Edisi 16/03 - 20/Juni/1998

Wawancara Xanana Gusmao:
"Tidak Akan Ada Rasa Benci"

Minggu lalu, Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur, dipenuhi pemuda dan pemudi asal Timor Timur (Tim-Tim). Mereka menjenguk Jose Alexander "Kay Rala Xanana" Gusmao, yang dikenal dengan nama Xanana Gusmao, pemimpin perlawanan rakyat Tim-Tim terhadap "pendudukan" Indonesia selama 24 tahun. Dua hari sebelumnya, Jumat, para pemuda Tim-Tim sempat menduduki kantor Departemen Luar Negeri di Jalan Pejambon, Jakarta Pusat. Ahmad Taufik dari D&R mewawancarai Xanana Gusmao, 51 tahun, yang selalu menyebut Tim-Tim dengan Timor Leste, tentang masa depan Tim-Tim setelah Soeharto turun. Berikut petikan wawancaranya.

Ribuan pemuda berdemonstrasi di Universitas Tim-Tim (Untim), Dili, menuntut kemerdekaan. Jumat lalu, 12 Mei, kantor Departemen luar negeri didemo 1.250 mahasiswa Tim-Tim yang menuntut kemerdekaan. Bagaimana pendapat Anda?

Memang, sudah saatnya untuk bergerak. Dari awal ketika reformasi dimulai, saya sudah bilang kami akan sabar karena kami mengerti keadaan yang begitu rumit di Indonesia. Ini suatu proses yang pernah kami alami, yang intinya sama seperti pada tahun 1974 di Portugal, waktu terjadi perubahan sistem. Karena itu, kami mau menunggu sampai kami dipaksa bergerak dan itulah yang terjadi kini.
Kami tidak bisa menerima pernyataan Habibie bahwa tidak akan ada perubahan sikap pemerintah Indonesia soal Timor Leste. Dalam era reformasi di Indonesia, kami mengharapkan adanya reformasi pikiran, prinsip-prinsip tentang nilai-nilai universal, dan hukum internasional. Indonesia mau meratifikasi Konvensi Internasional tentang Hak Asasi Manusia. Tapi, kok, anehnya, Habibie tidak tahu apa isi Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia. Pikiran-pikiran jahat dan kotor dari rezim Soeharto masih menjadi prinsip-prinsip di pemerintah Indonesia kini. Itu alasan bagi mahasiswa Timor Leste untuk beraksi. Tujuannya, dalam era reformasi di Indonesia, jangan sampai prinsip-prinsip dasar rezim Soeharto tetap ada dan menjadi hambatan terhadap reformasi yang sesungguhnya.
Pemuda Timor Leste menuntut perubahan sikap dari pemerintah Indonesia yang tidak konstruktif dan amoral. Kami sadar masyarakat Indonesia, termasuk kalangan mahasiswa, banyak yang belum tahu tentang masalah Timor Leste.
Aksi-aksi pemuda Timor Leste itu suatu gerakan politik untuk membangun perhatian terhadap masalah Timor Leste di masyarakat Indonesia. Pesan kami, dengan aksi-aksi ini, rakyat Indonesia tidak akan menikmati dengan sungguh-sungguh arti kebebasan dan keadilan kalau pemerintah Indonesia masih tetap menyangkal hak-hak orang ataupun rakyat lain untuk bebas memilih, untuk bebas menentukan nasibnya sendiri. Ini suatu prinsip dasar untuk semua orang yang memperjuangkan demokrasi dan keadilan; untuk semua mahasiswa Indonesia yang sedang berdemo; untuk suatu reformasi total di Indonesia, dan; untuk semua tokoh masyarakat Indonesia yang sedang berpidato tentang reformasi politik.
Reformasi total di Indonesia akan menjadi omong kosong kalau orang Indonesia berteriak tentang reformasi, tetapi tidak mau mengakui kejahatan-kejahatan rezim Soeharto dan tindakan-tindakan tidak manusiawi dari ABRI yang terjadi selama 24 tahun ini (di Tim-Tim).
Pesan para pemuda Timor Leste kepada mahasiswa Indonesia adalah soal Timor Leste merupakan soal hukum Internasional, soal prinsip-prinsip universal, dan soal hak fundamental semua rakyat untuk menentukan nasib sendiri.
Ali Alatas telah berbohong kepada rakyat Indonesia, seperti halnya kekuasaan rezim Soeharto telah berbohong selama 32 tahun. Sudah saatnya untuk menghapus semua ketidakadilan di Indonesia. Kami, orang Timor Leste, bukanlah musuh Indonesia, bukan anti-Indonesia. Kami hanya minta dikembalikan hak-hak kami untuk menentukan nasib sendiri. Apa yang terjadi di Timor Leste adalah invasi militer, pembunuhan massal, penyiksaan, penculikan, pemerkosaan, dan sebagainya.

Menurut Anda, bagaimana peluang kemerdekaan Tim-Tim sekarang ini dibanding pada zaman Soeharto?

Dari dulu, kami tidak pernah kehilangan harapan. Kami yakin suatu waktu kami akan menang. Sejarah telah membuktikan keberhasilan semua perjuangan antikolonialisme. Dulu, pihak Jakarta yakin, waktu bisa menjadi kondisi yang melemahkan perjuangan kami. Tapi, bagi kami, waktu adalah faktor penentu. Karena, semua rezim diktatorial dan kolonialisme tidak akan bertahan selama-lamanya. Memang, peluang sekarang lebih bagus daripada zaman Soeharto. Tetapi, hambatan-hambatan untuk mengingkari hak-hak kami tetap ada. Kami tidak begitu berharap terhadap pemerintah Habibie, apalagi ABRI tetap ada di belakang untuk mengatur kehidupan bangsa Indonesia.
Walau begitu, kami akan tetap berjuang. Kami tahu bahwa proses kemerdekaan Timor Leste akan melangkah bertahap, untuk menjaga kepentingan semua pihak yang terlibat dalam masalah ini.

