[an error occurred while processing this directive]
Marzuki Darusman:
Tugasnya sebagai Ketua Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia), yang baru saja dilepaskannya, tidak kalah beratnya. Sebagai Ketua Komnas HAM, Kiki -- panggilan akrabnya -- juga terlibat langsung dalam penyelidikan pelangaran HAM di berbagai tempat di negeri ini. Contoh paling hangat adalah kasus Timor Timur yang sedang diselidiki Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM, lembaga bentukan Komnas HAM. Penyelidikan KPP HAM ini melibatkan beberapa orang jendral TNI yang pemeriksaannya diliput besar-besaran oleh pers.
Kiki juga diharapkan oleh publik untuk membuka kembali kasus-kasus yang sepertinya terlupakan, misalnya kasus penembakan Trisakti, kasus Semanggi I dan II, kasus kerusuhan Mei, juga kasus penculikan dan pembunuhan aktivis. "Pada waktunya nanti persoalan-persoalan yang bertalian dengan Tragedi Semanggi, penculikan aktivis, dan kasus pelanggaran HAM lainnya mulai dapat ditangani secara terbuka," janji Kiki.
Belakangan, untuk menjaga integritas, Kiki memilih untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Komnas HAM -- putusan pleno Komnas HAM Jumat 14 Januari 2000 telah memutuskan Djoko Sugianto sebagai penggantinya. Dengan mundurnya dari Komnas HAM, Kiki berharap dapat menjaga independensi dan memberi prioritas pada Kejaksaan Agung. Apalagi, nantinya hasil kerja KPP HAM akan dilaporkan kepada Jaksa Agung. Itu bisa terjadi konflik kepentingan. Tak heran kalau kemudian ada suara-suara yang mempertanyakan posisi Kiki dalam kedua badan tersebut.
Tetapi Kiki sendiri menyangkal jabatan rangkapnya itu dapat mempengaruhi kinerja Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. "Ini disebabkan adanya kontrol dari publik dalam setiap detiknya. Masyarakat pasti akan mengungkap setiap ketidakberesan," katanya menjelaskan.
Marzuki Darusman, yang lahir di Bogor, 26 Januari 1946 ini, memiliki ayah seorang diplomat. Masa kecilnya dihabiskan dengan berkeliling dan bersekolah di berbagai negara tempat ayahnya ditugaskan, antara lain Singapura, Australia, dan Portugal. Sewaktu bersekolah di Perancis, ia terpaksa ikut minum anggur setiap istirahat siang di sekolah, karena ditertawakan kawan-kawannya saat minum air putih. Pendidikan seusai SMA ditempuh anak pertama dari lima bersaudara ini di Jurusan Fisika Murni Institut Teknologi Bandung. Karena ingin bersekolah di luar negeri, ITB pun ditinggalkannya pindah ke Jurusan Arsitektur Universitas Frankfurt, Jerman.
Arsitektur ternyata bukan pilihan hidupnya. Di tengah hangatnya pergolakan politik tahun 1966, Kiki kembali ke tanah air. Ia pun tertarik dengan dunia politik, lalu ikut aktif terjun dalam politik praktis, misalnya dengan ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan mahasiswa. Untuk bekalnya dalam beraktivitas politik ini, Kiki merasa perlu menimba ilmu sosial, maka ia masuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan Bandung. Lulus dari jurusan Hukum Internasional tahun 1974, ia semakin tenggelam dalam aktivitas-aktivitas politiknya.
Penggemar olah raga renang ini bertemu dengan Irmayanti yang sekarang menjadi istrinya di kampus. Diakui bukan cinta pertama, tapi perkawinan mereka telah bertahan lebih dari 20 tahun. Mereka memiliki seorang putri tunggal, Kianti Raisa.
Sebelum masuk organisasi pemuda KNPI, Kiki aktif di kampusnya sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Unpar (1970-1971) dan Sekjen Badan Kerjasama Senat/Dewan Mahasiswa Bandung. Dalam KNPI sendiri karir berorganisasinya terus melambung mulai dari Sekjen DPD Tingkat I, lalu Wakil Sekjen DPP, akhirnya Ketua DPP KNPI. Ia juga pernah jadi Sekjen AMPI, Sekjen Komite Kerjasama Pemuda ASEAN, dan Wakil Presiden Dewan Pemuda Asia. Kemudian ia menjadi anggota DPR/MPR. Jabatan Ketua Komnas HAM pun dipegangnya untuk periode 1998-2003. Terakhir, Presiden Abdurrahman Wahid menunjuknya menjadi Jaksa Agung.
Jabatan rangkap ini akhirnya memaksa Kiki harus memilih antara menjadi Ketua Komnas HAM atau Jaksa Agung. Pilihan telah jatuh, Djoko Sugianto telah mulai menjabat sebagai Ketua Komnas HAM di antara hujan hujatan belakangan ini. Tapi paling tidak ia tidak akan dibingungkan oleh jabatan rangkap seperti Kiki. (donna widjajanto, dari berbagai sumber)
Mengusung Kasus-Kasus Besar
Sejak dilantik sebagai Jaksa Agung awal November tahun ini, Marzuki Darusman, 54, dapat dikatakan mengemban tugas-tugas terberat di negeri ini. Di hadapannya mengantri berbagai macam kasus kelas berat untuk diselesaikan. Sebut saja kasus Bank Bali, kasus Texmaco, hingga kasus korupsi-kolusi-nepotisme mantan Presiden Soeharto dan kroninya.
[an error occurred while processing this directive]
Nama
:
Marzuki Darusman
Tempat/tanggal lahir
:
Bogor, 26 Januari 1946
Nama Istri
:
Irmayanti
Nama Anak
:
Kianti Raisa Darusman
Nama Orang tua
:
Suryono Darusman (ayah) dan Alida (ibu)
Pendidikan
:
- Jurusan Fisika Murni Institut Teknologi Bandung (1963 - tidak selesai)
- Jurusan Arsitektur Universitas Frankfurt (1965-tidak selesai)
- Jurusan Hukum Internasional Universitas Parahyangan Bandung (lulus 1974)
Jabatan
:
- Sekretaris KNPI Jawa Barat (1973-1974)
- Sekretaris Jenderal KNPI (1974-1978)
- Sekretaris Jenderal AMPI (1977-1979)
- Ketua KNPI Pusat (1978-1981)
- Sekretaris Jenderal Komisi Kerjasama Pemuda ASEAN (1978-1981)
- Wakil Presiden Dewan Pemuda Asia (1977-1993)
- Wakil Ketua IPU Human Rights Commission di Geneva (1990-1992)
- Anggota Komisi Eksekutif IPU (1990-1992)
- Wakil Ketua Komnas HAM (1993-1998)
- Ketua Komnas HAM (1998-2003)
- Ketua DPP Golkar (mulai 1998)
- Ketua Fraksi Golkar MPR (sejak 1998)
- Jaksa Agung (sejak 1999)
Alamat Kantor
:
Kejaksaan Agung
Jalan Sultan Hasanuddin No. 1
Jakarta Selatan Telepon 021-7221269