[an error occurred while processing this directive]
Mahasiswa Sulsel Minta Polri Usut Meninggalnya Lopa
5-7-2001 / 23:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (PB IKAMI) meminta kepada Polri untuk mengeluarkan visum atas meninggalnya Jaksa Agung Baharuddin Lopa. Ini dikatakan Ketua Umum PB IKAMI Sulsel, HM Suaib Didu, kepada pers saat menunggu kedatangan jenazah Baharuddin Lopa dari Riyadh, Arab Saudi, di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Kamis (5/7) siang.
Permintaan itu, kata Suaib, meninggalnya Baharuddin Lopa telah menimbulkan polemik dalam masyarakat yang mengkhawatirkan dan mencurigai penyebab meninggalnya Jaksa Agung itu. “Kami anggap kematian beliau tidak wajar, karena, setahu kami, beliau tidak pernah menderita sakit,” kata dia. Untuk itu, mereka meminta kepada Kapolri non-aktif Jendral (Pol.) Surojo Bimantoro bersama instansi terkait untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan penyebab kematian Lopa.
Sementara itu, di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta sejak pukul 10.00 WIB sudah dipenuhi oleh petugas keamanan dan karyawan Kejaksaan Agung. Jumlah mereka semakin bertambah ketika pihak keluarga secara beriringan datang ke Bandara pukul 12.20. Tampak di antara mereka yang hadir, selain keluarga masyarakat Sulawesi Selatan dan kerabat dekat Lopa, juga Pangdam Jaya Mayjend TNI Bibit Waluyo, para Kepala Kejaksaan Tinggi seluruh Indonesia, dan Wakil Ketua DPR AM Fatwa.
Fatwa sempat memberi komentar bahwa satu pekan sebelum Lopa berangkat ke Riyadh, Lopa sempat menemuinya di DPR. Saat itu, Lopa mengatakan agar Fatwa tidak keberatan jika Kejaksaan Agung melakukan penyidikan terhadap beberapa anggota DPR untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu. “Beliau memang punya obsesi untuk jadi Jaksa Agung supaya dapat menegakkan supremasi hukum dan memberantas korupsi. Kenyataannya, beliau berhasil sampai akhir hayatnya menjadi Jaksa Agung,” jelas Fatwa.
Wakil Ketua DPR dari F-Reformasi ini berharap, agar pengganti Lopa dapat melanjutkan apa yang sudah direncanakan almarhum, menegakkan supremasi hukum dalam memberantas KKN. “Mungkin penggantinya tidak sekeras beliau, tapi kan cita-cita beliau bisa diteruskan,” kata Fatwa dengan suara parau dan mata berkaca-kaca. (Nurakhmayani)
Berita Lainnya: