[an error occurred while processing this directive]

Agum Gumelar:
“Saya Butuh Orang Yang Punya Komitmen Pada Olahraga”

AGUM Gumelar akhirnya sampai di puncak organisasi olahraga nasional. Kamis dua pekan lalu, ia menyabet lebih dari separuh suara peserta musyawarah olahraga nasional dalam perebutan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) periode 2003-2007. Pensiunan jenderal berusia 58 tahun ini mengalahkan para pesaingnya, masing-masing Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Ketua Umum PB Forki Luhut Binsar Pandjaitan, dan Wakil Ketua Umum I KONI Pusat Arie Sudewo.

Sejak awal, dibandingkan dengan calon lainnya, Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi ini memang mendapatkan dukungan lebih. Ini terbukti, dalam pemilihan itu, Agum menang telak. Ia meraih 42 suara dari total 79 suara yang diperebutkan. “Pemilihan berlangsung demokratis, transparan, dan sportif," ujar jendral kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 1 Desember 1945, mengomentari kemenangannya saat itu.

Olahraga bukan dunia baru bagi lelaki berperawakan sedang itu. Dalam menyampaikan visi dan misinya di depan peserta musyawarah nasional, dia pun mengungkapkan betapa olahraga telah menjadi bagian hidupnya. Sejak di bangku sekolah dasar, bekas Menko Polkam di zaman Presiden Abdurahman Wahidini mengaku mencintai olahraga. “Angka rapor saya semuanya merah. Cuma nilai olahraga saja yang delapan,” katanya.

Untuk mengetahui bagaimana Agum Gumelar melihat posisi barunya ini, Rian Suryalibrata dari Koran Tempo, Gendur Sudarsono dan Irfan Budiman dari majalah Tempo, serta Sapto Pradityo dari Tempo News Room menemui Agum di ruang kerjanya, di lantai 9 Gedung Departemen Perhubungan, Jakarta, Kamis pekan silam. Berikut petikan perbincangannya.


Anda terpilih menjadi Ketua Umum KONI. Bagaimana Anda menilai proses pemilihan ini?
Saya melihat proses mencari dukungan dari masing-masing kubu cukup marak, cukup ramai. Tapi kemudian saya mencium ada aroma kurang sedap saat penggalangan dukungan. Saya mendengar ada permainan uang. Kemudian, saya merenung dan berpikir, kalau begini caranya saya mundur saja. Tapi lantas saya berpikir lagi, apakah mungkin itu terjadi. Setelah berpikir seperti itu, saya akhirnya yakin semua peserta Musyawarah Olahraga Nasional ini orang yang berjiwa olahraga. Namanya juga Musyawarah Olahraga Nasional, tentu orang-orang yang berjiwa olahraga yang hadir di sini, jadi pasti sportif. Saya pikir isu itu tidak benar. Akhirnya, saya urungkan niat mundur itu.

Jadi, tidak benar ada kabar money politics itu?

Saya sudah menganggap isu itu tidak benar. Tapi, ketika itu, memang ada-ada saja cara orang mengeruhkan suasana. Contohnya, menjelang pemilihan, saat makan siang, saya didatangi salah seorang pejabat KONI yang tidak usah saya sebutkan namanya. Dia bilang, ada tabrakan kereta api di Sumatera Selatan dan 26 orang meninggal. Saya langsung lemas mendengar itu. Itu kan tanggung jawab saya selaku Menteri Perhubungan. Tapi setelah beberapa lama saya tunggu, kok tidak ada laporan yang masuk ke saya. Akhirnya saya tahu, kabar itu hanya kabar bohong belaka. Ditujukan ke saya entah untuk apa. Jadi Anda bisa bayangkan, ternyata ada usaha yang berbau tidak sportif seperti ini yang masuk ke arena pemilihan Ketua KONI. Padahal, yang kita harapkan semuanya berjalan sportif, karena sekali lagi, kita ada di arena olahraga. Bukan politik. Kalau di politik mungkin ada istilah menghalalkan segala cara.

Maksudnya?

