![]() |
![]() |
||||
|
Kolom Olahraga Bukan Cuma Melatih Raga
Tapi, proses berjenjang untuk mencapai puncak prestasi dan prestasi puncak ketika menghadapi Asian Games IV tahun 1962 itu, tidak menjadi daur yang terus-menerus menggulir. Pencarian bakat atau talent scouting oleh pengamat maupun pelatih berkaliber ke seluruh nusantara tidak berlanjut. Dulu, tahun 1960-an, puluhan pelatih asing di bawah bendera Peace Corps Amerika dan pelatih Indonesia menyusiri daerah demi daerah di Indonesia. Itulah ketika pelatih atletik Bill Miller terperanjat melihat orang Nias dengan cekatan melompati tumpukan batu yang tinggi. Prestasi olahraga tidak dapat dicapai dengan usaha yang setengah–setengah, apalagi dengan muslihat atau akal–akalan. Dalam olahraga, terutama olahraga prestasi, ada aturan main, ada wasit yang terhormat dan dihormati keputusannya. Ada penghormatan untuk pemenang, dan di sisi lain yang kalah diharapkan kebesaran hatinya menerima kekalahan. Kekalahan bukan kiamat, masih ada kesempatan pada kompetisi, kejuaraan, atau pertandingan berikutnya. Ini merupakan peringatan kepada pemenang, bahwa menang sekarang bukan berarti akan menang seterusnya. Menang atau kalah sama – sama-sama harus tetap berlatih. Inilah semangat olahraga yang indah dan perlu dialihkan dalam kehidupan bermasyarakat yang sehat. Lalu kenapa di Republik Indonesia secara umum prestasi olahraganya merangkak dibandingkan negara lain? Sekurangnya ada empat masalah. Pertama, kita perlu menjawab secara jujur dan sungguh–sungguh apakah olahraga penting atau tidak bagi bangsa dan republik ini. Beberapa indikator dapat diuji, antara lain berapa banyak jam olahraga disediakan dalam kurikulum sekolah. Apa pula isi kurikulum itu. Lalu soal sarana. Adalah kenyataan bahwa bangsal dan lapangan olahraga tidak diharuskan sebagai syarat minimum dalam membangun gedung sekolah. Ihwal kondisi sekolah itu saja sudah menjawab pertanyaan mengapa prestasi olahraga kita meningkat dengan sangat lambat. Semua pakar olahraga sangat percaya bahwa prestasi olahraga harus dimulai dengan pemassalan. Dan pemassalan harus dimulai dari usia muda, sementara itu sumber anak-anak muda banyak terdapat disekolah. Satu contoh kecil, pengalaman saya dengan Dr. Milan Boksha, perancang dan pelatih fisik PSSI Garuda II. Suatu sore dengan muka tegang dan penuh keheranan dia bercerita bahwa kebanyakan atlet PSSI Garuda II tidak bisa melakukan koprol dengan benar. Ketercengangan ini muncul karena di Ceko atau negara–negara Eropa, koprol sudah diajarkan sejak pra-sekolah dan awal sekolah dasar. Menurut Milan Boksha yang doktor ilmu olahraga itu, koprol adalah latihan yang baik untuk koordinasi motorik dan keseimbangan. Pokok masalah kedua, strategi makro dan tindakan mikro yang simpang siur dalam usaha meningkatkan prestasi. Secara makro, sangat mengherankan mendengar suara anggota DPR yang minta agar KONI dibubarkan. Perlu diingat, KONI adalah lembaga swasta, karena itu bisa menjadi anggota International Olympic Committee. Keluhan tentang dana sebetulnya dapat diatasi bila strategi makro secara sungguh-sungguh tulus menetapkan prioritas pembinaan. Bukankah Kenya menjadi terkenal karena ketangguhan pelari-pelari jarak menengahnya? Tindakan pada jenjang mikro pun perlu konsisten dengan strategi makro. Korea Selatan, 20 tahun yang lalu berniat menjadi negara sepakbola dan masuk babak final kejuaraan dunia. Tindakan pada jenjang mikro yang dilakukan Kor-Sel: menciptakan pelatih bermutu sebanyak-banyaknya dengan cara mengirim mantan pemain mengikuti pendidikan kepelatihan di Jerman. Sepulangnya, mereka disebar ke seluruh Korea Selatan, bukan ditumpuk di Seoul atau kota-kota besar lainnya. Saya berpikir, kalau dulu usaha dan dana untuk penataran P4 digunakan untuk melatih calon-calon pelatih mungkin prestasi olahraga kita bisa agak lain ceritanya. Selain itu, di jenjang mikropun dalam segi pengelolaan terjadi penyimpangan-penyimpangan yang menggambarkan ketidakcerdasan para pembina, misalnya pencurian umur untuk pertandingan yunior atau kelompok umur. Tindakan ini jelas menipu diri sendiri dan pada akhirnya menjadi hambatan dalam mencapai prestasi puncak. Masalah ketiga, sikap dan perilaku yang bertentangan dengan kaidah keolahragaan. Salah satunya, ingin cepat jadi, serta berpikir jangka pendek alias berbudaya instant. Filosofi dasar dalam meraih prestasi olahraga adalah mengolah bakat dan tekad secara berjenjang, sistematis dalam jangka waktu tertentu. Ini bedanya dengan membangun gedung atau jembatan; kalau mau cepat, ya, kerjanya dikebut siang malam. Sedangkan program pelatihan yang baik selalu harus berselang-seling antara latihan yang benar dan istirahat yang cukup. Kita bisa bayangkan apa yang bakal terjadi kalau atlet digenjot latihan siang malam tanpa istirahat -- seperti membangun gedung atau jembatan. Masalah keempat, mungkin agak abstrak tapi telah lama menjadi pikiran saya, yaitu kata "olahraga" sebagai padanan kata sport. Prestasi, tidak mungkin dicapai kalau hanya mengandalkan raga. Dunia sport mengenal istilah taktik dalam berbagai cabang. Dan bicara soal taktik, yang paling berperan bukanlah otot melainkan otak. Di Swedia, salah satu butir kurikulum dalam mata pelajaran olahraga adalah latihan relaksasi. Di Korea Selatan, kalau kita masuk ke pusat latihan nasional di Taenung, dapat dibaca jenis-jenis latihan yang dilakukan, antara lain mental relaxation training atau stress management training. Ini jelas-jelas bukan latihan raga tetapi latihan jiwa atau psikologis. Dampak dari kombinasi latihan jiwa dan raga ini dapat dilihat dari merajalelanya pemanah-pemanah Korea Selatan di arena dunia, baik pada jenjang senior maupun yunior. Nah, keempat masalah diatas perlu dipikir ulang secara jernih dan jujur. Selama hal-hal ini belum terselesaikan, prestasi olahraga kita hanya akan berputar secara lambat.
|
|
| copyright @ PDAT-2000 |