[an error occurred while processing this directive]

Nama :
Andrean Susilodinata
Lahir :
Jakarta, 2 Maret 1990
Pendidikan :
- SD Santa Usula II di BSD
Prestasi, antara lain: :
- Master Percasi termuda 1998
- Peringkat VII Junior tahun 2000
- Juara DKI Junior
Alamat :
Bumi Serpong Damai E-2/26
Sektor 14, Tangerang

Andrean Susilodinata
Bintang Catur Indonesia Masa Depan

Andrean Susilodinata, bintang belia dari dunia catur. Usianya baru sebelas tahun, pembawaannya mirip seorang kutu buku: berkacamata tebal, pendiam, bahkan cenderung pemalu. Beberapa kali diwawancarai wartawan, ditanya dengan berbagai cara, tak satu jawaban pun meluncur dari mulutnya. Jawaban pendek baru dia berikan ketika mamanya, Titih Gita, ikut-ikutan mendesak. Itu pun diucapkan dengan sangat pelan, sehingga mamanya terpaksa mengulang jawaban itu.

Tapi jangan keliru. Kesan di atas akan segera runtuh begitu dia menghadap papan catur. Di arena pertandingan olah raga itu ia dikenal sebagai seorang yang “galak”, yang tidak segan “mengulingkan” lawan-lawannya, termasuk beberapa pecatur senior. Hal itu membuatnya menjadi salah satu yang terbaik. Hasilnya, pada 1998 dia dikukuhkan sebagai penyandang gelar Master Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) termuda. Selain itu, kini pelajar kelas lima SD Santa Usula II di BSD ini menduduki peringkat ketujuh pecatur yunior dunia.

Dan kini, 10-15 Maret, Andrean tengah berlaga di ajang Dwitarung Bintang Junior dunia, melawan juara dunia junior asal Vietnam, Nguyen Ngoc son Truong di bertempat di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Ia punya tekad besar untuk menggulingkan sang juara yang seusai dengan dia itu. Soal hasil, kita tunggu saja.

Lahir 2 Maret 1990 di Jakarta, sejak kecil Andrean sudah tergila-gila dengan olah raga catur. Perkenalannya dengan olah raga satu ini terbilang unik. Saat itu dia masih duduk di Taman Kanak-kanak. Saat berlangsung acara peringatan 17 Agustus, di daerah tempat tingalnya digelar pertandingan catur. Andrean yang malam itu baru pulang jalan-jalan, heran melihat banyak orang berkerumun tak jauh dari rumahnya.

Lalu dia bertanya kepada ayahnya, Dokter Susilodinata. Ketika sang ayah menjelaskan bahwa pertandingan catur, Andrean langsung menukas: “Ajarin aku dong, Pa.” Padahal ketika itu dia belum melihat seperti apa permainan catur itu. Seolah tak mau buang waktu, malam itu ia lewatkan dengan menonton pertandingan catur hingga selesai. Besoknya ia langsung meminta ayahnya untuk mengajari permainan itu.

Di situ, bakatnya langsung ketahuan. Ia tidak butuh waktu lama untuk belajar. Bahkan, belakangan sang ayah mengaku kerepotan sendiri. Tiap hari, ia mengajak ayahnya main terus. “Itu berlangsung terus selama tiga bulan, sebelum akhirnya saya putuskan menyekolahkan dia di Sekolah Catur Enerpac.”

Di sekolah catur Andrean menemukan keasyikannya. Bahkan ketika dia sudah menginjak bangku SD, menurut amatan orangtuanya, semangat Andrean lebih besar ketika hendak berangkat ke sekolah catur dibandingkan ke sekolah biasa. “Justru dia yang selalu mengingatkan waktu bersekolah catur dia tiba,” jelas Susilodinata. Andrean pergi ke sekolah catur dua kali seminggu. Ia menempuh jarak jauh, dari tempat tinggalnya Bumi Serpong Damai ke Bekasi, lokasi sekolah itu. Namun semangatnya tidak pudar, meski kadang harus naik bis.

Di sekolah catur itu Andrean adalah murid berbakat. Bahkan dia terbukti mampu mengalahkan kakak-kakak kelasnya saat bertanding. “Saat itulah Andrean seperti tahu bahwa catur adalah dunianya. Dia bilang pada saya, dia mau menjadi juara,” papar sang ayah. Tekad Andrean itu tidak main-main. Tiap hari, catur menjadi menu sehari-harinya. Koleksi buku-buku catur kini lebih banyak dibandingkan buku pelajarannya. Tiap hari, terutama setelah mandi sebelum makan pagi, dia selalu membuka-buka buku catur. Tidak heran, kalau Andrean sudah mahir membaca notasi catur seperti membaca buku biasa.

Ketergila-gilaan Andrean pada catur bisa dilihat dari perilakunya yang unik. Beberapa kali, saat bepergian, dia menghentikan mobil ayahnya ketika melihat orang main catur di pinggir jalan. Biasanya dia langsung menonton pertarungan pinggir jalan itu. “Dia tahu mana pertandingan yang baik dan mana yang tidak. Bila dia anggap pertandingan bermutu, dia rela berlama-lama menontonnya,” jelas sang Ayah. Kejadian seperti ini, antara lain, terjadi di Spanyol, ketika dia mengikuti kejuaraan dunia pada 2000 lalu.

Dalam berbagai kesempatan, Andrean mengungkapkan kepada orang tuanya untuk sepenuhnya menerjunkan diri di catur. “Dia mengatakan ingin jadi Grand Master (GM) seperti dua idolanya, Utut Adianto dan Garry Kasparov,” kata Susilodinata. Tentu peluang itu terbuka untuknya. Menurut pengamat catur Bing Sarjono, dengan bakat yang dimiliki Andrean dan pembinaan yang baik serta selalu rutin mengikuti turnamen internasional, “mungkin tak susah bagi dia untuk menjadi GM termuda,” kata dia.

Hal senada dikatakan Utut Adianto. Potensi Andrean sangat besar sekali. “Di antara pecatur Indonesia seusinya, dia adalah bintangnya,” kata dia. Walaupun menurut Utut, ada beberapa kelemahan yang masih harus diatasi Andrean. Misalnya saja dia kerap bingung saat permainan mencapai akhir dan dia terdesak. Dia sering berpikir lama sekali, sehingga waktu habis. “Kuncinya dia perlu banyak latihan dan mendapat pengarahan yang benar,” kata Utut.

Namun ada satu hal yang perlu dicatat: minat yang luar biasa terhadap catur itu tidak membuat prestasi Andrean di sekolah (umum) jeblok. Kini ia menempati ranking tujuh di kelasnya. (Nurdin)

[an error occurred while processing this directive]