[an error occurred while processing this directive]

Tanri Abeng: Tragedi Manajer Rp 1 Miliar

SEBAGAI manajer Tanri Abeng memang sukses dalam mengelola karir dan hidupnya. Konon salah satu resepnya adalah berani mengambil tantangan dalam bekerja. Coba bayangkan. Dua puluh tahun silam, ketika karirnya tengah menanjak di perusahaan multinasional, PT Union Carbide Indonesia, eh, pria berkumis ini malah memilih masuk ke PT PBI (Perusahaan Bir Indonesia). Iming-iming gaji dan fasilitas sebagai presiden direktur di tempat kerja yang lama ia anggap bak angin lalu.

Rupanya, Tanri tidak salah pilihan. Di tempat kerja baru ini ia berhasil menaklukkan tantangan kerja sehari-hari. Tangan dingin lelaki kelahiran Selayar, Sulawesi Selatan ini, tak dinyana mampu membawa PBI berkembang lebih besar hingga kemudian berganti nama menjadi PT MBI (Multi Bintang Indonesia).

Kesuksesan di MBI ini mendorong Tanri untuk mendaki 'gunung' lain yang lebih tinggi dan menantang. Pucuk dicinta ulam tiba. Hasratnya tersalurkan ketika keluarga Bakrie membuka pintu dan menawarkan dirinya untuk menjadi sang nakhoda kelompok usaha Bakrie.

Di 'gunung' yang baru ini Tanri kembali membuktikan kemampuan dirinya sebagai manajer jempolan. Bayangkan saja, dalam setahun dia berhasil meningkat keuntungan kelompok usaha Bakrie hingga 30%. Berbagai keberhasilan suami dari Farida Nasution ini yang membuatnya dijuluki manajer Rp 1 miliar.

Berbagai cerita sukses Tanri ini kemudian mampir ke telinga Soeharto. Dengan kekuasaan prerogatif yang dimilikinya, Kepala Negara era Orde Baru ini lantas meminta Tanri untuk menjadi Menteri Negara Pendayagunaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) tiga tahun silam. Berbeda dengan dua perusahaan terdahulu, di 'gunung' ini Tanri mesti menjadi nakhoda 164 BUMN dengan 1.300 anak perusahaan yang bergerak di segala bidang dengan nilai total mencapai kisaran Rp 500 triliun.

Walau menerima tugas mengurus ratusan perusahaan seberat ini, toh, Tanri pantang mengeluh. "Selain merupakan sesuatu yang berat, tugas itu merupakan suatu kehormatan luar biasa karena saya termasuk dalam kabinet penuh tantangan," ujarnya dengan mantap suatu ketika.

Pos jabatan yang sama Tanri emban di masa pemerintahan Presiden Habibie menyusul lengser-nya Presiden Soeharto. Namun di titik ini garis nasib Tanri mulai bergeser. Entah karena ambisi politik pribadi, atau sekedar solidaritas, penerima beasiswa 'American Field Service' ini mulai memasuki wilayah politik yang sebelumnya tidak pernah dia sentuh.

Belakangan, Tanri pun diisukan ikut menjadi anggota Tim Sukses Habibie dalam Pemilu 1999. Konsekuensinya, konon, dia ikut terlibat dalam intrik-intrik kotor untuk menggolkan Habibie. Salah satunya, dengan menyikat rupiah dari pundi-pundi Bank Bali. Akibatnya, kini Tanri mesti sibuk berurusan dengan aparat penegak hukum dan DPR. Rabu (6/2) pagi tadi misalnya, ia hadir di Gedung Bundar untuk menjalani pemeriksaan sebagai salah satu tersangka kasus Bank Bali oleh tim pemeriksa Jaksa Agung.

Skandal Bank Bali, boleh dibilang, membuat Tanri terpuruk dalam lilitan persoalan. Untuk bisa keluar dia harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Hal pertama yang harus dia klarifikasi adalah tuduhan bahwa Tanri hadir dan terlibat dalam pertemuan tanggal 11 Februari dan 26 Mei 1999 di hatel Mulia -- pertemuan yang menggagas "perampokan" Bank Bali tersbut. Tanri sendiri menyangkal pernah hadir, bahkan mengatakan pertemuan semacam itu tidak pernah ada.

Apakah Tanri akan berhasil keluar? Atau terjerumus semakin dalam? Hanya waktu, dan proses hukum yang benar yang akan menjawabnya.

TANRI ABENG
Tanggal lahir : Selayar, Sulawesi Selatan, 7 Maret 1942
Nama Istri : Farida Nasution
Pendidikan : - Pernah menerima beasiswa "American Field Service"
- Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin, Ujungpandang
- Program Master of Business Administrasion, University of New York, Buffalo.
Karir : - PT Union Carbide Indonesia
- Presdir PT Perusahaan Bir Indonesia (sekarang PT Multi Bintang Indonesia)
- Presdir Grup bakrie
- Meneg Pendayagunaan BUMN Kabinet Pembangunan VII
- Meneg Pendayagunaan BUMN Kabinet Reformasi
[an error occurred while processing this directive]