Dalam olahraga, kita dituntut harus sportif. Kita tidak bisa memenangkan suatu pertandingan dengan menghalalkan segala cara. Karena olahraga itu ada aturannya, ada normanya. Olahraga itu sportif, mau menerima kenyataan. Kemenangan harus kita terima dengan gembira dan rasa syukur, dan kekalahan harus diterima dengan lapang dada. Bahwa lawan memang lebih baik dari kita atau keberuntungan belum ada pada kita. Ini yang namanya sportif. Ketika memimpin PSSI, saya menerapkan sikap ini. Saya menerapkan tiga hal yang ditabukan dalam sepakbola. Pertama, tabu bagi pemain bola berantem di tengah lapangan. Yang kedua, tabu melawan keputusan wasit dengan cara tidak wajar. Bahkan memukul wasit. Karena itu, kejadian yang menimpa tiga pemain sepakbola kemarin itu sanksinya berat. Karena memukul wasit itu pelanggaran berat. Protes terhadap keputusan wasit itu ada caranya, ada prosedurnya. Tabu ketiga adalah suap. Kalau tiga tabu ini bisa diterapkan secara konsisten dalam sepakbola atau olahraga, betapa cantiknya olahraga kita.

Tiga tabu itu akan Anda terapkan juga di KONI?

Ya. Saya pikir, mengapa tidak.

Itu akan jadi program Anda?

Itu bukan program. Itu bagian dari pembentukan sikap mental olahragawan. Salah satu tugas pembina olahraga adalah membentuk watak olahraga kepada para pelaku olahraga itu sendiri. Mulai dari manajernya sampai olahragawannya. Makanya, seperti yang saya kemukakan tadi, manajer tim yang benar tidak boleh mengatakan boleh melakukan segala cara untuk mencapai kemenangan. Semua ada aturannya. Prestasi harus diraih dengan cara sportif. Apa prestasi diraih dengan menggigit kuping? Untuk mencapai prestasi maksimal, harus berlatih, berlatih, dan berlatih lagi. Dan induk organisasi harus menyiapkan ajangnya untuk mewujudkan hasil latihannya itu, yakni kompetisi. Atlet akan menjadi besar karena kompetisi, suatu tim akan menjadi besar karena kompetisi. Kompetisi itu adalah jantung dari pembinaan olahraga.

Sebagai Ketua Umum KONI, bagaimana Anda akan melakukan hal itu?

Induk-induk organisasi, yakni pengurus besar organisasi olahraga nantinya akan saya stimulasi untuk menggelar kompetisinya dengan teratur. Saya pernah melakukan ini di PSSI. Ketika masuk PSSI menggantikan pak Azwar Anas, waktu itu kompetisi sepakbola dihentikan, karena kekurangan dana dan situasi keamanan yang tidak menentu. Waktu itu saya katakan, kompetisi tidak bisa dihentikan. Tanpa kompetisi, mau jadi apa pembinaan sepakbola kita. Saya katakan kompetisi harus jalan. Ada yang bertanya, uangnya darimana. Saya bilang, pokoknya jalan dulu, uangnya dari Tuhan Yang Maha Esa, karena kompetisi itu penting. Dan alhamdulillah, dalam situasi ekonomi seperti saat itu masih ada kepercayaan dari pihak-pihak ketiga untuk mendukung kompetisi. Satu masalah selesai, yakni masalah dana itu. Masalah kedua adalah soal keamanan. Saat itu, sedang marak-maraknya unjuk rasa di Jakarta, karena itu polisi melarang final dilangsungkan di Jakarta. Saya tidak berhenti karena larangan ini. Kompetisi harus tetap jalan. Akhirnya, final dilangsungkan di Manado, Sulawesi Utara. Masyarakat di sana dengan senang hati menggelar final kompetisi. Mereka menyiapkannya dalam waktu satu minggu. Itulah yang saya maksud dengan pembinaan olahraga.

Di KONI atau di induk organisasi lain, ada istilah cari duit. Dalam program Anda, apa itu menjadi salah satu yang akan ditertibkan?