Bagaimana masa depan Tim-Tim? Apakah masih sama dengan peace plan yang pernah Anda tawarkan dulu?

Ya, peace plan itu adalah garis besar pemikiran-pemikiran yang mengutamakan penyelesaian yang damai dan jujur. Sebagai garis besar, poin-poin pokok tetap menjadi tujuan, supaya tidak ada satu pihak pun yang merasa dirugikan. Kondisi-kondisi yang akan datang bisa mengubah aspek-aspek tertentu atau menciptakan suatu nuansa yang baru. Untuk menyelesaikan masalah Timor Leste dengan sungguh-sungguh, semua akan bergantung pada pemerintah Indonesia. Dan, kami akan memperhatikan kepentingan-kepentingan Indonesia sendiri. Karena, rakyat Maubere mau memelihara hubungan persaudaraan dengan rakyat Indonesia.

Kalau Tim-Tim jadi negara sendiri, apakah bisa dicapai rekonsiliasi antarpartai? Misalnya, bisakah Fretilin kemudian menerima Apodeti dan UDT yang tokoh-tokohnya dikenal pro-integrasi? Bukankah nasib orang-orang pro-integrasi itu tak disebut-sebut dalam peace plan Anda?

Rekonsiliasi adalah tujuan politik dalam perjuangan kami dan, dalam istilah "resistansi", banyak orang pro-integrasi telah bergabung walaupun tidak diketahui. Rekonsiliasi adalah suatu kewajiban politik. Kami telah banyak belajar dari perjuangan di negara-negara Dunia Ketiga, ketika rekonsiliasi bukanlah suatu kompromi politik serta kekacauan dan penderitaan tidaklah bisa dihindari. Karena itu, rakyat Timor Leste selama 24 tahun ini telah dididik untuk menghapuskan rasa benci dan dendam terhadap siapa pun.

Apakah Anda bisa menggambarkan situasi politik masa depan Tim-Tim jika jadi negara sendiri? Apakah perang saudara akan terulang lagi? Bagaimana mengatasinya?

Saya betul-betul percaya bahwa rakyat Timor Leste sudah cukup dewasa dalam masalah perang. Saya betul-betul percaya bahwa rakyat Maubere akan melupakan semua pengorbanan dan penderitaan selama ini dan akan mempersiapkan diri untuk membangun Tanah Air Timor Leste, untuk membangun rasa kasih sayang, saling hormat, dan saling membantu di antara semua warga Timor Leste. Rakyat Maubere akan menjadi aktor utama kedamaian dan pembangunan di Bumi Timor Leste, bukan politisi-politisi.

Bagaimana pengaruh Anda sendiri pada gerakan-gerakan orang-orang Tim-Tim pro-kemerdekaan termasuk mahasiswa? Apakah mereka masih mengakui Anda sebagai pemimpin pro-kemerdekaan?

Kalau saya jawab, nanti dikira sombong.

Apakah Ramos Horta juga masih menganggap Anda sebagai pemimpin Conselho Nacional Recistencia de Maubere (CNRM)?

Ramos Horta adalah orang yang paling dekat dengan saya dalam soal visi dan strategi perjuangan.

Apa peran Anda dalam pembentukan CNRM dulu? Bagaimana dengan faksi-faksi pro-kemerdekaan di luar CNRM? Seperti Konvergacia Nacional atau kelompok Abilio Araujo?

Dari 23 April hingga 27 April lalu, telah diadakan suatu konvensi nasional di Portugal. Di konvensi itu CNRM (M=Maubere) telah diubah menjadi CNRT (T=Timorese). Di CNRT, semua komponen sosial-politik, baik di Timor Leste maupun di luar negeri, telah bergabung dalam rangka menyatukan perlawanan kami. Kelompok Abilio Araujo telah diundang, tapi mereka menolak. Tentunya, kelompok-kelompok yang mau integrasi tidak dapat tempat di CNRT.

Benarkah Anda dulu teman Francisco Lopez da Cruz --Dubes Keliling RI-- sewaktu di Seminari Dili?

Tidak. Dia lebih dulu dari saya. Saya satu angkatan dengan Nicolau Lobato (panglima perang Fretilin yang ditembak mati pasukan ABRI pimpinan Yunus Yosfiah, kini Menteri Penerangan). Saya hanya empat tahun di Seminari. Saya keluar karena ingin kawin. Dulu, di seminari yang dikelola Ordo Jesuit itu, murid yang sudah masuk tidak bisa keluar lagi. Harus jadi pastor. Tapi, saya nekat keluar.

Apakah Anda bisa memaafkan orang-orang seperti Abilio Osorio Soares dan Fransisco Lopes da Cruz? Jika Tim-Tim jadi negara sendiri, bagaimana kira-kira nasib mereka?

Jelas, bukan bisa, tapi harus, demi kepentingan bangsa dan negara. Tidak akan ada rasa benci. Hanya perasaan kasihan terhadap mereka karena telah menjadi budak secara buta dan bodoh dari kolonialisme.

Majalah D&R, 20 Juni 1998

Copyright © PDAT