ini alumni Afganistan sehingga akan diatur-atur. Apalagi sama-sama satu jemaah. Soal (sifat) kurang taat itu memang sudah bawaan saya.
Benar. Waktu itu Hambali datang dari Malaysia ke Surabaya. Hambali bicara soal pengeboman gereja. Saya kebagian mengebom gereja Mojokerto.
Saya bersama dengan Amrozi, Hutomo Pamungkas, dan Ali Fauzi.
Mungkin Amrozi. Dia yang selalu membawa handphone. Pertemuan berlangsung di sebuah kamar Hambali di Hotel Mesir, Surabaya.
Kami mengenal dia dengan nama Hambali. Saya mengetahui nama lainnya dari koran, apalagi dia sudah lebih dulu mengenal Amrozi dan Ali Fauzi di Malaysia.
Dia mengatakan saya yang akan mengatur keperluannya. “Segala urusan di lapangan terserah kamu semua,” katanya. Dia memberi uang kepada Amrozi, tapi besarnya saya tidak tahu. Setelah itu, Amrozi membeli potasium klorat, belerang, serta aluminium powder, karena TNT, detonator, dan firing device disediakan oleh Abdul Matin.
Mungkin Dulmatin sudah dikontak Hambali lebih dulu.
Dari perbincangan, “Apa ada sasaran selain di Surabaya?” Dijawab, ada, gereja di Mojokerto. Besoknya kami mensurvei ke Mojokerto dengan sedan Crown putih milik Amrozi. Jumlah kami waktu itu lima orang. Kami juga sempat melihat sasaran lain, sehingga kami sempat berputar-putar ke Jombang dan Bojonegoro.
Tidak. Saat itu pemikiran saya sama dengan pemikiran Hambali. Pemahaman jihad kami sama, yang terpikir adalah pahala saja.
Iya. Tapi masih awal, tahun 1998, belum seramai kemudian. Saya mendapat tugas dari Dewan Dakwah Surakarta lewat Arismunandar untuk mengecek apa yang sesungguhnya terjadi di Ambon. Waktu itu ada perjanjian pertama. Jadi, belum ada apa-apa.
Ya, itu peranan saya dalam kasus Ambon selanjutnya.
Setahu saya dari cerita Mubarok, almarhum Usaid, dan Sarjio, senjata itu berasal dari Filipina yang diselundupkan ke Ambon. Saya mendengar mereka mulai kesulitan menyimpan senjata di sana, apalagi ada yang rusak. Mereka meminta saya memperbaikinya karena saya memang bisa. Mereka bilang nantinya akan diambil lagi.
Mereka bilang akan dibawa lagi ke Ambon. Apalagi ketika ada kejadian Poso. Jadi, kalau tidak Ambon ya Poso, kalau tidak Poso ya Ambon.
Silakan orang berkomentar apa saja. Boleh saja orang bilang mikronuklir yang bahan utamanya potasium klorat, bukan uranium. Seharusnya orang yang menganalisis itu memiliki pengetahuan tentang bom. Mereka tidak tahu bom mobil itu beratnya satu ton lebih. Kalau muncul efek kebakaran, itulah sifat dari black powder (bubuk hitam--Red.). Sedangkan ledakan dahsyat adalah efek detonating cord (sumbu detonator--Red.). Sedangkan dampak yang paling parah di kanan karena kami meletakkan booster (penguat--Red.) di sebelah kanan mobil.
Pemasangan detonating cord dilakukan oleh Dr. Azhari. Walaupun saya tidak melihat langsung penyambungan antarbagian, saya tahu (pengerjaannya--Red.) karena cara penyambungan untuk bom yang ada di dalam filing cabinet itu standar. Hanya firing device yang dibawa Dulmatin itulah yang belum bisa saya buat.
Saya diserahi tugas untuk menjadikan (bom) dari detonator non-elektrik menjadi detonator elektrik (dari bom dengan sumbu biasa menjadi bom dengan sumbu elektronik--Red.). Kemudian (saya) memasang detonator-detonator di dalam bom. Jadi itu saja yang saya kerjakan.
Itu aslinya adalah rompi yang dibawa dari Solo. Rompi itu sudah dijahit dan dimodifikasi dari sana, kemudian di Bali kami tinggal menempelkan bom yang beratnya sekitar 4-5 kilogram TNT. Itu baru TNT, belum detonating cord, yang saya perkirakan ada 5-6 meter panjangnya.
TNT itu sudah dibawa Abdul Ghoni alias Umar Besar dari Solo. Katanya dibeli dari Ambon.
Saya yakin itu dari Ambon karena bentuknya sudah bubuk. Di Ambon, TNT berasal dari roket-roket yang ditemukan di laut zaman perang dulu yang digergaji dan diambil TNT-nya. Kalau TNT dibeli dari aparat atau mafia, biasanya masih berbentuk blok atau stik.
Saya ikut sekali. Waktu itu yang hadir Amrozi, Ali Gufron, Dulmatin, Abdul Ghoni, Mubarok, dan Idris.
Membagi tugas masing-masing. Saya menyimpulkan itu pertemuan terakhir sebelum ke Bali.