Menurut saya, tidak usahlah kita menilai masa-masa yang lalu. Saya dengar, kabarnya memang begitu, tapi tak usahlah kita membahas hal itu lagi. Yang penting kan sekarang. Untuk para pengurus KONI sekarang ini, ada satu kriteria yang saya tonjolkan, yakni dia haruslah orang yang menjiwai olahraga. Selain itu, dia adalah orang yang punya komitmen mau mengabdi di bidang olahraga.

Anda yakin resep ini bakal jalan?

Ketika saya baru diangkat menjadi Ketua Umum Persijatim (Persatuan Sepakbola Se-Jakarta Timur, red.), saat itu pengurusnya ribut melulu. Sehingga prestasinya juga jelek. Karena itulah yang pertama saya lakukan adalah menyusun kepengurusan. Saya perhatikan, saat itu semua orang-orang yang duduk dalam kepengurusan Persijatim merasa dirinya bos. Karena itu, mereka sulit untuk bekerja sama. Orang-orang itu saya kumpulkan, lalu saya tanya, siapa di antara Anda yang ingin membantu saya memajukan Persijatim. Saya tidak peduli latar belakang mereka, saya bilang, yang mau saya lihat adalah dedikasi dan komitmen Anda. Dari situ kemudian saya susun kepengurusan orang-orang yang betul-betul menjiwai sepak bola. Persijatim kemudian merayap dari divisi II ke divisi I, dan akhirnya masuk ke divisi utama.

Di KONI, Anda akan menerapkan pola serupa dalam menyusun kepengurusan?

Tentu kita harapkan hal itu juga bisa muncul di KONI. Karena itu, kita harus benar-benar bisa memilih orang-orang yang menurut kacamata olahraga tepat berada di situ. Saya akan usahakan itu. Kriterianya yang saya sebutkan tadi. Tentunya juga untuk mencegah orang yang cuma ingin cari makan di KONI, tanpa mau berprestasi.

Jadi berarti, KONI tertutup bagi orang-orang yang hanya ingin mencari makan?

Bisa saja, yang penting komitmennya itu. Tapi, alangkah baiknya, orang yang punya komitmen itu juga punya duit.

Apakah orang yang punya duit dan ingin aktif seperti itu masih ada?

Ada. Banyak. Waktu saya terpilih sebagai Ketua Umum KONI, spontan teman-teman pengusaha menyatakan ingin membantu. Ini menunjukkan kepedulian masyarakat kepada olahraga. Lihat saja sekarang, Bank Mandiri menyediakan sponsor sebesar Rp 25 miliar bagi Liga Indonesia. Itu patut kita syukuri. Oleh karena itu jangan kecewakan kepedulian mereka.

Kapan pengurus baru KONI akan dilantik?

Sekarang baru minggu pertama, ya paling lambat minggu ketigalah.

Sudah lengkap terisi semua posisi?

Sebagian besar sudah masuk.

Adakah pengurus lama yang masuk dalam pengurusan baru ini?

Spirit kesinambungan harus ada, tapi harus pandai memilih mana yang baik mana yang tidak. Tapi, pasti ada orang-orang lama yang bakalan masuk, cuma saya tidak tahu persentasenya berapa. Saya memang menjaring dari semua kalangan. Ada dari KONI daerah, pengurus cabang, wartawan, lalu dari mantan atlet. Itu semua kita tampung. Orang-orang yang duduk di KONI itu haruslah orang-orang yang punya komitmen terhadap olahraga. Seorang pembina olahraga haruslah olahragawan atau berjiwa olahraga. Tidak bisa, misalnya, seorang ahli nujum atau dukun. Nah inilah yang ingin saya terapkan dalam KONI. Right man on the right place. Titik berat pembinaan itu kan di masing-masing induk organisasi. KONI bertugas untuk menjadi koordinator dan berusaha menstimulasi pembinaan prestasi di masing-masing cabang ini dengan dukungan yang optimal. Sekarang kita lihat pada tinju, misalnya. Yang menjadi tanggung jawab ini kan PB Pertina. KONI melihat apa kendalanya. Misalnya tidak ada dana. Nah, KONI harus membantu masalah ini. Jadi memang KONI harus menjadi koordinator. Pembinaan prestasi semuanya ada di PB. Misalnya sepakbola. Pembinaan prestasinya di PSSI, bukan KONI. Jadi, hubungan KONI dengan PB-PB ini haruslah setara, bukan atasan dan bawahan.

