![]() |
Edisi 09/02 - 03/Mei/97 |
| Nasional |
Wawancara Goenawan Mohamad :
"TEMPO Telah Menjadi Simbol"*IA konsisten mewujudkan standar jurnalisme yang tinggi, menyebarkan informasi dan kebebasan berekspresi... dan memperjuangkan Indonesia yang benar-benar demokratis. "
Itulah antara lain rekomendasi komite seleksi di Yayasan Nieman untuk pemenang Hadiah Louis Lyons tahun ini.(Lihat Tulisan: Dari Vietnam sampai Sarajevo) Rupanya, penilaian itu diterima oleh yayasan tersebut dan dibuatlah siaran pers bahwa Goenawan Mohamad, 56 tahun, mantan Pemimpin Redaksi TEMPO yang dibredel, berhak memperoleh Hadiah Louis Lyons untuk tahun 1997, pekan lalu.
Hadiah itu akan disampaikan pada 6 Mei pekan depan di Universitas Harvard, Cambridge -- kampus yang menjadi tempat Goenawan selama sembilan bulan mengikuti program Nieman Fellowships pada tahun 1989-1990.
Tampaknya, Yayasan Nieman terkesan pada hal-hal yang dilakukan Goenawan di bidang jurnalistik, antara lain, meski tanpa TEMPO. Ia tetap berusaha menulis, antara lain di majalah ini dan di sebuah surat kabar Jepang, dan kadang-kadang di media alternatif Suara Independen dan majalah Internet TEMPO Interaktif. Karena kepeduliannya terhadap mutu jurnalistik Indonesia umumnya, ia pun mendorong penulisan buku pegangan menulis buat wartawan TEMPO, yang akhirnya diterbitkan dan dijual untuk umum. Ia pun begitu prihatin terhadap sensor karya seni; dan karena itu, bersama teman-temannya, ia mendirikan galeri alternatif -- sebuah galeri untuk pameran seni rupa, diskusi, pembacaan puisi, dan sehagainya.
Berikut wawancara tertulis D&R dengan Goenawan, menjelang ia memenuhi undangan sebuah negara di Eropa, sebelum ke Amerika untuk menghadiri penerimaan hadiah itu.
Anda yang dibredel yang terpilih mendapat Hadiah Louis Lyons. Jadi, apa sebenarnya kelebihan TEMPO?
TEMPO, di luar kehendaknya sendiri, telah dipilih oleh banyak kalangan menjadi sebuah lambang, yakni lambang dari sebuah korban, yang, walaupun terinjak, tidak takluk, tidak mati-mati. Setelah TEMPO dibredel, para wartawannya membawa perkara itu ke pengadilan tinggi tata usaha negara dan tidak dengan serta masuk ke media yang tidak mandiri. Karena .sikap yang seperti itu agaknya belum pernah ada, mungkin TEMPO dengan mudah jadi lambang. I.ambang memberikan inspirasi dalam masa yang tanpa inspirasi ini.Namun, bagaimanapun, sebuah lambang -- berbeda dengan sebuah realitas -- hadir sebagai sesuatu yang utuh, murni, koheren. Sebagai realitas, sifat utuh, murni, dan koheren itu tidak selamanya ada padanya, dan memang muskil.
Dengan demikian, yang terjadi bukan saja sekali berarti, sudah itu mati, tapi sekali mati, sudah itu berarti. Artinya juga, TEMPO yang telah jadi simbol itu memberi kita kewajiban: bagaimana menjadi berarti dan dengan demikian mengatasi rasa takut untuk mati, bahkan mengatasi mati itu sendiri.
Ada pelesetan pepatah, "Buruk muka, pers dibelah" (dari Taufiq Ismail), apakah itu kira-kira yang menimpa TEMPO, yang menurut siaran pers dari Harvard itu TEMPO dibredel setelah memberitakan korupsi dalam pembelian kapal bekas Jerman Timur?
Pers adalah sebuah media yang dicetak. Percetakan memberikan kesan: penyebaran yang luas dan dengan demikian suatu kekuatan; dan percetakan juga memberikan kesan bahwa apa yang sudah tercetak itu final, tak bisa berkembang dan berubah. Itu sebabnya banyak orang gentar kepada pers. Tapi, yang sering terjadi di Indonesia, "pers dibelah" karena seseorang merasa sakit hati karena dikritik -- dan tidak karena luasnya pengaruh kritik itu.Singkatnya: perasaan subyekif belaka.
Belakangan muncul istilah "pers alternatif". Menurut Anda, kenapa hal itu sampai muncul dan apa pentingnya pers alternatif bagi Indonesia sekarang? Bagaimana dengan soal pers berpihak dan tak berpihak?
Pers alternatif adalah pers yang hadir tanpa ikut dalam sistem pers yang sekarang -- yang pangkalnya adalah perizinan dan intervensi pemerintah ke dalam kehidupannya. Saya kira pers yang seperti itu ada kini -- dan saya kira itu kelak akan jadi bagian sejarah Indonesia yang gemilang. Misalnya Suara Independen yang terbit tanpa Surat Izin Usaha Penerbitan Pers dan memuat hal-hal yang tidak akan dimuat oleh media massa yang ada dalam sistem. Memang, distribusinya terbatas, tapi kehadirannya cukup berarti.Sayangnya, ada pers alternatif yang masih terasa seperti pamflet. Itu mungkin karena kondisi di Indonesia sekarang, ketika berpikiran berbeda menjadi tambah sulit, sehingga ada sikap memberontak yang meledak. Sebenarnya, pers memang mau tak mau memihak, tapi yang lebih penting adalah ini: dalam memihak pun harus ada selalu sikap adil dan harus ada komitmen bahwa fakta tidak boleh dimanipulasikan.
Seorang tokoh pers sering bilang, yang penting sekarang adalah profesionalisme, bukannya keberanian. Menurut Anda, apakah TEMPO dulu termasuk berani?
Saya dengar ada seorang tokoh pers yang mengatakan sekarang ini yang penting bukan keberanian, tapi profesionalisme. Tapi, bagaimana kalau karena dorongan profesionalisme itu orang harus menggali lebih dalam sebuah fakta, melakukan investigasi, dan menampilkannya? Bukankah di situ profesionalisme melibatkan sikap berani? Janganlah kita terperdaya dan mempertentangkan antara profesionalisme dan keberanian.TEMPO sebenarnya bukan majalah yang "berani". Tapi, TEMPO ingin profesional dan akhirnya itu menyangkut sikap tidak mau seperti kerbau dicocok hidung, yang sering dilihat sebagai "keberanian". Di sebuah lingkungan yang serba ketakutan, mengernyitkan dahi saja sudah bisa dianggap nekat.
Menurut Anda, profesionalisme pers kita sekarang bagaimana?
Saya tidak tahu bagaimana mengukur meningkat atau menurunnya profesionalisme. Dan, apa yang disebut " pers yang sekarang" itu tidak tunggal. Bahkan, dalam satu surat kabar atau satu majalah sering bisa kita temukan sesuatu yang tidak "satu warna''. Jadi, sukar menjawab pertanyaan itu. Yang saya tahu, masih banyak wartawan yang tidak mau jadi hanya kambing congek dan bermalas-malas dan sibuk dengan ketakutan. Contohnya Udin dan kawan-kawan Udin di Yogya.*)D&R, 3 Mei 1997
| Copyright © PDAT |