Ya, walaupun secara ilmu militer, saya lebih mumpuni. Mungkin dianggap adik sendiri, nanti tidak enak.
Tidak. Saya tahu belakangan Amrozi pernah melakukan pertemuan di Klewer. Saya orang yang tidak suka banyak teori, banyak berita, tapi tidak ada aksinya.
Tidak.
Saya tidak tahu persoalan izin. Begini ceritanya. Waktu itu ada berita Abu Bakar Ba’asyir terkait dengan orang-orang yang diperiksa di Malaysia dan Singapura, padahal rencana peledakan Bali sudah matang. Imam Samudra dan Idris sudah di Bali. Saya, yang pulang sebentar ke Lamongan, bertemu dengan Amrozi dan Mubarok, yang kebetulan datang dari Solo. Saat itulah saya tanyakan, apa rencana Bali tidak membuat Abu Bakar Ba’asyir cs jadi kacau, apa rencana di Bali diteruskan. Jawabannya tidak ada masalah. Berarti jalan terus.
Tahu, dia paling atas. Tapi, apa saya masih tercatat atau tidak sebagai anggota jemaah, saya tidak tahu karena saya tidak pernah melapor.
Saya mendengar cerita itu dari Rozi. Tapi saya tidak peduli atas cerita-cerita tersebut. Mantiqi itu apa, wakalah itu apa.
Itu yang lucu. Saya sebagai anggota, kalau di polisi, mungkin sudah mayor. Kok, melihat saja tidak pernah. Apalagi membaca. Jadi saya tak tahu warna sampulnya. Saya tahu ada buku tersebut dari Amrozi. Rozi pernah bercerita ada buku tersebut yang ia singkat dengan PUPJI.
Saya memang tak menyangka akan jadi bintang lapangan. Saya hanya sekali diajak rapat. Awalnya hanya menjadi sopir ke Bali.
Pertama, ia berjanji akan ada orang yang membawa bom ke tempat tujuan, ternyata kedua Iqbal tak bisa nyupir. Idris sama saja. Kedua, soal bom Renon, Imam maunya bom bunuh diri. Saya bilang, siapa yang mau dibunuh, wong sepi tak ada orang. Apalagi, ketika akhirnya sayalah yang ditunjuk meledakkan Renon, Imam bilang kalau bisa sampai pagar (Konsulat AS). Imam sendiri mudah tersinggung. Kalau merasa ada yang tidak patuh, dia marah dan menganggap tidak taat kepada pemimpin. Sedangkan sebagai pemimpin, dia tidak turun langsung saat peledakan.
Sekarang ini saya sudah sadar. Kemarin memang saya mengatakan bahwa kemampuan kami yang melakukan peledakan di Bali ini patut dibanggakan sebagai putra Indonesia. Tapi perlu disalahkan karena penerapannya yang salah.
Saya meminta maaf kepada semuanya. Walaupun mereka bukan muslim, seharusnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.
Tidak. Ini perenungan saya selama 14 hari di Pulau Berukang. Jihad kok jadi menderita, padahal dari pengalaman sahabat nabi dan para tabi’in, jihad membuat hati semakin tenang. Di sana, Mubarok sering bertanya, apa jalan kami salah. Saya jawab, mungkin salah.
Itu terserah mereka. Saya melihat mereka menganggap apa yang mereka lakukan benar.
Saya sebenarnya kasihan melihat Ali Gufron, Imam Samudra, dan Amrozi berada di balik terali besi. Kami bisa bicara, tapi mesti teriak-teriak karena beda ruangan. Saya juga khawatir penyesalan yang saya sampaikan ini membuat mereka marah. Karena itu, di sel, kalau saya dipanggil-panggil mereka, saya pura-pura tidur.
Biasanya Ali Gufron berteriak, “Ali jangan sedih, sabar!” Saya tak menjawab, diam saja, karena saya punya pendirian sendiri, takut cidal (berdebat). Jadi saya betul-betul menghindar.
Itu namanya perjalanan hidup, perjalanan takdir. Sekarang saya sudah tertangkap, ya, saya ingin ini cepat selesai.
Waktu itu saya sedang tidur-tiduran sore.
Sabah masih jauh. Niat saya ya tinggal di sana.
Iya. Walaupun saya membawa senjata dan saya berpikir kalau ada polisi akan saya tembak, saya berkeyakinan, kalau memang takdir saya tertangkap, saya akan tertangkap.
Kalau bisa saya mengirim berita kepada mereka, saya katakan menyerah sajalah. Mari kita tanggung bersama-sama. Sampai berapa lama mereka tahan untuk terus lari.
Ndak pernah. Kalau ditabok sekali, ya, pernah juga, ha-ha-ha…. Ini pun sewaktu di Kalimantan. Gara-garanya Imam Samudra. Dia bilang yang tewas di kafe satu orang, saya mengatakan dua orang. Setelah itu tidak pernah (ditabok).
Saya siap. Pengakuan saya bukan untuk mengurangi hukuman, tapi agar tidak ada lagi hal seperti ini, khususnya untuk anak keturunan saya, murid, dan saudara. Berdakwalah yang wajar saja.
Catatan : Tulisan yang sama sudah dimuat di Majalah Tempo Edisi 17 – 24 Februari 2003.