Anda kan sekarang memegang banyak jabatan, misalnya, sebagai Menteri Perhubungan dan Ketua Umum PSSI. Apakah jabatan rangkap seperti ini efektif?

Bisa saja. Di luar negeri, Ketua KONI itu biasanya dipegang oleh pejabat. Itu lebih efektif. Di negara lain, bisa menjadi efektif. Untuk Indonesia? Kita lihat saja. Efektif atau tidak saya di situ.

Dengan kesibukan Anda, tampaknya posisi Sekretaris Jenderal menjadi sangat penting.

Ya, posisi Sekjen memang motor organisasi. Itu penting sekali, begitu pentingnya maka betul-betul memerlukan kecermatan untuk memilih posisi ini.

Sudah ada nama untuk posisi ini?

Saya sudah ada beberapa nama, tapi tidak usahlah saya sebut nama-namanya.

Kriterianya?

Mereka adalah orang yang betul betul mampu menjadi motor organisasi, punya lobi luas, punya kemampuan administratif, dan menjiwai olahraga.

Sea Games Desember mendatang mungkin menjadi ujian pertama buat Anda selaku Ketua KONI?

Bisa dibilang begitu. Tapi kan Sea Games tinggal sebentar lagi, sejauh mana kepengurusan KONI yang baru ini bisa berbuat maksimal dalam Sea Games besok itu. Saya kira apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan dalam event ini harus dirumuskan bersama dulu. Jangan sampai kita terjebak sasaran akhir kita Sea Games saja. Masih ada yang lain.

Maksud Anda, Sea Games bukan sasaran utama, lantas apa yang menjadi sasaran utama?

Asian Games dan Olimpiade. Jadi, dalam Sea Games ini kita harus berani mengirimkan atlet-atlet muda berbakat. Mereka itu kita siapkan untuk ajang yang lebih tinggi. Jadi pada masanya, pada usia emasnya, mereka dapat berprestasi di jenjang yang lebih tinggi. Jadi jangan takut untuk mengirim atlet junior ke Sea Games.

Berarti, dalam Sea Games mendatang ini, kita tidak mengejar prestasi?

Ya, prestasi juga harus dikejar. Tapi titik beratnya itu haruslah pembinaan atlet junior untuk ajang yang lebih tinggi.

Beberapa tahun terakhir prestasi olahraga kita merosot, bagaimana Anda melihat ini?

Yang jelas, saingan kita berlari lebih cepat dibanding kita. Kita memang lari juga, tapi mereka lebih cepat. Ini terjadi karena pembinaan olahraga para pesaing kita itu sudah benar. Kita lihat saja Thailand. Pemerintahnya mengeluarkan anggaran US$ 2 miliar untuk pembinaan olahraga dalam waktu satu tahun. Malaysia dan Singapura juga begitu. Singapura bahkan menjaring warga negara lain untuk menjadi warga negara mereka. Jadi, demikian besar perhatian pemerintah negara-negara itu terhadap pembinaan olahraga. Nah kita kalahnya di situ. Makanya, menurut saya, pembinaan olahraga harus menjadi prioritas. Di sinilah pentingnya peran pemerintah. Tanpa peran pemerintah, olahraga akan sulit berkembang. Karena kita belum seperti di Eropa atau Amerika di mana olahraga sudah menjadi industri. Kalau olahraga sudah menjadi industri, pemerintah tidak lagi berperan. Tapi kita kan belum menuju ke sana. Peran pemerintah masih tetap diperlukan.

[an error occurred while processing this directive]