[an error occurred while processing this directive]
Warga Indonesia dan Pakistan Ditolak Masuk Meksiko
25-10-2002 / 14:32 WIB
TEMPO Interaktif, Mexico City: Malang tak dapat ditolak. Lima warga Indonesia dan 16 orang Paskitan ditolak masuk Meksiko meski telah mengantongi visa, Rabu (23/10) sore waktu setempat. Begitu tiba di Bandara Udara Mexico City, mereka langsung dijemput petugas imigrasi. Mereka sempat diinterogasi, tiket pesawat balik dirobek, kemudian dideportasi pulang.
Terkait isu terorisme yang saat ini bertiup kencang dari Indonesia dan Pakistan? Tidak jelas. Pasalnya, tidak ada penjelasan gamblang dari petugas imigrasi terkait perlakuan yang tidak menyenangkan tersebut. Sebenarnya, 21 orang itu berangkat ke Meksiko sebagai peserta LEAD (Leaderships for Environment and Development) di Guadalajara, 24 Oktober hingga 4 November 2002.
Wartawan Tempo News Room Budi Putra termasuk peserta program itu dan menjadi korban deportasi. Sedang warga Indonesia lain adalah Jarot Wahyudi (dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), Chandra Wirman (konsultan manajemen di Jakarta), Joko Roesmanto (peneliti dari Pusat Studi Gula Pasuruan) dan Laode Asmar Parsan (PT IKI Makassar). “Kami tidak punya tampang teroris,” ujar Budi masih bisa berkelakar.
Mereka mendarat di Bandar Udara Mexico City sekitar pukul 18.30 dengan menumpang pesawat KLM dari Amsterdam. Beberapa petugas imigrasi ternyata sudah menunggu di pintu masuk. Menurut Jarot, semula rombongan dari Indonesia menganggap petugas imigrasi itu adalah wakil panitia pelatihan yang menjemput. "Ketika mereka minta paspor, langsung saya berikan," ujarnya.
Tak berselang lama, 16 peserta dari Pakistan juga mengalami perlakuan serupa. Lalu, dua puluh satu orang tersebut digiring menuju kantor imigrasi, di kawasan bandar udara. Mereka masih berprasangka perlakuan itu sebagai pemeriksaan biasa karena pukul 21.50 sedianya harus melanjutkan penerbangan ke Guadalajara.
Kecurigaan mulai merayapi benak para peserta LEAD tersebut ketika beberapa orang diinterogasi petugas imigrasi sekitar dua jam. Tanpa penjelasan memadai, seorang petugas imigrasi meminta tiket balik seluruh peserta. "Semula saya menganggap mereka akan memfotokopi tiket. Tetapi mereka justru merobek. Anehnya yang dirobek adalah tiket balik ke Indonesia lewat Amsterdam," terang Joko.
Adegan berikutnya, semua warga Indonesia dan Pakistan itu digiring petugas ke tempat
check-in penerbangan. Mereka masih menyangka akan dipersilahkan melanjutkan penerbangan ke Guadalajara. Kepastian pun tiba. Ternyata, petugas imigrasi justru mengumumkan mereka akan dikirim balik ke Amsterdam malam itu juga. Mereka disuruh naik pesawat KLM yang akan lepas landas.
Sial itu tak bisa dicegah. Setelah terbang lebih dari 26 jam dari Jakarta lewat Singapura-Amsterdam hingga tiba di Mexico City, malam itu juga mereka harus terbang 9 jam lagi untuk kembali ke Amsterdam. "Ini sangat tidak manusiawi karena masalah stamina dan kesehatan. Kami sudah negosiasi agar deportasi ini ditunda, supaya malam ini kami bisa istirahat dulu. Tapi mereka tetap bersikeras memulangkan kami," kecam Jarot.
Perlakuan itu sontak menyulut protes delegasi Indonesia dan Pakistan. Apalagi mereka datang ke Meksiko secara sah, mempunyai visa dan tujuan jelas dengan undangan dari panitia LEAD di negara tersebut. “Ini betul-betul melanggar aturan internasional. Selain visa pada paspor kami dicoret, tiket pun dirobek dan di-chek in tanpa ijin. Foto kami pun diambil tanpa izin. Apa dasarnya mereka memperlakukan kami seperti kriminal?" ujar Djarot geram.
Kecaman sama dilontarkan Mohammad Parvaz dari Pakistan. Ia mempertanyakan mengapa peserta dari India, yang satu pesawat dengan mereka, diizinkan masuk Meksiko tanpa diperiksa? Juga peserta dari Brazil, tiba dengan mulus. "Saya kira pesannya cukup jelas: yang dideportasi adalah peserta dari Indonesia dan Pakistan, dimana kedua-duanya adalah negara muslim. Apalagi sekarang isu-isu terorisme sedang hangat," ujar Parvez.
Ada tiga belas peserta dari Indonesia yang ikut pelatihan LEAD. Namun, delapan orang lain terbang melalui Los Angeles dan langsung menuju Guadalajara. Hari ini, peserta dari Pakistan dan lima orang Indonesia itu masih bertahan di Bandar Udara Schiphol, Amsterdam, Belanda. "Kami akan menyampaikan surat protes resmi pada Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia. Kami menuntut klarifikasi. Ini jelas menghina Indonesia. Kami dideportasi tanpa penjelasan," ujar Chandra Wirman teramat jengkel.(*)
Berita Lainnya: