[an error occurred while processing this directive]
![]()
|
Umar Wirahadikusumah
Penghormatan terakhir bagi mantan Wakil Presiden, Umar Wirahadikusumah, berlangsung megah. Tembakan salvo ke udara disambut dengan gemuruh genderang mewarnai upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Jumat (21/3) lalu. Mantan Wakil Presiden lainnya, Try Sutrisno bertindak sebagai inspektur upacara.
Dalam upacara pemakaman itu tampak hadir Susilo Bambang Yudhoyono (Menkopolkam), Malik Fadjar (Mendiknas), serta Ahmad Tirtosudiro (Ketua DPA). Selain itu hadir pula Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kapolri Dai Bachtiar, serta kepala staf dari tiga angkatan perang.
Umar Wirahadikusumah, meninggal dunia di Rumah Sakir Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta, di usia 79 tahun. Ayah dari dua putri dan kakek lima orang cucu ini meninggal akibat kelainan jantung yang sudah dideritanya 13 tahun terakhir. "Kita kehilangan seorang perwira TNI dan mantan wapres yang memiliki reputasi baik sekaligus mampu menempatkan dirinya menjadi seorang negarawan," kenang Susilo Bambang Yudhoyono, usai pemakaman.
Ingatan pun kembali saat Almarhum dikenal sebagai pejabat yang punya kebiasaan melakukan inspeksi mendadak (sidak). Beberapa kali Umar mengejutkan pejabat atau penduduk karena inspeksinya yang benar-benar mendadak. Seperti peristiwa Mei 1984, dia bermaksud melakukan sidak ke Malang, Jawa Timur. Cuaca buruk di langit Malang, memaksa pesawat mendarat di Surabaya. Helikopter yang sudah menunggu di Malang harus menjemputnya ke Surabaya. Namun selama 40 menit menunggu kedatangan heli, Almarhum menolak beranjak dari pesawat. "Takut inspeksinya bocor," begitu alasannya.
Kisah mengejutkan lain terjadi tiga bulan berselang. Almarhum meninjau Universitas Lambung Mangkurat dan lokasi transmigrasi khusus di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lupakan protokoler dengan pengawalan ketat atau sambutan meriah. Umar datang ke lokasi menggunakan bis umum yang sesak penumpang. Bahkan sopir bis baru sadar sedang membawa orang nomor dua di republik ini saat bis sudah berada di tengah perjalanan.
Pria kelahiran Sumedang, Jawa Barat ini mengawali kariernya di militer. Pemuda Umar masuk pendidikan PETA di Bogor, pada 1944. Saat Indonesia meraih kemerdekaan ia mendirikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Cicalengka dan menjadi komandannya. Tiga tahun kemudian, Mayor Umar bertindak sebagai komandan batalyon dan terlibat penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Sepuluh tahun berselang, Komandan Resimen Tempur Siliwangi ini menyusup ke Sumatera Barat untuk menumpas PRRI.
Perannya makin besar saat menjabat Pangdam V/Jaya. Sebagai Panglima dan Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah Jakarta Raya ketika itu, ia membekukan segala bentuk kegiatan PKI dan ormas-ormasnya setelah pemberontakan G 30 S/PKI. Jabatan sebagai Pangdam dipegang dari tahun 1960-1965.
Mundurnya Soeharto dari tahta kepresidenan sempat membuat para pelaku sejarah membuka tabir rahasia seputar Gerakan 30 September 1965. Namun suami dari Karlina Jayaadmadja ini tetap menyimpan erat kesaksiannya seputar peristiwa yang hingga kini belum seluruhnya terbuka itu, hingga akhir hayatnya.
Kesetiaan Umar pada para bekas komandannya memang tidak ada yang meragukan. Bisa jadi semua itu didapatkannya lewat pendidikan keluarga. Umar, putra kelima dari R. Rangga Wirahadikusumah yang pernah menjabat Wedana Ciawi, Tasikmalaya. Sementara ibunya, Ratnaningrum, merupakan putri Patih Demang Kartamenda di Bandung.
Sepanjang hidupnya, Almarhum dikenal jarang bergurau. Sejak 1974, golf menjadi olahraga yang paling digemarinya. Tiga tahun lalu, saat berulang tahun ke 76, Almarhum mendapat hadiah istimewa dari istrinya. Sebuah biografi Karlina Jayaadmadja (sang istri) yang berjudul "Bukan Sekadar Istri Prajurit". Kini tiada lagi buku, golf, ataupun sidak dari Jenderal (Purn) Umar Wirahadikusumah.(A. Rulianto, Multazam, Indra D).
|
[an error occurred while processing this directive]